
Author mohon bagi pembaca yang sedang berpuasa, untuk membca part ini saat malam.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sinta membuka mata, saat cahaya matahari menerpa wajahnya dari celah gorden. Dia menggeliat merasakan badanya yang terasa sakit, apalagi di daerah kewanitaanya. Saat menoleh ia mendapati Doni tidur lelap dengan memeluk tubuhnya.
Wanita itu tersenyum teringat akan aktifitas panasnya semalam, Doni melakukanya lebih dari tiga ronde, membuat Sinta kelelahan. Ia yang baru pertama kali harus merasakan sakit saat Doni menerobos masuk di area intimnya. Walau Sinta akui, setelahnya dia merasakan nikmat karena Doni melakukanya dengan lembut.
"Selamat, pagi."
Suara serak Doni menyapa Sinta yang sedang memandanginya. Setelah itu, dia mengecup kening istrinya. Membuat sinta kembali merasakan desiran halis didalam tubuhnya.
"Apa hari ini kau akan ke kantor?" tanya Sinta.
Wanita itu membenarkan kembali letak selimut yang sedikit tersingkap. Sepasang manusia itu langsung tertidur semalam tanpa memakai kembali pakaian mereka, setelah aktifitas panas semalam.
"Tidak. Kita pengantin baru kenapa harus terburu - buru?" Doni kembali mempererat pelukkanya.
"Aku ingin hari ini kita berada di dalam kamar saja," lanjut Doni sambil menenggelamkan wajahnya diceruk leher Sinta.
Sinta hanya bisa melotot saat Doni mengucpakan kalimat itu, dia merasa Doni seperti tidak mengenal lelah. Sedangkan Doni sibuk menghirup dalam - dalam aroma tubuh istrinya, dia sangat menyukai aroma tubuh Sinta. Aroma yang memabukkan membuat Doni ingin kembali melakukannya lagi.
Tubuh Sinta meremang, saat Doni menggesekan hidung ke belakang telinganya. Wanita itu merasakan ada benda keras yang berdiri di bawah sana. Karena posisi Doni memeluknya dari belakang, membuat Sinta bisa merasakan benda itu.
"Aku ingin mandi," ucap Sinta membuat Doni berhenti menciumi lehernya.
"Padahal aku ingin tambah satu ronde lagi," ujar Doni.
Dengan menghela nafas, pria itu mengurai pelukannya dari tubuh Sinta. Setelah Doni melepas pelukanya, Sinta turun dari ranjang dan meraih baju Doni yang berada di lantai untuk dia kenakan.
Doni tersenyum menatap darah yang sudah mengering di atas sprei, dia jadi teringat semalam dia harus bekerja keras untuk menerobosnya. Dia juga merasa senang dan bangga kerena mendapatkan Sinta masih tersegel utuh.
Saat Sinta akan melangkah dia merasakan sakit pada pangkal pahanya. Doni yang melihat istrinya kesusahan saat berjalan langsung mengangkat Sinta dalam gendonganya.
"Ahh!" Pekik Sinta.
Wanita itu terkejut saat merasakan tubuhnya tiba - tiba melayang.
"Apa masih sakit?" tanya Doni yang melihat wajah istrinya meringis seperti menahan sakit.
"Sedikit," ucap Sinta.
Sampainya didalam kamar madi Doni langsung mendudukan Sinta di atas bathtub. Dan menyalakan air sampai bathtub terisi penuh. Tanpa menunggu lama Doni langsung melepaskan kaos yang dikenakan Sinta.
"Aku bisa sendiri." Sinta merasa malu karena Doni akan melepaskan bajunya.
"Baiklah," ucap Doni yang ikut masuk kedalam bathtub.
__ADS_1
"Kau mau apa?"
Sinta terkejut karena Doni sudah duduk dibelakangnya.
"Tenang saja aku hanya ingin mandi," ucap Doni saat sinta menatapnya dengan ciriga.
*****
Doni kelura dari kamar mandi dengan bersiul, dia merasa tubuhny segar dan perasaanya senang setelah mandi bersma istrinya. Berbeda dengan sinta yang berada didalam gendongan Doni. Dia merasa kesal karena mereka keluar setelah dua jam berada didalam kamar mandi. Doni mengingkari ucapanya, nyatanya mereka kembali melakukannya lagi didalam bathtub.
"Kau kenapa?" tanya Doni yang melihat Sinta mengerucutkan bibirnya.
"Kau bilang hanya mandi, kenapa melakukan itu, lagi?"
"Aku harus bagai mana? Kau yang menggodaku."
Sinta melotot ke arah Doni, Dia merasa tidak terima dengan kalimat yang di ucapkan suaminya.
"Hey! Siapa yang menggodamu? Kau saja yang memaksa mandi bersamaku."
"Ah, aku lupa," ucap Doni sambil tersenyum bodoh. "Tapi kau menikmatinya, kan?" tanya Doni denan tersenyum menggoda Istrinya.
Sinta hanya mendengus dan memukul kepala Doni dengan tangannya.
"Aduhh!" Doni meringis saat mendpat pukulan dari Sinta, "Kenapa kau kurang ajar sekali kepada suamimu?"
"Kenapa aku?" tanya Doni sambila melihat Sinta mencari baju ganti.
Sinta berbalik menatap suaminya tajam, "Kau pikir siapa yang mengajakku berendam selama dua jam didalam bathtub?"
Sinta menutup kembali lemari dan berjalan melewati Doni sambil membawa baju ganti.
"Kau mau kemana?" ucap Doni yang melihat Sinta berjalan menuju kamar mandi.
"Ganti baju," ucap Sinta tanpa menoleh ke arah Doni.
"Kenapa tidak disini saja?"
Sinta kembali membuka pintu kamar mandi, "Nanti ada pria yang berpikir aku sedang menggodanya," Sinta teringat sesuatu saat akan menutup pintu.
 "O, iya. Nanti malam tidak ada jatah. Karena kau sudah menggunakanya tadi."
Doni hanya bisa melongo mendengar ucapan Sinta. Salahkah dia jika nanti malam menginginkanya lagi. Dia suadah lama berpuasa, jadi nafsunya akan cepat naik jika melihat tubuh polos istrinya.
"Aku akan cari cara supaya nanti malam mendapat jatah," ucap Doni sambil menantap pintu kamar mandi.
*****
__ADS_1
Setelah sarapan Doni memutuskan untuk mengajak Sinta pulang kerumah orang tuanya. Sita dari kemarin sudah sibuk menelpon karena Doni tidak kunjung datang bersama Sinta.
"Apa mereka akan marah?" tanya Sinta menoleh kearah Doni.
Sinta merasa khawatir, apa dia akan di terima atau tidak dirumah orang tua Doni nanti. Walaupin di tahu orang tua Doni menyukainya saat status mereka sepasang kekasih.
"Kenapa kau bertanya sepaeti itu?" tanya Doni heran.
"Aku takut mereka tidak mau menerima pernikahan mendadak kita."
"Aku sudah menjelaskan semuanya kepada mereka," ucap Doni yang masih fokus di balik kemudi,"
"Dan mereka tidak ada masalah dengan pernikahan kita. Mereka malah senang kita menikah dan mereka sekarang sudah menunggu kita dirumah," lanjut Doni.
Sinta merasa lega setelah mendengarkan kalimat Doni. Mungkin di hanya merasa gugup akan bertemu dengan mertua.
Tidak berselang lama mereka sudah sampai di kediaman Diharja. Orang tua Doni menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum bahagia. Tapi saat Doni akan mencium tangan ibunya kepalanya malah dipukul.
"Aduh!" Doni menatap ibunya heran, dia merasakan hari ini sudah dua kali kepalanya dipukul.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau tidak langsung bawa kesini menantu kesayangan, Mama?"
Sinta yang tadinya tegang akhirnya bisa tersenyum, dia pikir Sita sedang marah.
"Aku lelah, Ma. Jadi setelah tiba di apartemen kami langsung beristirahat."
Doni mengarahkan pandangannya kearah Sinta, "Iya, kan sayang?" ucapnya sambil mengedipkan mata.
Istri Doni itu hanya mengangguk, pasalnya Sinta merasa Doni sedang berbohong karena kenyataannya Sinta hanya beristirahat sebentar. Dan setelah itu, Doni malah membuat tubuhnya bertambah lelah. Mereka baru tertidur saat jam berhenti di angka tiga dan Doni lanjutkan lagi tadi pagi saat dikamar mandi.
"Apa kabar Om, Tante?"
Sinta meraih tangan kedua orang tua Doni dan menciumnya.
"Kenapa masih memanggil kami denga sebutan itu," sela Diharja yang tidak suka dengan panggilan Sinta.
"Kami sekarang orang tuamu jadi panggil kami seperti yang Doni lakukan," lanjut Diharja.
"Iya, Om. Eh! ... Pa." Sita dan Diharja tersenyum mentap Sinta yang sedang gugup. "Maaf, aku hanya belum terbiasa," lanjut Sinta.
"Tidak apa - apa, nanti juga kau akan terbiasa," ucap Sita menenangkan menantunya.
"Ayo kita masuk saja," ajak Diharja.
Doni Tersenyum menggengam tangan istrinya dengan lembut. Dan menganjaknya masuk ke dalam rumah.
"Malam ini, kita menginap disini," pria itu mentap istrinya sejenak, lalu melanjutkan kalimatmya lagi, "Dan Mama sangat mengiginkan cucu," bisik Doni
__ADS_1
Sesanglan Sinta menatap Doni tidak mengerti. "Aku hanya memberi tahumu saja. Kau harus bersiap - siap nanti malam," lankut Doni lagi.