
Sinta mengerjapkan mata saat sinar mentari pagi menerpa wajahnya. Dia menggeliat merasakan tubuhnya sakit.
"Euuhhhh," lenguh Sinta.
Wanita itu, perlahan membuka matanya dan mentap langit-langit kamar, merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sinta membuka matanya lebar dan menajamkan pendengarannya, saat terdengar gemericik air dari arah kamara mandi.
"Siapa yang masuk ke kamarku?" gumam Sinta yang belum beranjak dari tiduranya.
Kreak!
Suara pintu kamar mandi terbuka.
Sinta menoleh dan membelalakkan matanya lebar, saat Rama keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Perut six pack Rama menjadi pemandangan pertama untuk Sinta, sebelum pria itu mengucapkan salam.
"Selamat pagi," ucap Rama sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sinta menarik nafas dalam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sinta.
"Mandi," jawab Rama santai. "Memangnya kenapa?"
"Kau tidak sopan sekali masuk ke kamar orang tanpa permisi," hardik Sinta.
Rama terkekeh. Kemudian memposisika ke dua tangannya di pinggang. Pria itu menatap sinta lurus-lurus. Sedangkan Sinta menatap ke arah lain, dia menghindar agar tidak memandang tubuh basah Rama yang hanya mengenakan handuk.
"Apa kau melupakan yang kita lakukan semalam?" tanya Rama yang masih berdir.
"Apa maksudmu?" Sinta tidak nengerti dengan apa yang di ucapkan Rama.
"Kau bisa lihat ini kamar siapa?"
Sinta menatap kesekeliling kamar dan dia menemukan perbedaan.
Wanita itu kemudian sadar jika dia sedang tidak berada di kamarnya.
Sinta berpikir apa yang dia lakukan semalam sehingga bisa berada di kamar Rama.
"Apa maksudmu, dengan apa yang kita lakukan semalam?" ulang Sinta.
"Jika sedang berbicara tolong lihat lawan bicaramu," ujar Rama saat Sinta menatap ke arah lain. "Kau membuatku tersinggung."
Sinta menghela nafas kesal. Tapi kemudian dia menuruti perintah Rama.
"Cepat katakan," perintah Sinta.
"Coba kau ingat-ingat lagi kejadian semalam. Aku tidak mau kau menuduhku mengarang, jika aku menceritakannya langsung."
Sinta diam. Kemudian mengingat kembali kejadian semalam. Potongan-potongan adegan di mana dia setelah minum air, yang dia kira teh pun bemunculan. Seketika itu, Sinta sadar jika yang dia minum adalah minuman yang mengandung alkohol.
"Kenapa semalam tidak aku cek dulu minuman itu?" gumam Sinta.
Sinta meringis saat mengingat adegan ciumanya dengan Rama.
"Lalu apa ada lagi?" tanya Sinta yang tidak bisa mengingat kejadian selanjutnya.
"Tentu saja," jawab Rama. "Untuk apa aku mandi di pagi hari jika tidak ada kejadian selanjutnya."
"Apa kita melakukannya?" tanya Sinta hati-hati.
Dia khawatir, saat tidak sadar dia melakukan sesuatu di luar kontrol. Setengah sadar saja dia sudah memaksa Rama berciuman. Sinta tidak berani memikirkannya lagi.
Sinta menghela nafas berat saat Rama mengangguk.
"Kau tau? ini pengalaman pertamaku. Semalam kau sangat--"
"Stop!"
Sinta memotong kalimat Rama sebelum pria itu menyelesaikannya.
__ADS_1
"Jangan kau lanjutkan lagi. Aku harap kau melupakan kejadian di antara kita semalam."
Setelah itu, Sinta turun dari ranjang dan langsung menuju pintu keluar.
"Kenapa dia sangat aneh?" gumam Rama. "Aku hanya ingin berkata, jika dia semalam muntah sangat banyak."
Semalam saat Sinta tidur, Rama membawanya menuju penginapan yang dia tempati karena tidak menemukan kunci penginapan milik Sinta. Dia muntah di jas milik Rama sebelum kaki pria itu menginjak kamar. Tidak ada kejadian tidur bersama di ranjang, karena kenyatannya Rama tidur di sofa.
-----
"Kau sedang apa di sini?" tanya Daniel saat mereka berpapasan di depan pintu kamar Rama.
Sinta diam. Memikirkan apa alasan yang tepat agar Daniel tidak curiga.
"Em... Aku ada perlu sebentar dengan Rama," ujar Sinta sedikit gugup.
Daniel mengangkat alisnya merasa Sinta sedang membohonginya.
"Benarakah?" ujar Daniel mentap Sinta curiga.
"Iya."
Sinta menahan nafas saat Daniel menatapnya curiga.
"Apa harus mengenakan baju Rama, jika hanya perlu sebentar?"
Sinta langsung menunduk untuk melihat baju yang dia pakai. Ke dua mata Sinta membulat saat yang di ucapkan Daniel benar. Dia memakai baju kebesaran dan celana pendek berwarna abu-abu milik Rama.
"Sial!" umpat Sinta.
Kenapa dia bisa tidak sadar jika sedang memakai baju milik Rama.
Tentu saja Daniel akan langsung berpikir yang aneh-aneh.
"Daniel, Maaf, aku harus segera ke kamar," pamit Sinta buru-buru.
"Ya," ujar Daniel dengan tatapan heran.
"Hei! Pria sialan," Panggil Daniel.
Rama yang sedang menatap deburan ombak menoleh ke arah sura.
"Ck," Rama berdecak karena Daniel sudah berada di dalam kamarnya.
"Ada apa?" tanya Rama seraya berjalan menuju lemari untuk mengambil baju.
"Apa yang kau lakukan semalam, dengan model ke sayanganku?" tanya Daniel tidak suka.
"Tidak ada."
Daniel mentap sebentar gaun hitam milik Sinta yang tersampir di sofa, kemudian mentap kembali ke arah Rama.
"Lalu, itu apa?" tunjuk Daniel ke arah sofa.
"Kau kepo sekali," gerutu Rama. "Aku tidak melakukan apapun padanya."
Daniel hanya diam, tapi tatapannya tajam mengarah tepat ke arah Rama. Dia tidak percaya jika tidak terjadi sesuatu semalam di antara mereka.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Awas kau! Jika berani macam-macam." Ancam Daniel sebelum keluar dari kamar Rama.
----
"Kita akan melakukan penerbangan sore ini," ujar Daniel saat mereka sedang berada di meja makan.
"Baiklah. Aku juga sudah bosan disini," ucap Mike sambil mengunyah makanannya.
Daniel menghela nafas, "Liburan ini sangat tidak berkesan untukku."
__ADS_1
"Aku semalam tidak sengaja melihat seseorang sedang berciuman di kolam renang," ungkap Mike tiba-tiba.
"Siapa orang itu?" tanya Daniel tertarik, "apa orang yang sama dengan yang aku pergoki tadi pagi?"
Perasaan Rama seketika tidak enak. Firasatnya mengatakan jika ke dua tamannya itu sedang membahas dirinya.
"Habiskan makanan kalian. Tidak baik berbicara saat makan," ujar Rama menyela.
"Siapa yang kau pergoki," tanya Mike mengacuhkan Rama.
"Sinta keluar dari kamar Rama tadi pagi. Dan kau tau?"
"Apa?" tanya Mike cepat.
"Sinta keluar kamar mengenakan baju Rama. Sedangkan gaun miliknya di tinggalkan begitu saja."
Rama memijit pangkal hidungnya. Tiba-tiba kepalanya menjadi pusing ketika Daniel berkata dengan polosnya.
"O, berarti setelah ciuman semalam mereka langsung melanjutkannya di dalam kamar."
"Orang yang kalian bicarakan ada di sini," gerutu Rama kesal.
Daniel langsung menoleh cepat ke arah Rama setelah selesai mendengar kalimat Mike.
"Wah, kau keterlaluan sekali," ujar Daniel tidak percaya.
"Aku hanya menolongnya. Semalam di mabuk dan muntah sangat banyak. Aku terpakasa membawanya ke villa dan mengganti pakaiannya," papar Rama panjang lebar.
"Wow, berarti kau semalam mendapat pemandangan indah."
Mike mengangkat dan meliuk-liukkan tangannya ke atas, menggambar pola gitar dengan ke dua tangannya.
Daniel yang melihat itu langsung memukul kepala Mike.
Pletak
"Kenapa kau memukulku?"
"Aku hanya ingin," ujar Daniel Santai.
"Apa bisa sehari saja kalian tidak berisik?" Rama pusing jika Mike dan Daniel bertingkah seperti anak kecil.
"Sebenarnya aku disini ingin mengatakan sesuatu." Mike berbicar dengan serius sambil mengusap kepalanya.
"Aku tau jika wanita yang membuatmu patah hati dulu adalah istri, Doni Diharja."
"Pengusaha properti itu?" tanya Daniel tidak percaya
"Iya."
"Bagaimana kau tau?" tanya Rama penasaran.
"Itu perkara mudah untukku. Sebenarnya yang membuatku terkejut adalah saat tau siapa wanita itu."
Rama menghela nafas dalam. Akhirnya teman-temanya sekarang tahu siapa wanita yang membuatnya harus pergi ke Turki, karena patah hati.
"Siapa?" tanya Daniel penasaran. "Aku ingin tahu wanita itu seperti apa?"
Sedangkan Rama memberikan kode kepada Mike, agar dia berhenti berbicara.
"Wanita itu, Sinta."
"Apa!" Daniel melebarkan matanya merasa tidak percaya dengan ucapan Mike.
"Apa kau tidak tahu?" Mike mengalihkan tatapannya ke arah Rama, "jika Doni sudah meninggal."
"Apa!"
Bersambung...
__ADS_1
🍁🍁🍁