Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Merasa kecewa


__ADS_3

Sampailah di tempat yang di tuju


"Kita sudah sampai tuan?" ucap Kenan. Ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Zen dan Sofi.


Tempat ini sedikit berubah, dulu ada ayunan di sebelah tempat parkir tapi sekarang sudah menjadi tempat parkir semua. Mereka telah melakukan renovasi di beberapa lokasi.


"Tuan," seru Sofi. Zen tersadar setelah Sofi menepuk lengannya.


"Maaf nona Sofi, saya sedikit terpukau dengan suasana di sini, terlihat sangat indah."


"Tuan, anda sebaiknya memanggilku Sofi saja. Aku merasa tidak enak jika di panggil nona."


"Baik, kalau itu membuatmu lebih nyaman. Ayo kita menuju ke sana. Ada sebuah restoran di atas kapal yang bagus. Kamu pasti suka," ucap Zen.


Mereka bertiga pun berjalan menuju restoran yang di maksud yang berada di dekat sungai. Sebelumnya Kenan sudah memesan satu meja untuk Zen dan Sofi dan sudah menyiapkan semuanya, termasuk menyewa grup musik untuk menyanyikan beberapa lagu klasik untuk menghibur mereka.


Sampai di restoran, Sofi kaget melihat suasana restoran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Restoran yang letaknya di atas kapal yang tidak terlalu besar namun terlihat romantic di buat khusus untuk para pengunjung.


Zen menarik satu kursi dan mempersilahkan Sofi untuk duduk. Pandangan Sofi tertuju pada air mancur yang berada di tengah sungai.


"Terima kasih tuan, aku sangat-sangat terpukau dengan semua ini. Semuanya terlihat indah."


"Semoga kamu suka Sof."


"Suka sekali, tuan."


Ehh, tapi kenapa bukan kekasihnya yang di ajak kesini malah aku yang di ajak.


"Malam ini kamu bisa menikmati makanan yang kamu mau, Sof. Pelayan akan melayani semua kemauan kita."


"Hah, serius. Jangan bilang tuan sengaja memboking restoran ini. Aku lihat di sini sepi, apa mungkin restoran sebagus ini sepi pengunjung."


Zen hanya tersenyum dengan ucapan Sofi. Ia melihat sekeliling kapal yang sudah jauh berbeda dengan yang ia lihat dulu. Makanan pembuka pun akhirnya datang, seorang pelayan menyajikannya di atas meja.


"Sofi, silahkan nikmati makanan pembuka ini. Kalau ada yang ingin kamu pesan, bilang saja biar Ken yang memanggil pelayan."


"Ahh tidak tuan, ini juga sudah sangat banyak. Padahal baru makanan pembuka.


Mereka pun menikmati makanan yang sudah tersaji. Sesekali Zen melirik Sofi yang sedang mencoba salad sayur yang ada di hadapannya. Terlihat jelas Sofi tidak menyukai itu, namun ia berusaha untuk memakannya sedikit demi sedikit.


"Kalau tidak suka, ambilah menu yang lain jangan di paksain."

__ADS_1


"Emang masih terlihat ya. Padahal aku berusaha menutupinya darimu tuan."


"Terlihat jelas dari ekspresimu. Sudah tidak apa Sof."


"Hah, aku jadi merasa tidak enak."


Setelah selesai makan makanan pembuka, lanjut dengan makanan utama. Pelayan membawakan steak dengan daging pilihan yang menjadi menu andalan di restoran itu.


Tidak ada yang berbeda dengan rasa steak ini. Rasanya masih tetap sama dengan yang dulu.


"Ini baru aku bisa makan," ucap Sofi. Zen Melihat Sofi menyantap steak dengan semangat dan lahap.


"Steak di sini sangat enak, bahkan aku sanggup menghabiskannya," ucap Sofi.


"Aku pesankan lagi kalau mau," ucap Zen.


"Tidak tuan, terima kasih."


Pelayan pun datang untuk mengambil piring yang sudah kosong. Setelah itu, satu pelayan lainnya datang menyajikan hidangan penutup. Diantaranya ada es krim, berbagai macam cake, buah dan lain-lain.


Apalagi ini, banyak sekali hidangannya. Aku sudah cukup kenyang. Tapi tidak enak kalau tidak mencobanya.


***


Arka sampai di tempat yang sama dengan Zen dan Sofi. Ia turun dari mobil dan langsung menuju restoran yang berada di atas kapal. Ia mencari keberadaan Sofi dan Zen. Setelah beberapa menit, pandangan Arka menuju ke salah satu restoran terbuka yang ada di atas kapal. Dan benar saja di situ ia melihat Sofi dan Zen sedang duduk di salah satu meja. Mereka terlihat sedang asyik menikmati hidangan.


Arka mencari tempat yang lebih tertutup supaya tidak ketauan sekretaris Ken yang sedari tadi pandangannya mengitari semua sudut restoran.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dinner. Ternyata segampang itu Sofi. Aku pikir dia beda dengan yang lainnya. Aku sudah merasa kagum dengannya, namun melihatmu dengan Zen sekarang aku merasa kecewa dan pandanganku terhadapmu seketika berubah, walaupun hatiku ...ahh sudahlah, gumam Arka.


Zen mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya. Sebuah kalung berwarna silver dengan liontin berbentuk bintang di ambilnya dari kotak dan di berikannya pada Sofi. Sofi sangat terkejut melihat kalung yang sudah berada di hadapannya. Ia memegang dan memperhatikannya secara detail.


Melihat Sofi yang memegang kalung liontin dari Zen, Arka pergi meninggalkan tempat itu. Dari jauh Kenan memperhatikan Arka yang berjalan ke luar restoran dengan raut muka di tekuk dan kecewa. Melihat Arka seperti itu Kenan tersenyum sinis.


Sesampainya di tempat parkir, ia langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil lebih kencang dari biasanya, membuat Rama kaget dan melepaskan headsetnya.


"Kenapa tuan, apa terjadi sesuatu di dalam?"


"Aku malas membahasnya, sekarang kita pulang saja," jawab Arka.


"Baik kalau begitu tuan." Rama membawa mobil ke luar area parkir dan melaju dengan cepat ke arah pulang.

__ADS_1


***


"Maaf tuan aku tidak bisa menerima itu," ucap Sofi.


"Tidak apa-apa aku tidak akan memaksa, mau menemaniku makan malam saja sudah cukup bagiku. Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa tiba-tiba aku memberikan kalung liontin ini padamu, apalagi kita baru kenal. Sungguh tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar memberi hadiah untuk teman baru. Semoga kelak kita bisa lebih dekat lagi."


Lebih dekat? apa maksudnya?


"Maaf tuan, ini sudah malam dan kita sudah selesai menyantap hidangan penutup. Lebih baik kita pulang sekarang. Orang rumah pasti menungguku."


"Baik, mari kita pulang."


Zen berdiri dari kursinya dan mempersilahkan Sofi untuk jalan duluan. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Sebelum masuk mobil, Sofi mengucapkan terima kasih pada Zen karena sudah mengajaknya makan malam di tempat yang belum pernah ia kunjungi.


Ken membukakan pintu mobil untuk bosnya dan Sofi, kemudian menutupnya kembali. Ia duduk di kursi pengemudi dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang mengantarkan Sofi pulang.


"Tuan maaf, bolehkah saya bertanya sesuatu?"


Zen mengangguk dan tersenyum pada Sofi, mempersilahkan Sofi untuk menanyakan sesuatu padanya.


"Apa sebelumnya tuan sudah pernah ke restoran tadi?"


Tiba-tiba Ken menaikkan kecepatan mobilnya membuat Sofi kaget.


"Ken, tidak baik membawa mobil terlalu cepat," ucap Zen.


"Maaf tuan, nona Sofi sebaiknya tidak bertanya hal-hal seperti itu. Bukannya itu terlalu ikut campur," ucap Ken.


Pertanyaanku sepertinya biasa saja, ikut campur apa? dasar sekretaris misterius.


"Sudah Ken cukup! Sofi bertanya padaku, jadi harusnya aku yang menjawabnya bukan kamu."


"Maaf tuan," ucap Ken sedikit kesal. Ken sekretaris yang sangat melindungi privasi bosnya. Jelas dia tidak suka dengan pertanyaan Sofi tadi.


"Ya aku pernah ke situ sebelumnya, tapi sudah lama. Makanya aku ingin menunjukkannya padamu, karena itu tempat yang bagus."


"Ohh, iya benar sekali itu tempat yang sangat bagus," ucap Sofi.


Sofi memperhatikan Ken yang masih terlihat kesal. Ia merasa tidak enak sudah membuat suasana hati Ken tiba-tiba memburuk.


Bersambung ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2