
Aldi selesai membuat jadwal untuk meeting besok dengan klien. Ia menghubungi Anita untuk mengajaknya nonton. Kebetulan Anita tidak ada kegiatan lagi sepulangnya dari kantor. Mereka janjian nonton di bioskop di salah satu mall yang letaknya tak jauh dari kosan Anita.
Alena menepuk punggung Al, membuatnya kaget. Ia melihat Al tersenyum sendiri setelah menelepon seseorang.
Jatuh cinta membuatnya gila, tersenyum sendiri. Apa seindah itu?
"Lama-lama kamu bisa gila Al," ucap Alena.
"Makanya jatuh cinta dong, jadi tahu rasanya."
Alena berfikir sejenak apa yang di ucapkan Al benar juga. Ia bahkan tidak pernah dekat dengan laki-laki kecuali Al temennya sendiri, membuatnya belum pernah merasakan jatuh cinta. Alena menganggap cinta akan hadir di waktu yang tepat. Kalau sekarang belum, mungkin suatu saat nanti akan ada seseorang yang hadir di kehidupannya.
Sofi melihat Alena melamun merasa heran. Tidak biasanya Alena melamun. Alena tipikal orang yang ceria dan ceplas- ceplos tidak biasanya keliatan murung seperti yang di lihatnya sekarang. Karena merasa ada yang aneh, Sofi menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa Len?"
Alena tiba-tiba melingkarkan tangannya ke perut Sofi memeluk temannya dan menyenderkan kepalanya ke pundak Sofi sambil mencurahkan isi hatinya. Menceritakan apa yang di katakan Al padanya tadi.
"Tidak semua cinta membuat orang bahagia Len," ucap Sofi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sofi, Alena merasa bingung apa maksud dari kata-katanya. Padahal Al sering tersenyum sendiri semenjak ia jatuh cinta.
Jangan-jangan Al memang sudah gila, gumam Alena.
Sofi melanjutkan ucapannya. Jatuh cinta memang indah tapi menjalaninya sangatlah sulit, terkadang di depan kita baik-baik saja tapi di belakang kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Memang semua tergantung dari manusia itu sendiri. Tapi tidak semua cinta akan berakhir indah. Bisa jadi cinta itu akan membuat kita patah hati pada akhirnya. Tapi tak sedikit juga pasangan yang berakhir bahagia.
Alena terkejut dengan ucapan Sofi. Sepertinya itu bagian dari pengalamannya.
Ia bangun, melepaskan pelukannya dan menatap Sofi seperti mengintimidasinya. Mata Sofi terbelangak melihat tatapan Alena.
"Hey, kamu kenapa Len," tanya Sofi. Alena masih tidak bergeming dengan ucapan Sofi. Ia masih ingin tahu di balik ucapan temannya itu.
"Aku hanya heran saja, sepertinya apa yang kamu ucapkan itu bagian dari pengalamanmu. Apakah Kaisan membuatmu sangat terluka?"
"Bagaimana pun juga dia cinta pertamaku pastinya akan sangat sulit melupakannya. Tapi, kita sebagai perempuan juga tidak boleh lemah. Walaupun Kai dulu sering mengajakku balikkan aku tetap tidak akan menerimanya lagi. Dia akan selalu menjadi masa laluku tapi bukan masa depanku."
"Sofi, aku terharu. Kamu memang wanita yang kuat dan tegar. Meskipun aku tidak pernah jatuh cinta tapi dari ucapanmu tadi, sepertinya aku tidak kuat kalau itu menimpa padaku. Waktu itu kamu cuma bilang dikhianati. Cuma pada saat itu aku belum mengerti, tapi sekarang aku tahu. Kelak aku harus pandai-pandai mencari pasangan. Bila perlu aku akan membuka sayembara khusus laki-laki setia."
Sofi dan Alena tertawa kompak.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Kediaman Zen
"Tuan, semua rencana sudah tersusun rapi, barusan tuan Niko memberi kabar bahwa pihak dari Wijaya grup menelepon tuan Niko menanyakan jam berapa besok meetingnya," ucap Kenan.
"Arka, terlihat sekali kamu takut proyek ini gagal lagi," ucap Zen.
"Apa tuan besok akan muncul di hadapan tuan Arka?"
"Kita lihat saja besok, aku akan membuat kejutan untuknya."
Zen tersenyum sinis, dia yakin sekali rencananya akan berhasil dengan sukses. Ini awal dari balas dendamnya. Semuanya diatur sangat rapi.
"Ken, istirahatlah lebih awal. Nikmati waktu untuk bersantai. Kamu sudah terlalu lelah untuk urusan ini."
"Baik tuan, saya permisi dulu."
"Silahkan," jawab Zen.
__ADS_1
Bersambung ❤️❤️❤️