
Sofi duduk di meja kerjanya. Tak lama kemudian Arka dan Rama masuk, namun tak seperti biasanya. Pandangan Arka hanya fokus ke depan tanpa menoleh. Sofi yang memperhatikan bosnya, merasa ada yang aneh dengan sikap bosnya pagi ini. Tapi Sofi tak ambil pusing, setelah berdiri dan memberi salam bosnya ia duduk kembali.
"Lihat ekspresi bos tadi tidak," ucap Alena.
"Emang ada apa?" jawab Sofi.
"Ahh kamu pura- pura Sof. Jelas-jelas ekspresinya datar, tidak seperti biasanya. Kira-kira kenapa ya?"
"Sudahlah tidak usah pusing mikirin itu, mungkin bos lagi ada masalah di luar kantor."
Rama terlihat keluar dari ruangan Arka. Ia berjalan menghampiri meja Sofi.
"Ehh itu asisten bos mau kesini," ucap Alena. Sofi dan Alena kembali fokus ke layar komputer masing-masing.
"Nona Sofi, tuan Arka menyuruh anda datang ke ruangannya sekarang juga."
"Baik, aku akan segera ke sana."
Rama menyuruh Sofi untuk jalan duluan, ia mengikuti Sofi di belakangnya. Sampailah mereka di depan ruangan Arka. Rama mempersilahkan Sofi untuk masuk, sedangkan dirinya pergi entah kemana.
"Permisi tuan?"
"Masuklah," perintah Arka.
Sofi masuk ke dalam ruangan. Arka sedang duduk di kursinya dan segera memutar kursinya setelah mempersilahkan Sofi masuk. Ia bangun dari tempat duduknya, lalu menghampiri Sofi.
"Semalem kamu kemana? aku menyuruhmu mengirim laporan tapi tidak segera kamu kirim."
"Aku sudah mengirimnya bos, hanya saja aku telat mengirim. Tapi aku benar-benar ada urusan."
Arka menatap wajah Sofi dengan tajam, membuat asistennya itu menunduk tidak berani menatapnya.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu. Aku tahu itu di luar jam kerja, tapi kalau saja laporan itu sangat penting dan menentukan nasib perusahaan bagaimana? kamu pasti akan menyesal."
"Apa maksud bos? apa laporan itu benar-benar sangat penting! terus bagaimana nasib perusahaan ini? apa akan bangkrut gara-gara itu bos?"
"Kenapa pertanyaanmu banyak sekali, membuatku pusing saja. Itu hanya misalkan, untungnya tidak seperti itu."
"Hah, apa maksud bos?"
"Sudahlah, kamu lola sekali."
Kamu yang membuatku pusing, kenapa jadi aku yang terkesan salah. Dasar!
"Baiklah, aku yang salah. Aku minta maaf."
"Lupakan, semalem kamu kemana, sampai melalaikan tugasmu?"
__ADS_1
Aku sudah tahu si, tapi apa salahnya aku dengar langsung darimu. Kira-kira kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur tidak, gumam Arka.
"Itu urusan pribadiku bos, apa kamu juga ingin tahu."
"Ehh, tidak penting! sudahlah lupakan saja pertanyaanku tadi. Sekarang lebih baik kita bahas masalah pekerjaan."
"Baik bos."
Arka mempersilahkan Sofi duduk. Mereka membahas kelanjutan proyek yang sempat tertunda. Ada beberapa investor yang bersedia bekerja sama dengan Wijaya grup, tapi Arka tidak langsung menerimanya begitu saja. Pengalaman dua kali gagal mengurus proyek ini membuatnya lebih teliti dalam mencari investor dan rekan bisnis.
Rencananya Arka ingin mengetahui dulu latar belakang perusahaan-perusahaan yang mengajaknya bekerja sama. Supaya Arka lebih bisa memilih perusahaan yang terbaik yang akan menemaninya mewujudkan proyek besarnya.
Setelah menjelaskan detail rencana selanjutnya, Sofi izin kembali ke tempat kerjanya. Ia bergegas bangun dari tempat duduknya. Tapi belum saja sampai ke pintu, suara bosnya mencegah tangannya membuka pintu.
"Sofi, tunggu sebentar," ucapnya. Sofi menoleh ke belakang melihat bosnya yang berjalan mendekatinya.
"Maaf, kalau sikapku selama ini membuatmu tidak nyaman."
Degh, Sofi kaget dengan ucapan Arka. Ia masih tidak mengerti. Suasana ruangan tiba-tiba sunyi. Mereka saling menatap dan terdiam membisu untuk sesaat.
"Ehh, tidak apa-apa bos. Tidak perlu sungkan, aku kan bawahanmu jadi tidak masalah untukku."
"Tapi itu masalah untukku Sof," ucap Arka.
"Hah, maksudnya?"
"Sudah sana kamu boleh kembali bekerja. Bekerjalah dengan baik." Arka menoleh ke arah Sofi yang masih berdiri di dekat pintu. Ia tersenyum melihat Sofi yg masih kebingungan.
"Ehh kenapa kamu masih di situ," seru Arka.
Sofi melirik bosnya sambil membuka pintu dan pergi meninggalkan ruangan Arka. Ia masih berfikir keras mencoba mencerna kata-kata bosnya namun tetap saja tidak terpecahkan oleh fikirannya. Sampai ia tidak tahu kalau sudah berjalan melewati meja kerjanya.
"Hei Sof, mau kemana kamu!"
Sofi kaget dengan suara yang memanggilnya. Ia tersadar dari lamunannya. Ia menepuk dahinya sendiri. Membalikkan badan dan tersenyum melihat Alena yang terheran-heran melihatnya. Ia segera menghampiri Alena.
"Kenapa kamu Sof, kamu sakit," ucap Alena seraya memegang dahi temannya itu. Sofi memegang tangan Alena dan menjauhkannya dari dahinya.
"Aku tidak apa-apa Len, hehe...."
"Keluar dari ruangan bos tiba-tiba aneh seperti itu. Hayo apa yang terjadi antara kalian."
"Ahh Alena aku tidak apa-apa."
"Yang bener?"
Alena menggoda Sofi dan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Sofi sedikit kesal. Tapi bukan marah loh ya?
__ADS_1
"Ehh Al kemana? tanya Sofi."
"Ahh bisa saja kamu mengalihkan pembicaraan. Ini kopimu Sof, sudah dingin. Al ada tugas dari bos, tadi Rama mengajaknya keluar. Aku tidak tahu mereka kemana."
"Ohh, terima kasih ya kopinya."
Huh gara-gara kelamaan di ruangan bos kopiku jadi dingin kan.
"Kamu masih mau meminum kopi dingin itu Sof."
"Iya sayang nih mubadzir kalau tidak di minum."
"Tahu tidak, tadi pagi Al boncengan sama Anita."
"Aku tidak tahu, sudah biarin itu urusan mereka. Al sepertinya sedang pedekate sama Anita. Melihat Al yang lebih bersikap dewasa setelah mengenal Anita aku ikut senang. Coba di bandingkan sama Al yang dulu," ucap Sofi.
"Iya benar kata kamu Sof, cinta telah merubahnya jauh lebih baik. Mudah-mudahan saja cintanya tidak bertepuk sebelah tangan."
"Ehh, kamu kapan?" ledek Sofi.
"Apanya yang kapan?"
"Menyusul Al, apa belum ada yang cocok."
"Bertanya seolah-olah dirinya sudah ada. Kamu dulu saja Sof, aku mah nyusul. Lagian Al juga belum jadian sama Anita."
"Hehehe... sudah-sudah ngobrolnya, kita kembali bekerja."
Sofi menjelaskan pada Alena tentang proyek yang akan segera di tindak lanjuti. Beberapa laporan yang sudah di buatnya ia serahkan pada Alena untuk di pelajari. Karena besok akan di adakan rapat staff perusahaan yang akan membahas rencana selanjutnya.
Sofi juga akan memberikan laporan keuangan perusahaan pada Monica. Semua persiapan rapat besok akan di urusnya hari ini. Supaya besok rapatnya bisa berjalan lancar. Di sela- sela kesibukannya Sofi mendapat sebuah Wa dari Zen.
Zen : Selamat siang Sofi, maaf mengganggu. Siang ini kebetulan saya bertemu klien di restoran dekat Wijaya grup. Bagaimana kalau kita makan siang bareng? itu pun kalau kamu tidak keberatan.
Wa dari tuan Zen, aduh gimana ya. Aku lagi males keluar, lagian tidak enak juga kalau aku menerima ajakannya terus.
Sofi : Maaf tuan Zen, aku sudah ada janji dengan Alena makan siang bareng.
Tidak butuh waktu lama Zen langsung membalas pesan dari Sofi.
Zen : Ohh, iya tidak apa-apa. Mungkin next time kita bisa makan siang bareng. Baiklah selamat bekerja Sofi.
Sofi : Terima kasih, tuan.
Sofi merasa lega, ia melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung ❤️❤️❤️
__ADS_1