
Zen dan ayahnya sampai di villa miliknya.
"Ayah, ini villaku. Aku tinggal di sini bersama para pelayan yang bekerja di sini." Aku harap ayah betah di sini."
Ayah Zen tidak menjawab, hanya sedikit mengangguk. Pandangannya tertuju ke salah satu foto dirinya dan seorang perempuan yang menggendong anak laki-laki yang masih sangat kecil. Ia memutar roda kursi rodanya mendekati foto itu.
"Itu ayah, ibu dan aku sewaktu aku masih kecil yah, apa ayah masih ingat." ucap Zen.
Tuan Anggara masih tidak menjawab ucapan anaknya. Ia masih terus memandangi foto yang terpajang di dinding yang ukurannya hampir memenuhi dinding itu.
"Ya sudah, ayah sekarang istirahat dulu." Zen memberi isyarat pada pelayannya yang sedari tadi berdiri di belakangnya setelah menyambut tuannya datang. Zen menyuruhnya untuk mengantarkan tuan Anggara ke kamar.
Zen memandangi ayahnya yang sudah di bawa pelayan menuju kamarnya. Zen sekilas melirik foto itu. Dan berlalu pergi ke kamarnya. Ia duduk di pinggir tempat tidur, mengusap wajahnya dengan tangan
sambil menghentakkan kakinya beberapa kali.
Tiba-tiba Zen ingat dengan dompet yang di temukannya di rumah sakit. Di ambilnya dompet itu dari atas meja kerjanya yang berada di kamarnya. Ia mengambil hp yang ada di kantong jasnya. Memencet nomer yang ada di dalam dompet yang sedang ia pegang.
πππ
Hp Sofi berdering, satu panggilan telepon dari nomer yang tidak di kenal. Sofi menyibak rambutnya dan menempelkan hp nya ke telinganya.
"Halo, maaf dengan siapa ini?"
"Apa benar ini nona Sofi, aku Zen yang menemukan dompet nona di rumah sakit."
"Ohh ya dompetku kemarin hilang, ternyata kamu yang menemukan. Kamu orang yang jujur, jaman sekarang jarang sekali ada orang jujur sepertimu. Baiklah sebelumnya terima kasih ya. Oiya aku bisa mengambil dompetku kemana?" tanya Sofi.
"Bisakah kita bertemu di kafe x."
"Ok bisa, tunggu ya? aku segera ke sana. Sofi menutup teleponnya dan segera beranjak dari tempat tidurnya mengambil tas dan keluar untuk menemui Zen. Sofi memesan ojek online untuk mengantarkan dirinya ke tempat tujuan.
πππ
Kafe
Sofi menelepon nomer tadi.
"Hai aku sudah di depan kafe, kamu sebelah mana?
"Masuk saja ke dalam, aku di meja nomer 10."
"Ohh ok baiklah, aku segera ke sana."
Sofi masuk ke dalam kafe, Matanya memutari semua sudut ruangan kafe. Mencari meja nomer 10 sesuai perintah Zen.
"Ahh itu dia," ucap Sofi sambil menunjuk salah satu meja bertuliskan angka 10. Di situ duduk seorang lelaki yang hanya bisa di lihat punggungnya. Sofi menghampiri lelaki itu.
__ADS_1
"Permisi... mata Sofi menatap lelaki yang baru saja di temuinya.
Lelaki ini bukannya yang ada di fotonya bos, yang ada di meja kerjanya waktu itu. Ahh tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja. Lagian kan di dunia ini kan banyak yang wajahnya hampir mirip. Tapi ini tidak kalah tampan sama bos. Ehh Sofi apa yang kamu ucapkan, bisa-bisanya kamu memuji bosmu yang angkuh itu.
Waktu itu Sofi tidak sengaja melihat foto yang tergeletak di meja kerja Arka. Walaupun cuma sekilas tapi cukup jelas.
"Nona Sofi, silahkn duduk."
Zen tanpa bertanya lagi seperti sudah mengenal Sofi, padahl ini pertama kalinya dia bertemu dengannya. Zen tidak sengaja melihat foto Sofi yang terpampang di dalam dompetnya, sewaktu ia mencari identitas pemilik dompet.
"Ya, terima kasih. Sofi menarik kursi yang ada di hadapan Zen dan mendudukinya.
"Nona Sofi, ini dompet anda kan?" Zen menyodorkan dompet yang diambil dari saku jasnya.
"Ahh ya benar ini dompetku. Wahh sekali lagi terima kasih banyak ya.
Sudah baik hati, tampan pula. hehe....
"Silahkan di minum, sudah ku pesankan minuman untukmu. Semoga kamu suka, kalau tidak suka bisa di ganti dengan yang lain."
"Ahh tidak usah, kebetulan aku suka es mocacino ini." Sofi mengambil minumannya dan menyedotnya perlahan, menikmati rasa mocacino yang khas dari kafe itu.
"Nona tinggal di mana?"
"Aku tinggal tidak jauh dari sini."
"Ehh tidak usah, merepotkan tuan nanti. Maaf nama tuan tadi siapa?"
"Namaku Zen putra Anggara, kamu cukup memanggilku Zen."
"Nama yang bagus, oh ya namaku Sofia Raina. Ahh pastinya tuan sudah tahu namaku."
Zen tersenyum mendengar ucapan Sofi.
"Nama nona lebih bagus, ucap Zen sambil sedikit memunculkan senyumnya.
"Nona tidak bekerja hari ini?" lanjut Zen sambil menyeruput kopi moccacino yang di pesannya.
"Ahh bisa saja tuan. Kemaren ada tugas ke luar daerah untuk mengunjungi saudara bosku yang ada di panti jompo, jadi hari ini aku di kasih free olehnya."
Zen kaget dan tersedak mendengar ucapan Sofi.
Kenapa kejadiannya sama seperti kemarin. Apa Sofi perempuan yang bersama Arka kemaren di rumah sakit?
"Ehh tuan kenapa?" Sofi berdiri dan menghampiri Zen, menepuk punggung Zen yang sedang batuk karena tersedak tadi. Zen berhenti batuk dan melirik Sofi yang berdiri tepat di sampingnya.
"Maaf tuan aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin membantu saja."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, terima kasih." Sofi kembali duduk di kursinya.
"Oh ya tuan, aku pamit pulang dulu. Aku takut orang rumah mencariku."
"Silahkan, aku antar."
"Tapi tuan... ?"
"Tidak menerima penolakan." Zen berdiri dan meninggalkan Sofi yang masih duduk memikirkan tawaran Zen.
Apa yang harus aku lakukan. Tidak enak juga kalau harus menolak, bagaimana pun juga ia sudah menemukan dan mengembalikan dompetku. Ya sudahlah apa salahnya juga mengiyakan, lagian cuma mengantar pulang.
Sofi keluar kafe dan melihat Zen yang sudah menunggunya di dalam mobil tepat di depan pintu kafe.
"Ayo masuk, " ucap Zen.
Sofi membuka pintu depan mobil Zen, dan duduk di sebelah Zen. Zen membawa mobil cukup cepat menuju rumah Sofi.
"Kamu bekerja di mana?" tanya Zen.
"Aku bekerja di Wijaya grup," jawab Sofi.
Zen tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya begitu mendengar Wijaya grup, membuat mata Sofi terbelangak, tangannya memegang sabuk pengaman dengan erat.
Kenapa menambah kecepatan mendadak. Apa yang sedang di pikirannya.
"Bisakah kamu pelankan kecepatannya."
"Maaf, saya tidak sengaja menginjak gas." Zen mencari alasan. Sofi menghela nafas panjang secara perlahan setelah Zen menurunkan kecepatan mobilnya.
"Ya, tidak apa-apa." Aku hanya kaget saja. Oh ya nanti berhenti di depan gang itu ya, Sofi menunjuk gang masuk rumahnya yang sudah terlihat dari dalam mobil.
Mobil berhenti tepat di depan gang.
"Apa masih jauh ke dalam."
"Tidak, hanya jalan kaki 50 meter saja dari gang."
"Apa perlu aku antar."
"Ahh tidak perlu, terima kasih untuk semuanya. Maaf sudah merepotkan. Baiklah aku turun dulu. Sofi melambaikan tangan dan Zen membalasnya dengan senyum.
Zen melajukan mobilnya dengan cepat setelah melihat Sofi yang sudah berjalan memasuki gang.
Bersambung β€οΈβ€οΈβ€οΈ
Dukung Author terus dengan like, komen, dan vote ya readersπ
__ADS_1