
Sofi kembali dari dapur, membawa secangkir teh hangat untuk bosnya.
"Cepat sekali, ucap Arka."
Kenapa kamu selalu protes, cepat salah lambat apa lagi!! benar-benar merepotkan.
Tok..tok.. permisi? terdengar suara seseorang dari balik pintu. Arka menyuruh Sofi mengecek siapa yang datang. Sofi langsung beranjak bangun dari sofa dan membuka pintu. Seorang lelaki berpakaian seragam bertuliskan salah satu merk makanan terkenal berdiri dihadapannya. Dua kotak makanan di berikan pada Sofi. Tak lupa senyum dan ucapan terima kasih di berikan sebagai service untuk pembeli, Sofi membalas ucapannya dan tersenyum. Sofi kembali ke sofa, dan memberikan makanan yang di bawanya pada Arka.
"Buka!!" perintah Arka. Sofi langsung menyilangkan tangannya menutupi dadanya.
"Ehh... pikiranmu ngeres sekali. Aku suruh kamu buka kotak itu."
"Ahh, baiklah." jawab Sofi sambil memanyunkan mulutnya. Arka mengambil kotak makanannya dan mulai menikmatinya.
"Sudah sana duduk di tempatmu, dan bawa satu kotak makanan itu untukmu. Awas badanmu menutupi pandanganku dari layar tv."
Hah, kamu sendiri yang menyuruhku!! sekarang mengusirku, membuka kotak makanan saja tidak bisa. Jangan-jangan kamu memang sengaja mengerjaiku.
Sofi kembali duduk di tempatnya tadi, dan menikmati makanan yang sudah berada di tangannya. Arka melirik Sofi yang sedang menikmati makanan, namun mata Sofi fokus pada acara favoritnya di tv. Sesekali Sofi tersenyum dan tertawa. Tak sengaja Arka tersenyum melihat tingkah lucu Sofi.
Dasar perempuan aneh, acara tidak bermutu seperti itu kamu tonton. Apanya yang lucu dan membuatmu tertawa lepas seperti itu, gumam Arka
Sofi tiba-tiba melirik Arka dan mendapati bosnya sedang memperhatikannya. Arka langsung salah tingkah dan membuat alasan.
"Itu, ada apa di sudut bibirmu. Makan saja tidak bisa, belepotan seperti anak kecil."
__ADS_1
"Ahh, apa iya."
Sofi menelusuri bibirnya mencari sisa-sisa makanan yang tertinggal. Arka mendekati Sofi dan menunjuk sisa makanan yang ada di bibir Sofi. Melihat Sofi yang tidak berhasil mencari dengan tangannya. Arka mencoba mengambilkannya, tapi belum saja tangannya sampai sudah ditangkis oleh Sofi.
Mencari kesempatan dalam kesempitan!! Kamu memang bosku bukan berarti bisa melakukan apapun yang kamu mau, gumam Sofi dalam hati.
"Aku cuma mau menolongmu, jangan berfikiran yang macam-macam. Sudahlah aku sudah mengantuk mau tidur," ucap Arka yang langsung beranjak pergi.
Tangannya cepat sekali menangkis tanganku. Apa kamu pandai bela diri. Arka tersenyum sinis melirik Sofi yang masih duduk menikmati acara tv.
Pandangan Sofi mulai tidak fokus. Memikirkan kejadian tadi, menurutnya dirinya terlalu berlebihan kepada bosnya. Sofi khawatir sikapnya tadi membuat bosnya marah dan memecatnya.
Arka yang sampai di tempat tidur langsung merebahkan badannya di atas kasur, tapi perasaannya terganggu. Walaupun dia seorang bos tapi tidak sepatutnya melakukan Sofi seperti itu, bagaimanapun juga Sofi seorang perempuan tidak seharusnya dia membiarkan Sofi tidur di sofa sementara dirinya tidur di kasur empuk. Tapi dia cukup kecewa dengan perlakuan Sofi tadi.
Ahh, kenapa pikiranku kacau seperti ini.
Terlihat manis saat tidur. Ahh apa yang aku pikirkan, dia hanya seorang asisten. Tapi kedatangannya membuat hari-hariku berbeda.
Arka memalingkan badan dan meninggalkan Sofi yang tertidur lelap. Mengambil hp dari saku jasnya dan menelepon seseorang.
"Ram, besok kamu susul aku ke sini ya. Sepertinya aku terlalu lelah untuk membawa mobil sendiri."
"Baik, tuan." suara Rama dari dalam telepon. Rama tidak bertanya apapun pada bosnya dan langsung menuruti perintah bosnya.
Arka menutup teleponnya dan melihat dari layar hp foto dirinya dan Zen sewaktu sekolah. Pandangannya fokus ke foto itu, sembari tersenyum kecil. Membayangkan masa lalunya bersama Zen dan seorang gadis yang ada di foto itu, entah siapa gadis itu. Yang pasti mereka berteman baik dulu, karena sesuatu hal membuat hubungan Arka dan Zen merenggang. Arka tersadar dari lamunannya, mengambil air wudhu dan sholat isya sebelum tidur. Arka membiasakan diri melaksanakan sholat, walaupun belum sepenuhnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Sofi terbangun dari tidurnya. Kaget dengan badannya yang sudah tertutupi selimut. Perasaannya campur aduk, takut terjadi sesuatu.
Ahh, apa mungkin? tidak... tidak mungkin!! awas saja kalau kamu berani macam-macam, aku laporkan ke polisi, gumam Sofi.
ceklek, pintu kamar terbuka. Melihat Arka berdiri tepat di pintu, Sofi langsung menghampirinya.
"Cepat sekali kamu bangun," ucap Arka. Ia sedikit bingung melihat Sofi yang menatapnya dengan tajam. Tapi Arka tidak memperdulikannya dan langsung pergi ke kamar mandi. Sofi mengikutinya dari belakang.
"Kenapa kamu mengikutiku?"
"Ahh tidak, aku cuma mau bertanya sesuatu. Kenapa ada selimut di tubuhku? aku yakin sekali tadi aku tidak memakai selimut," lanjutnya."
"Kamu mencurigaiku berbuat macam-macam!! hah.. bisa jadi si aku berbuat macam-macam."
"Apa katamu!!" seru Sofi.
"Hahaha.... " Arka tertawa penuh kemenangan, apalagi melihat wajah asistennya yang sudah memerah karena menahan emosi.
"Sudah tidak usah khawatir, percayalah tidak terjadi apa-apa. Sudah sana sholat dan tidurlah lagi. Besok masih harus beraktivitas sebelum kembali ke kantor," lanjutnya.
"Ya baiklah. Kali ini Sofi menyerah dan mempercayai ucapan bosnya, karena hatinya yakin tidak terjadi apa-apa.
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1
Dukung Author terus ya readers dengan like, koment and vote