Bos Duda

Bos Duda
Bab 6


__ADS_3

Memastikan yang ia lihat mimpi atau sungguhan, Sinta berniat untuk mencubit hidung Doni yang mancung.


Saat tangan Sinta akan di angkat, Doni membuka matanya.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Doni, dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kenapa kau tidur di sini?"


Sinta tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan Doni. Dia menyadari bawa ini bukanlah mimpi. Sinta berniat untuk teriak. Belum melaksanakan niatnya, sudah ada tangan kekar yang menutup mulutnya.


"Jangan berteriak! atau kau ingin kita dinikahkan pagi ini juga!" Tekan Doni, dibarengi suara kutukan pintu.


"Diam! Dan pura-puralah jadi guling, jika tidak ingin ketahuan mama," ucap Doni kepada Sinta, saat suara Tante Sita terdengar di balik pintu.


"Doni, apa kau sudah bangun?"


Suara tante Sita menyapa di balik pintu.


"Sudah Ma! Ada apa?" tanya Doni, dari dalam kamar.


Setelah itu, Tante sita masuk ke kamar Doni.


"Mama tadi ke kamar Sinta, tapi anak nya tidak ada."


"Mungkin, di kamar mandi," jawab doni biasa.


"Tidak ada, sudah Mama cek."


"Mama cari saja diluar, siapa tau dia sedang lari pagi."


"Betul juga. Kalu begitu, Mama cari Sinta dulu."


Saat akan keluar, tatapan sinta terarah pada guling yang di peluk Doni. Mengerti arti tatapan itu, Doni mempererat pelukan seolah sedang memeluk guling. Sinta yang berada di dalam selimut, mengumpat tidak jelas karena pelukan Doni semakin kencang, tentu saja mengumpat tanpa bersuara.


"Gulingnya, sedikit lebih besar," tunjuk Sita, kearah guling yang dipeluk Doni.


Doni sedikit pucat karena takut mamanya mengetahui, jika yang di peluk bukan guling melainkan Sinta.


Jika Doni berkata jujurpun, Mamanya pasti akan langsung bertindak.


Seperti memakan buah simalakama.


Jika langsung dinikahkan Doni pasti menerima dengan senang hati, mengingat dia sudah menaruh hati pada gadis yang berada di dalam selimut. Tapi dia tidak bisa egois, dia juga harus menghargai perasaan Sinta.


"Kau beli di mana? Lain kali belikan Mama juga, Oke!"


Akhirnya Doni bisa bernafas lega karena Mamanya tidak curiga, setelah itu Mama Doni, keluar dari kamar.


"Pak, apa Mama anda sudah pergi?" tanya sinta lirih.


Seketika Doni sadar jika masih ada Sinta . Dia langsung turun dari kasur, dan menyuruh Sinta segera keluar.


"Bangun, dan segera keluar!" perintah Doni. "Pulang nanti, aku butuh penjelasanmu."


"Aku juga butuh penjelasan, Bapak!" tuntut Sinta. Setelah itu, dia pergi dari kamar Doni.


Saat akan memasuki kamar Sinta dikagetkan dengan suara Sita.


"Sinta, kau dari mana?" tanya Sita ingin tahu.


"A-aku dari ke-liling rumah ini Tante," gagap sinta. "Aku bosan, jadi aku putuskan, untuk melihat suasana rumah ini."


"Kenapa, aku tadi tidak melihatmu tadi?" ucap Tante Sita, sedikit curiga.


"Em ...."

__ADS_1


ย Belum selesai berbicara ucapannya, sudah di potong oleh Tante Sita.


"Ayo, kita makan, tidak usah dibahas lagi. Bi Mimi sudah menyiapkan sarapan."


"Iya, Tante," jawab Sinta.


Di meja makan semua orang sudah berkumpul.


"Papa dimana?" ucap Doni, sambil melihat kursi Pak Diharja.


"Papa sudah pergi pagi tadi, katanya mau ke perusahaan," jawab Tante Sita sambil memindahkan nasi kedalam piring.


"Kenapa pagi sekali?" tanya Doni heran.


"Mama tidak tahu. Ayo, tambah lagi Sinta."


"Iya, Tante."


Setelah sarapan, Sinta memutuskan untuk mandi, karena mereka harus segera pulang.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Waktu menunjukan sudah pukul tujuh, mereka segera berpamitan dan menuju kantor.


Di dalam mobil.


"Tolong jelaskan, kenapa kau tidur di kamarku?" desak Doni.


"Seharusnya, saya yang bertanya. Bapak yang memindah saya, kan?"


"Kenapa kau jadi menuduh? Untuk apa aku repot-repot, jika kaun sendiri dengan suka rela tidur di ranjangku."


"Hei, Bapak pikir aku wanita murahan!" sembur sinta


"Lalu, untuk apa kau tidur di ranjangku? Asal kau tau, rumah orang tuaku di lengkapi dengan Cctv."


ย 


Setelah itu, dia memukuli kepala karena menyesal dengan tingkah bodohnya.


"Apa, kau sudah ingat?"


Sinta hanya mengangguk


"Apa, aku yang memindahkanmu?"


Sinta menggeleng.


"Jadi, bisa jelaskan!"


Sinta memperbaiki duduk nya, dengan kepala sedikit menunduk dan dia mulai menjelaskan.


"Tengah malam Saya terbangun karena haus. Setelah mengambil minum saya kembali kekamar. Karena mengantuk dan kamar sedikit gelap. Saya tidak menyadari yang Saya masuki ternyata kamar, Bapak."


"Berarti, bukan salah Saya, kan?" ucap Doni, yang masih fokus pada kemudi.


"Saya minta maaf, Pak."


"Tidak semudah itu, bahkan tadi kau sempat menuduhku."


"Saya harus bagai mana, supaya bapak memaafkan saya?"


Doni nampak berfikir, apa yang harus dia lakukan kepada Sinta.

__ADS_1


"Kamu harus membersihkan apartemen saya selama tiga bulan. Kamu tidak perlu datang tiap hari, Cukup dua hari sekali."


"Pak, apakah itu tidak keterlaluan?"


"Kenapa, kau tidak setuju?"


"Bapak bisa menyewa asisten rumah tangga yang lebih berpengalaman daripada, saya."


"Itu hukuman yang pas untuk mu. Jika kau tak mau, juga tidak apa-apa. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Kau sudah memasuki tempat privasi dan menuduhku. Jadi, hukuman apa yang sesuai?"


Saat sinta akan membuka mulutnya, sudah terlebih dahulu di potong oleh Doni.


"Kita sudah sampai," ucap Doni sambil melepaskan sabuk pengaman. "Jangan lupa, bawa keruanganku laporan yang ku minta kemarin."


"Iya, Pak!"


Mereka berjalan, dengan beriringan saat memasuki kantor. Tidak ada tatapan menyelidik dari setiap pasang mata yang melihat. Ini suda biasa, mungkin mereka pikir ini hanya tuntutan kerja, yang membuat mereka selalu bersama. Hanya sapa hormat yang mereka berikan kepada Doni.


Saat memasuki ruangan, Doni mendapati Pak Diharja sudah berada di kursi kebesarannya.


"Kenapa Papa tidak menungguku?" tanya Doni, sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Papa hanya ingin saja."


"Hanya ingin?"


Doni mengulangi ucapan sang Papa.


"Sebenarnya, Papa akan membuka cabang di daerah lain. Papa mau, kamu cek lokasinya."


"Apa mereka semua sudah setuju?"


"Sudah. Kamu tinggal survei saja."


"Baiklah, kapan aku berangkat."


"Dua hari lagi."


Ketukan pintu membuat mereka berhenti berbicara.


"Masuk!"


"Pak sa"


Sinta berhenti berbicara, karen dia lihat doni tidak sendiri.


"Pak," ulang Pak Diharja


"Jika kalian hanya berdua, masih saja menggunakan panggilan formal. Kau, yang menyuruh pacarmu untuk menggunakan panggilan seperti itu," tanya pria paruh baya yang berstatus sebagai Papa, Doni.


Doni hanya diam, sambil menatap sinta. Sinta merutuki ke bodohannya lagi karena tidak memastikan terlebih dahulu siapa yang berada di dalam ruangan.


"Kau, kaku sekali, Don," ledek Pak Diharja, sambil tertawa lepas.


"Kau ingat, bahkan kau dulu pria yang sangat romantis."


Ucapan Papanya, membuat Doni teringat akan masa-masa indah bersama mendiang istrinya.


"Tentu tidak, dia hanya terlalu malu, jikaย 


orang kantor mengetahui kami menjalin hubungan," ucap Doni, sambil memeluk Sinta dari samping, "Iya kan, sayang?"


Sinta yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum kaku.

__ADS_1


"Pacarmu luar biasa Don. Disaat wanita lain dengan bangga pamer ke seluruh dunia, karena memiliki pacar seorang direktur, lain dengan pacarmu."


"Papa sangat merestui, jika hubungan kalian bisa berlanjut."


__ADS_2