Bos Duda

Bos Duda
Bab 19


__ADS_3

"Sepertinya, aku mengganggu," celetuk Bagas yang mendapati Doni dan Sinta sedang duduk berpangkuan.


 


Doni mengumpat kenapa dia selalu lupa untuk mengunci ruangannya.


"Silahkan di lanjutkan lagi," ucap Bagas.


Merasa kedatangannya di waktu yang tidak tepat, Bagas berniat untuk keluar. Belum sempat melangkah, Bagas sudah didahului Sinta, yang langsung berdiri dan berlalu dari ruangan Doni.


Jangankan berpamitan, mengangkat wajah saja Sinta tidak sanggup. Gadis itu terlalu malu, jika dia di berikan kekuatan mungkin akan menghilangkan dirinya saat itu juga.


Sepeninggal Sinta, Doni beranjak menuju meja kerja.


"Kau..." tunjuk Doni ke arah Bagas, "bisa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu."


Bagas menautkan alis, "Kenapa aku yang disalahkan? Kau sendiri yang ceroboh," ucap Bagas seraya merebahkan badan di sofa.


Doni mendengus, "Ada perlu apa? hingga tak sempat mengetuk pintu."


"Aku hanya ingin mengembalikan ini." Bagas meletakkan kunci mobil di atas meja, "Terimakasih, Bos," lanjutnya lagi.


Dengan menahan geram, seraya melonggarkan dasi dan melepaskan satu kancing teratas kemeja. Dia merasa Bagas sedang menguji kesabarannya.


'Tidak tahukah dia, jika mobil tidak dia bawa, mungkin Sinta tidak akan bertemu Rama. Dan sekarang, dia tiba-tiba masuk ke ruangan tanpa permisi, hanya untuk mengembalikan kunci mobil?"


"Bos, kau kepsnasan?" tanya Bagas polos, "Padahal AC menyala," gumam Bagas seraya meraih remote AC.


Kalau bukan orang kepercayaan, mungkin Bagas sudah di tendang oleh Doni.


"Iya," jawab Doni. Pria itu menyandarkan kepalanya di kursi, "Dan sekarang, rasanya aku ingin memukul seseorang."


"Sabar, Bos. Sesuatu yang tertunda memang membuat kepala jadi sakit," celetuk Bagas dengan pikiran mesum.


Bagas berpikir bahwa Doni akan melakukan adegan panas dengan Sinta. Orang kepercayaan Doni itu tidak tahu, jika Bosnyan sedang menahan geram atas ulahnya.


"Argggh...!" Doni mengacak rambutnya. "Kau lebih baik keluar sebelum aku pecat," perintah Doni.


Seketika Bagas beranjak dari duduknya dengan langkah cepat.


******


Sinta tidak bisa fokus pada pekerjaan. Pikirannya melayang dengan kejadian tadi.

__ADS_1


"Malunya aku," ujar Sinta, "Bagas pasti berfiki aku yang menggoda Doni," gumam Sinta sambil menenggelamkan wajahnya di meja.


"Selamat siang." Sapa seorang wanita membuat Sinta mendongak.


'Ada apa dia kemari?' gumam Sinta dalam hati.


 


"Kau melamun?" ucap Tiara sambil melambaikan tangan di depan wajah Sinta.


"Ah, tidak," kilah Sinta. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bertemu, Pak Doni," ucap Tiara sambil tersenyum manis.


Sinta mengangguk "Tunggu sebentar. Saya telpon dulu, Pak Doni.


Saat Sinta sedang menelpon, Tiara mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Gadis itu sudah berdecak kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan ini.


Tiara datang bukan hanya untuk membicarakan tentang kerjasama dengan perusahaan. Tapi, dia juga punya tujuan lain. Wanita itu sudah terobsesi dengan Doni, dia ingin lebih dekat dengan kekasih Sinta. Wanita itu juga tidak peduli, jika Doni sudah punya pacar. Yang terpenting Doni harus menjadi miliknya.


"Mari saya antar." Suara Sinta membuyarkan lamunan Tiara.


Mengikuti langkah kaki Sinta, Tiara di suguhkan dengan ruangan yang cukup luas. Didalam sana, ada pria yang selalu membuat dia rindu. Walaupun hanya sekali bertemu, tapi pesona Doni sudah membuat Tiara jatuh hati.


******


"Silahkan duduk!" perintah Doni.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Begini, Pak Doni. Saya ingin membicarakan mengenai furnitur yang akan dipakai di gedung baru milik anda." Setelah itu, Tiara menyodorkan beberapa contoh gambar yang tersedia di galery miliknya. "Contoh gambar disini, sesuai konsep yang sudah kita sepakati."


Doni mengangguk lalu duduk di sebelah Tiara. Wanita itu, menjelaskan beberapa barang yang akan di letakan di gedung milik Doni. Saat sedang fokus Tiara dengan sengaja mencondongkan badannya di sebelah Doni .


Jika pria itu menggeserkan kepala, mungkin pipinya akan menyentuh bibir Tiara.


"Maaf. Ada sesuatu di rambut anda."


Doni pikir Tiara akan menggoda dirinya, ternyata pikirannya salah. Jika ada yang melihat pasti mereka mengira Doni sedang dicium tiara.


Tapi saat wanita itu kembali ke tempat duduknya, Sinta sudah berdiri disana dengan dua gelas minuman.


Di dalam hati, Tiara bersorak 'ini masih pemanasan,' gumam wanita itu.

__ADS_1


Tiara tau, jika Doni dan Sinta menjalin hubungan. Wanita itu tidak peduli dan disinilah dia sekarang, sedikit memberi pemanasan untuk hubungan mereka.


"Silahkan diminum!" ucap Sinta datar.


Sinta melihat Tiara tersenyum saat mereka bertatapan. Senyum biasa tapi memiliki banyak arti disana.


"Terimakasih, Sinta," ujar Tiara.


Saat tatapan mata Sinta beralih kearah Doni. Lelaki itu seperti ingin menjelaskan sesuatu. Sinta mengerti mungkin Doni takut dia akan salah paham. Gadis itu mengangguk dan segera berlalu dari ruangan.


"Aku tau. Kau ingin bermain denganku, 'kan?" lirih Sinta.


Benar dugaan Sinta bahwa Tiara menyukai kekasihnya. Dan tadi pasti dilakukannya dengan sengaja, Sinta tau, bahwa Tiara ingin membuat dia cemburu. Memang, jika di lihat dari belakang Tiara seolah sedang mencium Doni.


Tapi, itu semua tidak langsung membuat Sinta terkejut. Gadis itu percaya, bahwa Doni tidak akan mudah tergoda. Dan hati kecilnya berbicara bahwa Doni mencintainya.


Sebenarnya Sinta juga penasaran apa yang akan di rencanakan Tiara lagi.


Setelah satu jam berada di dalam ruangan Doni, akhirnya Tiara terlihat keluar.


Ekor mata Sinta melihat Tiara berjalan ke arah ruangannya.


"Kau sudah selesai?" tanya Sinta.


Tiara sudah berada di ruangan Sinta. Wanita itu berdiri tepat di depan meja kerja.


"Ya. Sebenarnya aku masih betah disini, karena Doni ada urusan, jadi aku harus pulang," jawab Tiara, "Aku suka, dia sangat profesional," lanjut Tiara.


Sinta mengerti, "Suka" yang dimaksud tiara adalah, Dia menyukai semua yang ada pada diri Doni.


Sinta tersenyum, "Aku sangat beruntung menjadi kekasih Doni. Tapi, aku juga merasa kasihan, jika ada wanita yang menyalah artikan sikap profesionalnya."


Sinta memperhatikan raut wajah Tiara, sepertinya wanita itu sedang menahan geram. Terlihat dari tangannya yang mengepal. Sinta sengaja melakukan itu untuk memancing seperti apa Tiara sebenarnya.


"Sekarang aku harus hati-hati, karena ada seseorang yang tidak tahu diri ingin menggoda kekasihku," sindir Sinta, "Tapi, aku tidak terlalu khawatir, karena Doni tidak mudah tergoda," ucap Sinta dengan tersenyum.


Tidak ada emosi saat Sinta mengucapkannya membuat Tiara seperti di ejek oleh Sinta.


"Kau tau?" tanya Sinta "Doni itu pria yang setia dan panas..."


Tiara sudah tidak tahan pura-pura manis. Dia melipat tangan di dada dan melayangkan senyum sinis.


"Sepertinya, rasa penasaranku semakin bertambah." Tiara kembali tersenyum sinis. "Aku ingin lihat, seberapa lama kau akan bertahan," ucap Tiara angkuh.

__ADS_1


Sinta terkekeh "Kau lihat saja!"


Setelah itu, Tiara langsung pergi meninggalkan ruangan Sinta.


__ADS_2