Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Sama-sama tidak peka


__ADS_3

Pagi hari pun tiba, Sofi sudah rapi dan bergegas pergi ke rumah sakit sesuai perintah bosnya.


Sesampainya di rumah sakit, Sofi langsung mencari kamar di mana Monica di rawat. Tidak lama kemudian Sofi menemukan kamar Monica dan masuk ke dalam.


"Permisi, Nona Monica?"


"Ya silahkan masuk. Sepagi ini kamu sudah datang," tanya Monica.


"Rumah sakitnya tidak terlalu jauh dari rumahku jadi aku sampai lebih cepat. Baiklah aku bikinin teh hangat dulu ya."


"Tidak usah, kamu baru saja sampai. Duduklah dulu sini."


Sofi mengangguk dan duduk sebelah ranjang Monica.


"Aku mau menanyakan sesuatu padamu. Kemarin kamu pergi kemana bersama Arka.


Kenapa nona Monica menanyakan itu. Harusnya sebagai orang terdekat bos, sudah tahu kami pergi kemana. Apa aku harus bilang menginap sekamar di hotel. Ahh lagian kami kan tidak melakukan apapun jadi tidak masalah kan?


"Kami pergi ke panti jompo mengunjungi orang yang bos kenal, namanya tuan Anggara. Tiba-tiba tuan Anggara sesak nafas dan pingsan, jadi kami membawanya ke rumah sakit. Karena waktu sudah malam dan tidak memungkinkan untuk pulang, akhirnya menginap di hotel."


"Kalian menginap di hotel bertiga dengan Rama. Terus siapa itu tuan Anggara?"


"Tidak, Rama tidak ikut kemarin. Hanya aku dan bos yang pergi. Aku juga tidak tahu siapa tuan Anggara."


"Apa!! trus hanya kalian berdua yang menginap di hotel." Monica menahan air matanya mendengar cerita Sofi. Badannya sedikit drop, ia memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit. Wajahnya sedikit memucat.


Sofi menanyakan keadaan Monica dan tangannya menyentuh perut Monica, namun Monica menyingkirkannya.


"Kalian pesan dua kamar kan?"


Degh, jantung Sofi seperti berhenti mendadak mendengar pertanyaan Monica. Ia bingung harus bagaimana menjawabnya. Kalau ia jujur pasti Monica bisa menuduhnya wanita murahan dan pastinya atasannya itu akan membencinya. Tapi kalau ia berbohong dan Monica tahu sendiri dari orang, pasti Monica tidak percaya lagi padanya.


Sofi belum menjawab pertanyaan Monica. Ia menundukkan kepala berfikir sejenak.


"Kenapa lama sekali menjawab pertanyaan ku? kalau tidak melakukan hal yang buruk tidak usah takut." ucap Monica.


"Kebetulan hotelnya sedikit kecil dan hanya ada beberapa kamar saja di situ. Dan kamarnya hanya tersisa satu, jadi mau tidak mau kami menginap satu kamar berdua. Tapi Nona, kami tidak melakukan apa-apa dan kami juga tidur terpisah."


"Kalian satu kamar!!" Monica tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia pun meneteskan air mata di depan Sofi. Sofi tidak tahu harus berbuat apa. Ia berusaha menjelaskan tapi percuma, sepertinya Monica sudah kecewa padanya. Monica menyuruh Sofi pergi meninggalkannya sendiri.

__ADS_1


Sofi keluar dari kamar Monica. Ia memesan ojek online dan pergi meninggalkan rumah sakit menuju kantor. Ia tidak habis pikir Monica bisa kesal seperti itu dengannya, padahal apa yang ia ucapkan sesuai dengan yang terjadi kemarin


🍁🍁🍁


Perusahaan Wijaya grup


Sofi masuk ke dalam dan menggunakan lift untuk pergi naik ke lantai atas.


Ting, bunyi lift terbuka. Ia sampai di lantai 7, ia berjalan menuju meja kerjanya.


"Sofi, bukannya hari ini kamu di suruh bos langsung ke rumah sakit menemani Nona Monica?" tanya Alena.


"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan. Sekarang aku mau ke ruangan bos dulu." Sofi meletakkan tasnya di atas meja kerjanya dan langsung bergegas ke ruangan Arka.


"Permisi bos," ucap Sofi. Arka heran dengan kedatangan Sofi.


"Bukannya hari ini aku suruh kamu langsung ke rumah sakit?"


"Maaf bos tadi aku sudah ke sana, tapi nona Monica menanyakan padaku kemana kemaren aku dan bos pergi. Aku tidak tahu kenapa nona Monica terlihat sedih dan menangis setelah mendengar jawabanku."


"Apa yang kamu katakan padanya?"


Arka menghampiri Sofi. Matanya menatap lekat wajah Sofi menyisakan jarak 20cm.


"Kamu tidak salah."


Ehh apa-apaan ini, kenapa kamu menatapku begitu dekat. Apa ada yang aneh di wajahku.


Sofi melangkah kakinya ke belakang perlahan menjauh dari tatapan Arka. Kemudian Arka menarik lengan Sofi membuat Sofi jatuh ke dalam pelukannya. Namun Sofi dengan cepat melepaskan pelukan itu. Arka dengan erat memegang lengannya.


Kenapa dia menarik ku, apa dia sedang mabok. Sorotan matanya menakutkan. Hei lepasin aku, haduuuh!!


Sofi berusaha melepaskan dirinya yang sekarang berada sangat dekat dengan Arka, namun sangat sulit. Tiba-tiba Arka melepaskan lengan Sofi dari genggamannya.


Arrrgh, ada apa dengan ku kenapa hati ku terasa berbeda melihatnya.


"Sudah lah tidak usah di pikirkan, biar itu menjadi urusanku. Kamu sekarang bikinkan saja minuman untukku."


"Baik, bos."

__ADS_1


Sikap bosnya tadi membuat Sofi heran dan bertanya-tanya pada dirinya. Kenapa bosnya melakukan hal seperti itu. Menurutnya sangat aneh.


Sofi memasukkan teh celup ke dalam cangkir serta menambahkan satu sendok teh gula dan menuangkan air panas yang telah selesai di rebusnya, kemudian mengaduknya. Setelah selesai Sofi mengantarkannya ke ruangan bosnya.


Sofi masuk ke dalam ruangan bosnya dan meletakkan minuman di atas meja Arka. Bosnya sedang fokus mengecek laporan.


"Terima kasih," ucap Arka.


Sofi, nanti kamu ikut aku untuk ketemu klien baru kita besok.


Dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Ahh syukurlah mungkin tadi salah minum obat.


Sofi tidak fokus dengan ucapan yang di katakan bosnya.


"Sofi!! hey... kamu melamun ya."


"Ehh maaf bos, iya aku paham.'


"Paham apa? jelas-jelas kamu tidak mendengarkan ku. Coba ulangi perkataan ku tadi."


"Hah! maaf bos aku tadi melamun sebentar jadi tidak dengar."


Arka meletakkan pulpen yang dari tadi di pegangnya untuk menandatangani laporan yang ada di mejanya. Lalu ia bangun dari tempat duduknya, mengepalkan tangan dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu lupakan saja kejadian tadi, lagian aku tidak sengaja. Jangan kamu pikirkan, buang jauh-jauh pikiran jelekmu. Anggap saja aku tidak pernah melakukannya." ucap Arka


Apa!! semudah itu kamu bicara. Dasar kura-kura, menyebalkan!!


"Emang apa yang aku pikirkan, aku sudah melupakan kejadian tadi. Lagi pula aku tahu ko, mana mungkin bos sengaja melakukannya. Apa lagi aku cuma seorang asisten." Sofi tersenyum pada bosnya.


Tersenyumlah Sofi walaupun itu palsu. Biar bosmu tahu kamu tidak memikirkan kejadian tadi.


"Baguslah kalau begitu, jangan melamun lagi. Besok kamu temenin aku bertemu klien. Jelas!! tidak akan ku ulangi lagi untuk ke tiga kalinya. Sudahlah kembali sana ke mejamu."


"Baik, bos. Sofi keluar dari ruangan bosnya.


Apa tadi dia bilang, tidak memikirkan kejadian tadi dan melupakannya. Dasar tidak punya perasaan. gumam Arka. Arka melanjutkan pekerjaannya.


Jam makan siang pun tiba, Sofi dan Alena keluar ruangan dan pergi ke kantin untuk makan. Sesampainya di kantin mereka memesan makanan sesuai menu hari itu.

__ADS_1


Bersambung ❤️❤️❤️


__ADS_2