
Sudah seminggu ini ingatan Doni kian memburuk, Doni melupakan orang di sekitarnya secara random. Bahkan dia tidak ingat dengan namanya sendiri. Sinta yang melihat kondisi suaminya sangat memprihatinkan berjani pada dirinya, bahwa dia akan mendampingi Doni sampai kapanpun.
Hari ini Sita memutuskan untuk berkunjunng ke rumah Doni. Dia membawa bekal makanan ke sukaan anaknya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Doni canggung karena tidak mengenali Sita.
Sita meremat tempat bekal yang dia bawa, "Aku ingin bertemu dengan Sinta," ujar Sita dengan sedih.
"Sinta sedang keluar membeli bahan makanan," jelas Doni. "Silhkan masuk tunggu saja didalam."
Doni memepersilahkan masuk, dia mengira ibunya adalah tamunya Sinta.
Sita menatap biskuit yang berada di atas meja.
"Maaf, mejanya berantakan," ujar Doni yang mengerti arti tatapan Sita.
"Aku membawa makanan." Sita meletakkan bekal yang dia bawa ke atas meja. Perkiraannya tepat membawa makanan untuk anakanya, Doni sedang lapar saat ini.
Sedangkan Sinta yang baru pulang dari swalayan, melihat mereka berdua sedang menghabiskan waktu bersama. Mereka terlibat obrolan Sinta memutuskan pergi, agar ibu dan anak itu menikmati kebersamaannya.
Sita menghidangkn makanan itu di atas meja.
"Masakanmu sangat enak," puji Doni saat mencicipi masakan Sita. "Makanan ini seperti masakan ibuku."
Sita menahan air matanya yang akan keluar. Dia memperhatikan Doni yang makan dengan lahap. Tabi tiba-tiba Doni berhenti, kemudian menatap ibunya.
Mata Doni berkaca-kaca, "Maafkan aku yang melupakanmu, Ma." Doni meraih tangan Sita untuk kemudian dia cium.
Sita mengusap kepala anakanya dengan perasaan tidak menentu.
Dengan suara bergetar Doni pamit ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sebentar.
"Kau terlihat cantik hari ini, Ma," ujar Doni memperhatikan penampilan ibunya.
Doni sudah kembali dari kamar mandi, kini mereka sedang duduk berhadapan.
Sita tersenyum. "Diana yang memilihkan bajunya."
"Kakak memang bisa di andalkan." Doni merasa lega jika dia mati masih ada Diana yang selalu ada di aamping orang tuanya.
"Maafkan aku belum menjadi anak yang baik." Doni merasa menjadi anak yang buruk.
Sita menggelengkan kepala sambil menahan air matanya yang akan jatuh.
"Kau anak terhebat yang Tuhan berikan untuk Mama, Nak."
Yang di katakan Doni tidaklah benar. Dia anak yang sangat baik, dan penurut. Sewaktu Doni kecil sampai remaja tidak pernah sedikitpun Doni merepotkan Sita dan Diharja.
"Jika aku di beri kesempatan lagi, aku akan mejadi anak yang berbakti untukmu, Ma. Aku tidak akan menjahili Kak Diana lagi."
Wajah Doni sudah berderai air mata.
"Maafkan aku ... maafkan aku, Ma."
Sita tersenyum lembut ke arah Doni, "Terima kasih kau sudah menjadi anakku. Rumah Mama akan selalu terbuka untukmu. Kami akan selalu mengingatmu. Saat matahari terbit, saat hujan turun atau angin yng berhembus Mama akan menganggap kau sedang berada di sekitar kami."
"Aku sangat bersyukur mempunyai ibu sepertimu."
__ADS_1
Doni menagis di hadapan Sita. Dia mencoba tersenyum, tersenyum untuk ibu yang selama ini telah merawatnya tanpa pamrih.
***
Doni menatap Sinta yang sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam lemari. Dia tersenyum melihat bibir Sinta yang mengerucut. Istrinya itu sedang kesal karena Doni tidak pernah rapih saat mengambil pakaian.
Doni yang sedang tiduran di atas kasur tidak tahan lagi untuk menggoda istrinya.
"Kau tau? saat ini wajahmu tidak jauh berbeda dengan bebek."
Sinta langsung berhenti dari kegiatannya. Dia langsung menatap ke arah suaminya.
"Bagian mana yang membuatku seperi bebek?" Tanya Sinta tidak percaya.
"Bibirmu saat maju. Itu terlihat sangat jelek," ujar Doni dengan wajah ngeri.
Sinta langsung kesal dengan candaan Doni barusan. "Baiklah. Jangan sampai kau mencium bibirku lagi."
Sinta kembali merapikan baju.
Doni bangkit dari tidurnya dan memeluk Sinta dari belakang.
"Bagitu saja kau langsung marah. Aku hanya bercanda." Doni menyandarkan dagunya di bahu Sinta.
"Aku sedang tidak ingin bercanda." Sinta menatap suaminya dari pentulan cermin lemari yang baru saja dia tutup.
Doni langsung membalik tubuh Sinta untuk menghadap ke arahnya.
"Kau bisa menyetir, kan?" tanya Doni. "Aku ingin memenuhi janjiku."
Sinta menaikan alis, "Janji?" dia sudah lupa jika Doni mempunyai janji.
***
Doni dan Sinta pergi ke villa yang pernah mereka datangi dulu, dan membawa istrinya ke pasar tradisional yang berada di sana.
"Kau senang?" tanya Doni yang melihat wajah istrinya lebih cerah.
Mungkin Sinta memang butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranya.
Sinta mengangguk. "Kau tau saja, jika aku sedang ingin berlibur."
Doni ikut tersenyum melihat Sinta yang juga sedang tersenyum. Sepanjang jalan mereka bergurau, melupakan kesedihan yang mereka rasakan. Berbelanja makanan tradisional layaknya pasangan pada umumnya.
Sesekali mereka juga bercanda dengan pemilik warung yang sedang menjajakkan dagangannya.
Setelah dari pasar Doni membawa Sinta ke padang rumput yang tempatnya tidak jauh dari villa. Di depannya nampak lautan luas yang menambah indah tempat ini.
Ke dua orang tua Doni dan Diana sudah berada di sana, mereka melambaikan tangan ke arah Sinta dan Doni. Tidak lupa ada Bagas dan Gea yang sedang bermain kejar-kejaran.
Senyum Sinta merekah, melihat keceriaan mereka. Sinta menebak jika Gea dan Bagas menjalin hubungan.
"Kenapa mereka sudah ada disini?" tanya Sinta yang tidak tahu.
"Aku memang sengaja tidak memberitahu."
Kemudisn Doni menggenggam tangan Sinta. Mereka berjalan menuju pohon besar, yang tumbuh tidak jauh di sana. Duduk berdampingan nenikmati indahnya pemandangan dan semilir angin yang berhembus menerpa dedaunan.
__ADS_1
"Aku mempunyai mimpi ...." Doni mentapa ke dua orang tuanya yang sedang duduk berdampingan. "Mempunyai keluarga yang bahagia seperti mereka."
"Mari kita wujudkan itu." Sinta menatap Doni dan menggenggam ke dua tangan suaminya.
Doni hanya tersenyum tidak berniat untuk menjawab. Tangannya bergerak untuk membenahi rambut Sinta yang tertiup angin. Kemudian Doni menempelkan dahinya ke dahi Sinta.
"Aku mencintaimu," bisik Doni yang masih bisa di dengar Sinta.
Sint tersenyum, mengalungkan tangannya di leher Doni. "Aku juga mencintaimu."
Sinta kemudian mendekatkan bibirnya mencium bibir Doni untuk beberapa saat. Doni tersenyum ketika Sinta menarik bibirnya.
"Aku mengantuk."
Sinta menoleh untuk memandang suaminya. Doni terlihat kelelahan.
"Tidur disini," Sinta menawarkan pudaknya untuk sandaran.
"Aku tidak mau," tolak Doni. "Kau pasti akan mbangunkanku nanti."
"Aku janji tidak akan membangunkanmu, jika sudah tidur."
Akhirnya Doni menurut Dan menyandarkan kepalanya di bahu Sinta.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Sinta untuk yang ke sekian kali.
"Belum."
"Apa aku boleh bertanya?" tanya Sinta.
"Tanyakan saja."
"Kenapa dulu kau mau menikahiku? Apa karena aku cantik."
"Tentu saja. Jika tidak cantik mana mungkin aku mau."
Kemudian mereka Diam untuk beberapa saat.
Sampai pada suatu titik Sinta bertanya kembali. Tapi Doni tidak menjawabnya.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak akan memintamu selalu di sampingku."
Sinta mendesah.
"Kau pasti lelah.... sudah melewati hari yang sangat panjang. Lupakan aku. Lupakan Diana, ibumu dan ayahmu. Jangan memikirkan apapun tidurlah dengan tenang."
Sinta menatap langit dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terimakasih untuk segalanya, Mas Doni."
***
Sinta berjalan ke ruang tengah dimana dia biasa mengahabiskan waktu bersama Doni.
"Aku harus pulang ke kampung. Kau jangan khawatir, aku tidak akan lama disana. Jaga dirimu baik-baik, Mas Doni."
Sinta tersenyum menatap foto Doni yang sedang tersenyum ke arahnya. Kemudian menarik koper besar dan berjalan keluar meninggalkan rumah besar yang di bangun Doni.
__ADS_1
End.