
Membuka jendela, menatap mentari yang memancarkan sinarnya ke seluruh sudut kota. Sofi berdiri di dekat jendela sekilas bayangan Arka yang semalem memeluk dirinya muncul.
Seenaknya dia memelukku tanpa rasa bersalah. Dia pikir aku perempuan apaan!
Hari ini Sofi libur kerja jadi bisa lebih santai di rumah setelah selesai mengerjakan tugas rumahnya. Ia berencana mengunjungi Anita di kosannya.
"Hallo Anita?"
"Hai Sof, ada apa pagi-pagi telepon?"
"Aku ingin main ke kosanmu nit, boleh ga nih."
"Ahh tentu saja boleh. Tapi ada syaratnya ya? kamu nanti masakin aku."
"Tenang saja gampang itu mah, ya sudah aku siap-siap dulu ya?" Sofi menutup teleponnya dan segera merapikan diri. Setelah beberapa menit Sofi siap dan ke luar kamar.
"Sepagi ini sudah rapi, mau kemana bukannya hari ini libur?" tanya Bu Tiyas.
"Ehh ibu, aku ingin main ke kosan Anita Bu?" jawab Sofi.
"Semalam bos kamu mengantarkan pulang. Kelihatannya kamu sangat akrab dengan bosmu. Sepertinya kamu pintar memanfaatkan situasi."
"Apa maksud ibu?"
"Tidak apa-apa, bagus deh kalau kamu dekat dengan bosmu. Carilah pendamping hidup yang kaya supaya tidak hidup susah terus. Jangan cari yang seperti ayahmu itu yang hidupnya pas-pasan."
"Kalau begitu kenapa ibu memilih ayah?"
"Ahh sudahlah tidak usah di bahas. Aku ingatkan kamu ya aku ini dulu banyak yang suka tapi entah kenapa ayahmu pintar sekali menggaet perempuan. Sepertinya bakatnya menurun padamu."
Dasar nenek sihir, bisa-bisanya bicara seperti itu. Aku menghargaimu sebagai ibuku, istri dari ayahku. Untung masih bisa menahan emosi. Kalau saja bukan karena ayah, sudah aku lawan!
"Wah bagus deh kalau begitu. Ibu beruntung dong dapet lelaki seperti ayah yang bisa menggaet perempuan," jawab Sofi sinis.
"Ehh, apa maksudmu. Beraninya kamu bicara seperti itu padaku!"
"Ahh tidak apa-apa, aku pergi dulu Bu."
Sejak kapan dia punya nyali melawanku.
Ara melihat Sofi melawan ibu tirinya. Ia tertawa dari balik pintu kamarnya, dan langsung lari menyusul kakaknya yang sudah keluar rumah.
"Ka Sofi, tunggu." teriak Ara
"Ehh Ara, ada apa?" Sarapan sudah kakak siapkan di meja.
Ara berhenti tepat di depan Sofi mengatur nafasnya yang masih terengah-engah setelah berlari. Ia mengacungkan jempol pada kakaknya. Sofi tidak mengerti kenapa Ara mengacungkan jempol padanya.
"Kakak hebat! lihat tadi bagaimana ekspresi Bu Tiyas yang kesal karena ucapan kakak."
__ADS_1
"Hah karena itu, kakak cuma bicara biasa saja padanya. Ahh sudahlah kakak mau pergi dulu ke kosan Anita."
"Baiklah kak, ati-ati di jalan ya?"
Sofi pergi ke kosan Anita menggunakan ojek online yang sudah ia pesan.
***
Rumah Arka
Arka berenang di kolam renangnya yang berada di samping rumah mewahnya. Ia berenang bersama Sania, adiknya.
"Kak Arka belum punya pacar juga sampai sekarang, atau jangan-jangan sudah punya tapi diam-diam." tanya Sania. Sania menepi ke pinggiran kolam renang dengan badannya menyender di dinding kolam melihat Arka yang mulai mendekatinya.
"Kakak tidak punya waktu untuk memikirkan pacaran. Lagian kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Sudah fokus saja kuliah biar cepat lulus. Tidak usah berfikir yang aneh-aneh."
Arka membuka kaca mata renangnya dan naik ke atas meninggalkan Sania yang masih terdiam di pinggir kolam renang. Seorang pelayan memberikan handuk pada Arka. Ia mengeringkan badannya dengan handuk. Setelah itu memberikan kembali handuknya kepada pelayan tadi. Lalu ia merebahkan badannya ke kursi santai pinggir kolam renang.
"Kakak terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa menyenangkan diri sendiri."
"Ehh, emangnya kamu pikir mencari pacar semudah itu," jawab Arka.
"Bukannya kak Arka banyak yang suka, kenapa tidak memilih salah satu di antara mereka. Bukannya mereka semua cantik dan kaya," ucap Sania.
"Mereka semua bukan tipe kakak. Lagian mereka hanya mengandalkan uang orang tuanya untuk mempercantik diri dan membeli barang-barang mewah."
"Terus tipe perempuan yang kakak sukai seperti apa?"
Sepertinya kak Arka sedang melamuni sesuatu. Ahh pasti ada seseorang yang membuatnya berfikir seperti itu.
Sania naik ke atas dan menghampiri Arka yang masih melamun.
"Kak Arka!" teriak Sania sambil menepuk pundak Arka. Arka kaget dengan teriakkan Sania.
"Kakak sudah gila ya senyum-senyum sendiri. Wahh ada yang tidak beres nih, jangan-jangan ngelamunin seseorang ya?" ucap Sania.
"Ahh tidak ada, sudah kakak mau mandi dulu." Arka berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sania masih penasaran dengan Arka.
***
Kosan Anita
Sofi turun dari ojek dan langsung menemui Anita yang sedang duduk santai di depan kosan.
"Wahh enak bener ya jam segini santai," seru Sofi yang meletakkan sandalnya di rak sepatu dan duduk di sebelah Anita.
"Ya dong, makanya buruan ngekos. Biar bisa santai di hari libur."
"Ahh aku masih bingung Nit, sebenarnya aku pengen banget ngekos biar dekat dengan kantor tapi aku belum bilang sama ayah. Tahu deh ayah ngizinin ga."
__ADS_1
"Ya kamu coba bilang ayahmu, dari pada bolak-balik cape di jalan tiap hari."
"Nantilah aku coba bilang, oiya kamu sydah belanja belum buat masak."
"Beres, tenang saja. Tadi sebelum kamu sampai sudah belanja di tukang sayur yang lewat tadi."
"Ok deh, aku mulai masak nih berarti."
"Siip, aku tunggu ya?"
"Ehh kamu tidak mau bantuin apa."
"Hehe... ya baiklah aku bantuin," jawab Anita.
Mereka berdua masuk ke dalam kosan dan langsung menuju dapur. Menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan untuk memasak. Kali ini Anita minta di masakin ayam teriyaki dan salad.
Sofi mulai meracik bumbu dan mulai memasukkan satu persatu bahan-bahan ke dalam wajan. Ia mulai memasak. Anita membantu Sofi memasak dan sesekali mengambil foto Sofi saat memasak.
Tak butuh waktu lama mereka selesai memasak. Anita menyiapkan masakan yang telah matang di atas meja. Sofi mempersiapkan jus Alpukat kesukaannya dan jus mangga kesukaan Anita. Setelah itu mereka duduk dan makan bersama.
"Hemm... masakan kamu memang tiada duanya Sof," puji Anita.
"Ahh bisa saja kamu Nit. Oiya kemaren kamu jadi nonton sama Al."
"Ko kamu tahu, Al cerita ya sama kamu."
"Tidak juga si, Al cuma menanyakan padaku kamu suka nonton tidak."
"Ohh, iya kita jadi nonton. Ehh ko aku ngerasa Aldi sekarang beda ya sikapnya. Dia sedikit canggung sekarang di depanku. Padahal sebelumnya dia tidak seperti itu."
"Masa Nit, menurutku mungkin ada sesuatu yang Al tutupin darimu. Kamu coba cari tahu sendiri saja."
"Tapi dia bilang lagi sakit."
Al belum berani mengungkapkan perasaannya. Biarin Anita tahu sendiri langsung dari Al, gumam Sofi.
"Ehh gimana hubunganmu dengan bosmu sekarang?"
"Gimana apanya?"
"Ahh sekarang kamu sudah tidak pernah cerita padamu tentangnya. Sepertinya kalian sudah akur ya."
"Biasa saja, aku lagi malas membahasnya."
"Kenapa?"
"Ahh sudahlah di hari libur seperti ini kenapa mesti ngebahas bos si."
"Ya deh, habis makan kita pergi yuuk. Kita pergi ke taman gimana?" ajak Anita pada Sofi.
__ADS_1
"Boleh," jawab Sofi.
Bersambung ❤️❤❤