Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Nasehat ayah


__ADS_3

Sofi sampai di rumah langsung bergegas mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu merebahkan badannya di atas tempat tidurnya. Melepas lelah yang ia rasakan dalam tubuhnya, mencoba memejamkan mata, namun terdengar suara panggilan dari arah balik pintu kamarnya.


"Kak Sofi," terdengar suara Ara memanggil.


"Masuk Ra tidak di kunci."


Ceklek, bunyi pintu kamar terbuka. Ara menghampiri Sofi dan duduk di sebelah kakaknya. Sofi bangun dan menanyakan pada Ara, ada apa mencarinya.


"Ada apa Ra?" kamu sudah pulang sekolah, tumben cepat.


"Ahh tidak ada apa-apa, hari ini ada rapat guru jadi dibebaskan dan pulang cepat," jawabnya dengan senyum dari bibirnya yang memperlihatkan sedikit gigi depannya.


"Ehh iya ka, kemarin kakak diajak kemana sama bos kakak. Jangan-jangan kakak ada hubungan spesial ya dengannya."


Tiba-tiba Sofi memencet hidung Ara dan mengacak-acak rambutnya.


"Pemikiranmu terlalu jauh. Dengerin kakak ya? Kakak tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kakak kemarin di ajaknya karena ada urusan bisnis. Lagi pula kakak kan sudah telepon ayah."


"Ohh.... aku pikir??"


"Masih kecil pikirannya sudah jauh sekali. Sudahlah ayo kita ke luar, kakak mau masak dulu buat makan siang."

__ADS_1


"Ok deh, Ara bantuin ya kak."


"Siiip," Sofi dan Ara beranjak dari kasur dan keluar kamar menuju dapur.


Membuka kulkas, terlihat ada tiga ikat sayur bayam dan beberapa potong ayam serta bumbu dapur yang masih tersisa sedikit. Sofi memasak dengan bahan seadanya yang ada di dalam kulkas.


"Apapun masakannya, yang penting kak Sofi yang masak semuanya akan menjadi istimewa rasanya." puji Ara.


"Kamu terlalu memuji Ra."


"Ehh bener tahu kak, kemarin ibu Tiyas yang masak rasanya tidak masuk akal masakannya, Asin dan asam. Hampir saja aku melepehkan makanan yang ku kunyah di depannya. Untung saja bisa aku tahan, dan pura-pura saja ke kamar mandi sebentar."


"Ahh kamu Ra bisa saja alasannya. Terus bagaimana dengan yang lain. Apa memakan makanan itu."


Memasak untuk keluarga tercinta itu tidak butuh keahlian. Memasak harus menjadi suatu kebiasaan supaya makanan yang kita masak mempunyai rasa yang enak dari hari ke hari, itu menurut author ya?? Setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang memasak.


🍁🍁🍁


Makanan sudah tersaji di atas meja makan, Sofi memanggil yang lain untuk makan. Bu Tiyas keluar dari kamarnya dan berhenti tepat di depan Sofi.


"Sofi, hebat ya kamu. Aku pikir kamu perempuan alim yang tidak mungkin menginap dan pulang pagi, tapi ternyata...!!"

__ADS_1


"Sudah... sudah.. mari kita makan." ucap ayah Sofi yang baru keluar kamar.


Sofi masih mematung mendengar ucapan ibu tirinya, rasanya tidak tahan. Bulir-bulir air mata pun menetes dari matanya. Sofi segera mengelapnya dengan tisu yang ia raih dari kotak tisu di meja.


Mereka menuju meja makan. Vina dan Dika belum pulang dari sekolah. Hanya ada bu Tiyas, ayah Sofi, Sofi dan Ara. Mereka menikmati makan siang yang tersedia di atas meja makan.


🍁🍁🍁


Setelah selesai makan pak Agung duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu.


"Sofi, panggil Pak Agung."


"Ya yah." Sofi menyenderkan sapu ke tembok yang habis di pakainya untuk menyapu ruang tamu dan langsung menghampiri ayahnya.


"Sini duduk, ayah mau bicara sebentar." Sofi duduk di sebelah ayahnya.


"Nak, ayah tahu kamu anak baik dan tidak akan berbuat macam-macam di luar sana. Ayah hanya ingin berpesan padamu. Jaga diri baik-baik di mana pun kamu berada ya nak, karena kamu sudah dewasa tidak mungkin ayah memperhatikanmu terus."


"Baik yah, Sofi mengerti. Sofi akan selalu ingat nasehat ayah."


"Ya sudah, kamu belum sholat kan? sholat dulu sana keburu waktunya habis. Setelah itu kamu istirahat, pasti cape kan?"

__ADS_1


"Ya yah, ayah juga istirahat." Sofi meninggalkan ayahnya dan mengambil air wudhu untuk sholat.


Bersambung ❤️❤️❤️


__ADS_2