
Di rumah Monica sedang menonton tv. Di ruang tengah sambil melamun, tubuhnya berada di depan tv namun pikirannya berlarian kesana kemari. Semenjak pulang dari rumah sakit sore tadi, Monica lebih banyak diam dan menghabiskan waktu di rumah.
Bahkan kamu tidak mencariku sama sekali Arka, setidaknya menanyakan bagaimana keadaanku saat ini. Kamu tidak datang menjemputku, kamu benar-benar sudah tidak peduli lagi denganku.
🍁🍁🍁
Esok pun tiba di mana Sofi mulai sibuk dengan pekerjaan rumahnya, sebelum berangkat ke kantor.
"Kak Sofi, biar Ara saja yang menyiapkan sarapan. Sudah jam segini nanti kakak telat."
"Ok Ra, terima kasih adikku terimut, hehe..."
"Kakak siap-siap dulu ya? oiya Ra, nasi gorengnya belum kakak tempati masih di wajan, minta tolong ya?"
"Ya kak beres, serahkan saja padaku." ucap Ara.
Setelah siap, Sofi langsung berangkat ke kantor.
"Kak, ini bekal spesial buat kakak. Jangan lupa di makan ya?"
"Wahh, apa ini. Ahh apapun ini terima kasih ya?"
"Iya, sama-sama kakakku yang cuantiiik."
Sofi pun keluar rumah dan jalan kaki sampai depan gang. Ia berhenti persis di dekat jalan. Ia mengambil hp di dalam tasnya dan segera memesan ojek online. Namun, sebelum membuka aplikasinya sebuah mobil berhenti tepat di depan Sofi. Mata Sofi masih fokus melihat ke layar hp nya. Terdengar suara seseorang memanggilnya.
"Nona..?"
__ADS_1
Sofi mengangkat kepalanya dan melihat Zen di dalam mobil persis di depannya.
"Tuan Zen,"
"Masuklah nona, aku antarkan nona ke kantor." ucap Zen
Sofi masih berdiri di tempat yang sama, bingung kenapa tiba-tiba Zen menjemputnya.
Apa mungkin kebetulan saja tuan Zen melihatku dan menawarkan mengantarku. Atau? ahh mana mungkin kalau dia sengaja menjemputku. Rezeki si jadi tidak usah bayar ojek online, hihi.... gumam Sofi.
Sofi membuka pintu mobil dan duduk di barisan depan sebelah Zen. Mobil melaju cepat menuju ke Wijaya grup.
"Apa kamu betah bekerja di Wijaya grup?" tanya Zen.
"Awalnya si tidak, tapi lama-lama jadi betah. Ya mungkin karena sudah terbiasa. Lagian aku punya banyak teman yang baik dan selalu support aku di kantor."
Ehh, ko dia menanyakan bos. Aku harus jawab apa dong. Masa aku bilang Bosku itu angkuh, ngeselin, suka marah-marah. Tapi memang benar kan ya?"
"Iya bos Arka memang terlihat dingin dan angkuh tapi sebenarnya dia baik."
Sedikit memujinya tidak apa-apa kan ya.
"Nona, memang terlihat cepat beradaptasi" ucap Zen.
Tak lama kemudian mereka sampai di Wijaya grup. Zen turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sofi, membuat Sofi terkejut dan sedikit canggung.
"Terima kasih tuan Zen," ucapnya.
__ADS_1
"Tidak usah sungkan." jawab Zen sambil memperlihatkan senyumnya.
Sofi berjalan masuk ke dalam kantor. Namun Zen masih berdiri di dekat mobilnya dan pandangan matanya memperhatikan kantor Wijaya grup. Raut wajahnya berubah seketika mengingat masa lalunya. Ia pun segera pergi sebelum Arka datang.
Mobil Zen keluar dari Wijaya grup. Tidak lama kemudian Mobil Arka masuk dan berhenti di depan kantor. Arka turun dan berjalan masuk ke kantor. Ia melihat Sofi berdiri di depan lift. Ia langsung menghampirinya.
Sofi yang sedang menundukkan kepala menunggu pintu lift terbuka terkejut dengan sosok yang ada di sampingnya. Sepatu itu sepertinya aku kenal. Ia mengangkat kepalanya dan benar saja itu bosnya.
"Selamat pagi, bos." Sofi memberi salam padanya.
"Sepagi ini kamu sudah melamun, apa yang kamu pikirkan?"
Ting, pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam lift di susul Rama yang tiba-tiba muncul.
"Ram, hari ini aku ada meeting bersama klien baru. Nanti kamu antar aku," perintah Arka.
"Baik, bos.'" jawab Rama.
Ting, pintu lift terbuka mereka keluar.
"Sofi," suara Arka memanggilnya.
"Iya, bos." Sofi yang sudah lebih dulu jalan berhenti dan menghampiri bosnya.
"Kamu jangan lupa siapkan semuanya. Jangan sampai ada yg tertinggal apa lagi sampai ada yang salah."
"Baik, bos."
__ADS_1
Bersambung ❤️❤️❤️