Bos Duda

Bos Duda
Bab 21


__ADS_3

Diharja beranjak dari sofa, ingin menuju ke ruangan yang tersembunyi di balik rak buku.


"Pah!" cegah Doni, ingin menghentikan langakah Diharja.


Doni bingung bagaimana jadinya, jika papanya memasuki ruangan pribadinya itu. Sedangkan Sinta berada di dalam.


"Pah," panggil Doni lagi.


Langkah pak Diharja sudah semakin mendekati ruangan itu. "Ini yang Papa cari?" Doni menunjukkan benda persegi berwarna merah yang didalamnya terdapat cincin bertahtakan berlian.


Pak Diharja berhenti dan menoleh, "Ah, itu dia. Kenapa ada disana kemarin Papa meletakkannya di kamarmu," ujar pria paruh baya itu.


Doni merasa lega, karena pak Diharja tidak jadi memasuki ruangan pribadinya. Untung tadi pagi dia membawa benda itu keluar.


"Aku tidak merasa mempunyai atau membeli benda ini, jadi aku bawa kesini saja," jelas Doni, "Apa ini untuk, Mama?" tanya Doni.


Pak Diharja tersenyum "Ya. Aku sudah lama tidak memberi Mama hadiah."


Sungguh romantis sekali pak Diharja. Membuat Doni tersenyum melihat keharmonisan papa dan mamanya. Duda itu merasa beruntung terlahir dari keluarga yang sangat bahagia.


"Kau romantis sekali, Pah!"


Pak Diharja menepuk bahu anaknya. "Walau usia Papa sudah tidak muda lagi, tapi kalau urusan yang seperti ini papa tidak kalah dengan pemuda."


Doni tersenyum dan mengangguk. Papanya memang sangat romantis mungkin dia harus banyak belajar dari pak Diharja.


"Oh, iya. Dimana pacarmu? tadi Papa keruangannya dia tidak ada."


"Eh!" Doni teringat kekasihnya masih terkurung didalam ruang pribadinya, "Em... Dia tadi ijin keluar sebentar," ujar Doni berbohong.


Pak Diharja mengangguk, "Ya sudah. Papa langsung pulang," pamit pak Diharja, "Papa kesini hanya untuk mengambil ini," tunjuk pak Diharja pada kotak cincin.


Pria paruh baya itupun melangkahkanย  kaki keluar dari ruangan Doni. Setelahย  pak Diharja menghilang dibalik pintu, Doni langsung ke ruangan pribadinya.


Pria itu melihat Sinta sudah tertidur di atas kasur dengan damai.


Karena sudah tidak ada pekerjaan lagi Doni ikut merebahkan badannya di samping Sinta. Sebelum itu, Doni mengirim pesan terlebih dahulu kepada Bagas. Jika dirinya sedang tidak ingin diganggu.


Mengangkat perlahan kepala Sinta dan memindahkan ke lengan, menjadikannya sebagai bantal. Doni tidur sambil memeluk Sinta dari belakang.


"Kau tau? sebelumnya aku tidak pernah merasa sangat menginginkan seorang wanita sampai seperti ini," gumam Doni.


"Bahkan dengan mendiang istriku aku tidak pernah segila ini." Hanya terdengar dengkuran halus dari Sinta.


Kemudian tidak terdengar lagi suara Doni, pria itu ikut terlelap dengan memeluk Sinta dari belakang.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Doni terbangun lebih dulu, saat membuka mata posisi mereka sudah berpelukan. Ada pergerakan kecil saat Doni mengamati wajah Sinta.

__ADS_1


Gadis itu semakin mempererat pelukan dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Doni.


"Nyaman sekali." Gumaman Sinta masih bisa didengar Doni, membuat pria itu tersenyum.


"Kalau begitu kita menginap saja disini." Suara serak Doni membuat tubuh Sinta menegang.


Gadis itu menarik wajah dan mendongak untuk melihat si pemilik suara. Mata Sinta mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya. Saat kesadarannya sudah kembali, gadis itu menenggelamkan kembali wajahnya di dada bidang Doni.


Pria itu terkekeh melihat tingkah Sinta. Gadis itu bisa menempatkan sikap manja dan dewasanya di waktu yang tepat.


"Hey! kau kenapa?" tanya Doni. Pria itu sedikit melonggarkan pelukan untuk melihat wajah Sinta.


"Aku malu," ucap Sinta. Gadis itu masih menutupi wajahnya dengan ke dua tangan.


Sinta sebenarnya terkejut saat berada satu ranjang dengan Doni. Tapi dia merasa sangat malu saat Doni melihat muka bantalnya. Apalagi saat terbangun Sinta berada dalam pelukan Doni. Bukan... gadis itulah yang memeluk Doni.


Doni mengangkat alis, "Tadinya 'ku pikir saat terbangun aku akan di tendang," cibir Doni.


Sinta memukul bahu Doni, "Jangan menggodaku seperti itu," gadis itu mendengus dan melipat bibirnya.


Doni tertawa melihat ekspresi Sinta, "Aku baru tau kalau kau punya sifat seperti anak kecil," ujar Doni sambil menarik hidung Sinta.


"Isshh..." Gadis itu mencebik saat Doni selesai menarik hidungnya, "Sudahlah, mari kita pulang."


Sinta mengelus hidungnya seraya beranjak dari ranjang. Saat Doni akan mengikuti Sinta, tiba - tiba gadis itu berbalik dan menatap Doni.


Gadis itu teringat sesuatu, "Kau lihat ini?" Sinta menunjuk lehernya yang terdapat banyak kissmark disana.


"Kenapa, kau mau lagi?" ucap Doni tanpa rasa bersalah.


Sinta mencebik, "Kau tega. Kenapa membuat banyak sekali tanda ini?"


Doni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat banyak sekali kissmark di leher Sinta. Dia tidak bisa menahan diri jika di dekat Sinta. Saat tidak sengaja penglihatannya beralih ke kancing baju Sinta yang sedikit terbuka, ternyata disana juga ada tanda yang dia buat.


"Apa, disana juga?" Tunjuk Doni ke arah dada Sinta.


Sinta melotot dan langsung menutupi dadanya dengan ke dua tangan.


'Kenapa dia bertanya seperti itu? Membuat aku malu saja.'


"Aku mau pulang," ujar Sinta.


Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Doni. Dia terlalu malu untuk membahas aktivitas yang mereka lakukan tadi.


"Apa dia malu? padahal dia tadi terlihat menikmati?" ucap Doni sambil memandang punggung Sinta.


Setelah keluar dari ruangan Doni, Sinta berjalan dengan sedikit mengendap. Padahal di lantai itu tidak ada karyawan lain.


Gadis itu mengambil syal, setelah sampai di ruangannya. Melingkarkan disepanjang leher untuk menutupi kissmark uang dibuat Doni.

__ADS_1


"Kalau begini pasti tidak terlihat." Gumam Sinta sambil merapikan syal yang dia pakai.


Saat menuju lift disana sudah berdiri Bagas dan Doni. Mereka berbincang sambil menunggu lift terbuka. Seketika perasaan Sinta mulai tidak enak. Bagas pasti akan bertanya seperti wartawan.


"Kau mau kemana?" Panggil Doni saat melihat gadisnya akan berbalik arah, membuat Sinta urung untuk berbalik.


"Tidak. Tadinya aku pikir ada yang tertinggal."


Didalam hati, sebenarnya Sinta mengumpat kenapa Doni tidak bisa di ajak kerja sama.


"Mbak Sinta sakit?" tanya Bagas, seraya menatap Sinta yang memakai syal di sore yang sedikit panas.


Mereka semua sudah memasuki lift, Sinta tau dari tadi Bagas sudah mengamatinya.


"Aku hanya sedikit kurang enak badan," jawab Sinta.


"Padahal tadi pagi terlihat baik-baik saja." Perasaan Sinta mulai tidak nyaman. "Apa karena tadi pagi aku ..."


"Permisi!" Sinta memotong ucapan Bagas karena Pintu lift sudah terbuka.


Gadis itu merasa lega, karena bisa keluar sebelum Bagas menyelesaikan ucapannya. Sinta tahu jika Bagas akan membahas insiden tadi pagi, saat Sinta jatuh terduduk di pangkuan Doni.


Kini Bagas berjalan keluar bersamaan dengan Doni, saat Bagas akan membuka mulutnya lagi, Doni sudah menginterupsi.


"Aku duluan!" ucap Doni.


Pria itu mempercepat langkahnya karena dia malas meladeni pertanyaan Bagas.


"Kenapa mereka berdua terlihat aneh?" gumam Bagas, "Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dariku?"


Bersambung...


๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน๐Ÿƒ๐ŸŒน


Doni : Thor, bisa nggak Bagas di buat gak muncul di episode selanjutnya.


Author: Ya. Nanti bakal gue umpetin Si Bagas.


Bagas : Tega lu thor. Awas aja gue ajakin emak-emak buat demo nih.


Author : Kagak bakal mau emak-emak. Lagi di suruh Stay at home ama Pak Presiden.


Bagas : Kau kejam...(Bagas nangis guling-guling)


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga kalian semua selalu di berikan kesehatan.


Terimakasih sudah memberikan tanda sayang kalian kepada author dengan menyukai dan menjadikan karya saya sebagai bacaan favorit kalian.


Love u gaes...

__ADS_1


__ADS_2