Bos Duda

Bos Duda
Ss 2 Bab 2


__ADS_3

Sinta menghirup nafas dalam dalam sebelum memutuskan masuk kedalam rumah yang memberikan banyak kenangan indah. Potongan kenangan itu berputar dengan sendirinya saat dia melangkahkan kakinya lebih dalam.


Dia rindu dengan rumah ini, kenangan itu membuat matanya sedikit memanas.


"Apa kau baik-baik saja?" Diana bertanya karena dari tadi Sinta hanya diam. "Jika kau belum siap, aku antarkan kerumah Mama saja," tawar Diana.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku hanya heran rumah ini masih bersih, padahal aku meninggalkannya cukup lama."


Sinta berbohong karena dia tidak mau merepotkan Diana lagi.


"Rumah ini selalu di bersihkan," ucap Diana menjelaskan. "Mama yang memanggil jasa pembersih, setiap tiga hari sekali."


Sinta tersenyum, "Maafkan aku yang sudah merepotkan kalian."


Diana memutar bola maat jengah. "Jangan berbicara seperti itu. Ini hal yang wajar karena kau bagian dari keluarga kami."


Diana kemudian berdiri dari duduknya, meraih tas yang terletak tidak jauh darinya.


"Aku harus pergi sekarang. Jika perlu sesuatu telpon aku. Ucapanku saat di mobil tadi lupakan saja. Aku hanya bercanda."


Sinta mengannguk, kemudian mengantarkan Diana sampai masuk ke dalam mobil. Setelah itu, dia memustuskan untuk membereskan pakaian yang dia bawa dari kampung.


------


Semua pelayan menunduk hormat menyambut kedatangan Rama. Dia mengenakan jas berwarna hitam yang nampak serasi dengan kulit bersih dan tubuh tegapnya. Kali ini Rama sedikit berbeda, tidak ada senyum ramah saat semua pelayan menyapanya. Dia terlihat sedikit pendiam.


"Selamat datang, tuan," sapa kepala pelayan saat Rama sudah tiba di rumah ayahnya. "Tuan Danu sudah menunggu di dalam." Merry memberi tahu jika ayah Rama sudah menunggunya.


"Baiklah, Merry. Tolong pindahkan koperku ke dalam kamar dan siapkan air hangat. Aku akan mandi setelah menemui Ayah."


"Baik, tuan."


Rama melangkahkan kakinya menuju ruangan, dimana ayahnya sering menghabiskan waktu untuk bekerja. Saat membuka pintu yang tidak di kunci terlihat Danu sedang sibuk dengan layar komputer, hingga tidak menyadari jika Rama sudah berada disana.


Rama berdehem untuk memgambil alih perhatian Danu yang sedang fokus.


Pak Danu memiringkan kepala untuk melihat lebih jelas, "Kau sudah tiba rupanya. Maaf Papa tidak sadar," ujar Pak Danu seraya melepas kacamata yang ia pakai.


"Papa sibuk sekali," Rama berjalan menuju Danu untuk memeluknya.


"Hanya melihat dokumen." Danu kembali duduk di ikuti oleh Rama.


"Jangan terlalu lelah. Kau sudah tua daya tahan tubuhmu tidak sekuat dulu."


Danu mengangguk-anggukan kepalanya, merasa yang di ucpakan Rama memanglah benar.


"Jadi kau pulang kemari ingin menggantikanku, kan?" tanya Danu.


Rama membulatkan ke dua matanya, merasa tidak percaya dengn ucapan ayahnya.


"Kau tega sekali, Pa. Aku pulang bukanya menayakan kabar, kau malah manayakan hal itu," ujar Rama tidak percaya.


"Kau bilang tadi aku harus pensiun karena aku sudah tua."


"Aku tidak menyuruhmu pensiun. Kau bisa membagi pekerjaan dengan Diego, orang kepercayaan Papa itu."


Danu mendesah, "Jika Mama melihat ini dari surga pasti dia sangat kecewa," nada bicara Danu di buat sesedih mungkin.


"Kita bicrakan nanti saja," Rama berdiri untuk pergi dari ruangan Danu. Dia sudah malas jika ayahnya memperlihatkan wajah sedih yang di buat-buat.


Dari gerakkan tubuh dan nada bicara Rama, Danu bisa tahu jika putranya itu tidak berminat untuk menggantikannya.


"Baiklah akan aku beri tahu kepada Raisa, jika aku bertemu di alam mimpi."


Rama menoleh untuk memberikan senyum kepada ayahnya.


"Terserah Papa saja. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau tipu."


"Dasar anak nakal," ujar Danu seraya tersenyum.


----


"Aku lupa jika tidak ada makanan," ujar Sinta yang baru bangun dari tidur siangnya.


Wanita itu merasa lapar, saat membuka kulkas tidak satu bahan makanan pun yang bisa dia olah.


Dengan langkah lemas, wanita itu kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah beberapa saat, Sinta keluar dengan keadaan lebih segar dan mengenakan baju yang lebih baik. Jauh berbeda dengan keadaanya saat bersama Diana tadi.


Memanaskan mobil sebentar, Sinta terlihat mendesah. Teringat status yang dia sandang saat ini.

__ADS_1


"Janda?" Gumam Sinta sedikit meringis.


Dia membayangkan kehidupan selanjutnya pasti akan lebih berat dengan statusnya sekarang.


Setelah di rasa cukup untuk memanaskan mesin, Sinta membawa mobil yang biasa di gunakan Doni menuju supermarket.


Walau sudah lama mobil ini tidak di pakai, harum parfum suaminya masih tertinggal di dalam mobil. Foto mereka berdua juga masih terpajang di dasboard mobil.


"Apa kau bahagia?" Sinta bertanya pada foto Doni yang sedang tersenyum, "Kau jangan khawatir, aku bisa melewati hari-hariku dengan baik," wanita itu kembali fokus pada jalan raya di depannya. "Ya, walaupun tidurku sedikit kurang nyenyak." Sinta tersenyum lebar seolah itu hanya masalah biasa.


Gedung supermarket sudah terlihat tudak jauh di depan Sinta. Wanita itu langsung membelokkan mobil dan mencari tempat parkir.


Setelah masuk Sinta langsung memilih sayuran dan persediaan makanan lainnya. Saat tengah asik memilih tiba-tiba ada yang memabraknya dari arah samping.


"Maaf, Nona, saya tidak sengaja," ucap wanita itu sambil memunguti belanjaanya.


Sinta tersenyum dan membantu wanita itu, "Tidak apa-apa. Tapi lain kali kau harus hati-hati."


"Kau baik sekali, aku pikir kau akan marah." Wanita itu tersenyum canggung ke arah Sinta.


"Kau sudah meminta maaf tadi. Jadi untuk apa aku marah?"


"Sayang sekali aku harus segera pergi. Sebenarnya aku ingin mentraktirmu sebagai permintaan maaf," kata wanita itu dengn wajah bersalah.


"Tidak perlu repot-repot," tolak Sinta. "Lagi pula aku tidak apa-apa."


"Kalau begitu saya permisi."


wanita itu menunduk hormat ke arah Sinta, dan berlalu dengan sedikit terburu-buru.


"Dia terlihat sangat terburu-buru. Sampai-sampai tidak memakai keranjang untuk membawa belanjaan sebanyak itu," gumam Sinta.


Saat akan mendorong keranjang belanjaan miliknya, kaki Sinta tidak sengaja menginjak sesuatu.


"Dompet? apa ini punya wanita tadi?" tanya Sinta sambil membolak-balikan dompet berwarna cokelat itu.


Tanpa menunggu lama Sinta berjalan dengan cepat meninggalkan barang belanjaannya untuk mencari wanita pemilik dompet yang dia pegang saat ini.


Wanita yang menabrak Sinta tadi sudah tidak ada saat Sinta mencarinya. Sinta berpikir wanita itu mungkin sudah pergi.


Dengan ragu Sinta membuka Dompet itu untuk mencari tanda pengenal.


Gumam Sinta membaca nama pada kartu tanda pengenal itu. Di dalamnya ada dua kartu kredit dan sejumlah uang.


"Maaf aku harus melakukan ini, agar aku bisa mengembalikan dompetmu," ujar Sinta saat tangannya kembali mencari sesuatu di dalam dompet.


Sinta tersenyum saat menemukan kartu nama wanita tadi. Disana tertulis dia bekerja pada salah satu agensi model yang cukup terkenal, dan ada nomor telepon juga yang bisa Sinta hubungi.


Sinta kemudian merogoh tas untuk mengambil telepon genggamnya. Jari lentiknya menekan angka sesuai dengan yang tertera pada kartu nama.


"Bisa bicara dengan Rania Prameswari?" tanya Sinta saat panggilannya sudah tersambung.


"Dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Aku menemukan dompetmu tertinggal di supermarket."


"Benarkah? padahal aku hampir putus asa saat mencarinya tadi."


Dari nada bicaranya Rania nampak senang mengetahui dompetnya sudah di temukan.


"Maaf Nona apa kau bisa menolongku," lanjut Rania.


"Ya."


"Apa kau bisa antarkan dompetku ke alamat yang tertera pada kartu nama itu?"


Sinta melihat alamat yang tertera di sana. Kantor agensi model itu letaknya tidak jauh, jadi Sinta memutuskan untuk membantu wanita tadi.


"Baiklah, akan aku antarkan."


-----


Wanita berkacamata tebal itu berjalan dengan cepat saat memasuki kantor. Dia nampak gugup karena bosnya tadi sudah menelpon menanyakan tentang tugas yang dia berikan.


"Tamatlah kita," ujar salah satu teman Rania saat mereka berpapasan, "Dia sudah menunggu di ruangan." Tunjuk teman Rania ke arah ruanagn yang terletak di depan mereka.


Rania menghela nafas panjang untuk merdam debaran jantung yang sudah tidak teratur. Rania mengetuk pintu lebih dahulu sebelum memutuskan masuk.


"Bagaiman, apa kau sudah dapat?" Pria dengan suara bass itu sudah menodong Rania pertanyaan.

__ADS_1


"Maaf, Pak Daniel, saya belum mendapatkan model yang sesuai dengan ke inginan, Anda."


Daniel membanting kertas yang di pegang ke atas meja dengan kuat, sontak Rania terkejut dan takut bercampur jadi satu. Dia merasakan lututnya sedikit bergetar.


Padahal di agensi milik Daniel banyak model yang sudah mempunyai jam terbang cukup baik. Tapi pria itu menolak menggunakan mereka. Di beralasan, jika dia menginginkan wajah baru.


Semua yang ada di kantor agensi itu di buat kalang kabut saat Daniel memaparkan bagaimana kriteria model yang dia inginkan dan mereka hanya di berikan waktu lima hari.


"Rapikan semua barang-barangmu," ucapa Daniel dingin.


"Beri saya waktu Pak. Saya tidak mau di pecat ibu saya sedang berada di rumah sakit." Rania memelas berharap Daniel memberinya perpanjangn waktu.


"Jika saya di pecat, saya tidak bisa membayar pengobatan ibu."


Daniel menghela nafas. Dia jadi tidak tega jika menyangkut masalah ibu.


"Baiklah aku berikan waktu sampai nanti malam." Daniel memberi sedikit kelonggaran waktu. "Tolong kabari orang butik, siapkan baju untuk acara Fashion week besok."


Rania hanya mengangguk.


Sebelum memutuskan mendirikan agensi model, Daniel sudah menekuni pekerjan desainer. Tidak tanggung-tanggun outlet untuk brand fashion milik Daniel sudah banyak tersebar di kota-kota besar. Ketelitian dan desain setiap produk milik Daniel terlihat brillian. Jadi wajar saja bila brand DnL  menjadi klien para selebriti terkenal.


"Bagaimana?" tanya Diska, teman Rania saat dia sudah keluar ruangan.


Melihat wajah Rania yang kusut membuat Diska mempunyai kesimpulan bahwa mereka sedang berada dalam masalah besar.


Rania menghela nafas dalam, "Bossman memberikan kelonggaran waktu."


"Itu berita bagus bukan?" ucap Diska dengan wajah senang. "Tapi kenapa wajahmu masih kusut?"


Rania menatap Diska dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana wajahku tidak kusut, Bos sialan itu hanya memberikan waktu sampai nanti malam."


Rania merasa sudah tidak mungkin lagi untuk mencari model yang di inginkan Daniel dengan tenggang waktu yang sudah sempit. Dia sudah putus asa.


"Dia pikir mencari model yang sesuai kriterianya itu seperti membeli anak kucing?"


"Benar." Timpal Diska.


Saat kedua wanita itu sedang meratapi nasipnya suara Sinta menginterupsi ke duanya.


"Hai," sapa Sinta membuat kedua manusia itu menoleh.


Rania membenarkan letak kacamatanya untuk melihat lebih jelas. Dia pernah melihat Sinta tapi dia tidak ingat di mana tempatnya.


"Kau tidak ingat denganku?" tanya Sinta. "Aku yang kau tabrak saat berbelanja tadi."


Rania membulatkan mulutnya karena terkejut Sinta mengikutinya sampai ke kantor.


"Kau mengkutiku? kau bilang sudah memafkan ku?" tanya Rania tanpa jeda.


"Tidak. Aku tidak mengikutimu," elak Sinta. "Aku ingin mengembalikan ini," Sinta kemudian memberikan dompet cokelat milik Rania.


"Jadi kau yang menelponku tadi?" tanya Rania dengan nada terkejut.


Sinta tersenyum dan mengangguk.


"Aku harus mengucapkan apalagi. Kau sangat baik hati."


"Dasar ceroboh," sela Diska.


Rania hanya mendengus mendengar ucapan Diska.


"Jangan berlebihan, aku hanya sekedar membantu."


Dari jauh Daniel memperhatikan Sinta yang sedang berbicara dengan Rania. Dia tidak menduga jika Rania akan mendapatkan model sesuai keinginanya. Daniel merasa Sinta cocok untuk di jadikan model pada brand fashion miliknya.


"Ini baru cocok." Suara Daniel membuat ke tiga wanita itu menoleh serempak.


"Selamat, kau di terima menjadi model disini. Maaf aku tidak bisa menyambutmu karena aku ada urusan."


Sinta hanya Diam. Dia masih mencerna ucapan pria yang berdiri di depannya.


"Rania, kau urus kontrak yang harus di tanda tangani, Nona ini. Sedangkan kau Diska," tunjuk Daniel. "Urus semua keperluan untuk pemotretan besok."


Mareka semua hanya bisa melongo seraya menatap punggung Daniel yang terlihat menjauh.


Bersambung...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2