Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Pasar malam


__ADS_3

Sofi balik menghampiri Anita di depan panggung.


"Ada apa bosmu memanggilmu, Sof."


"Ahh tidak ada apa-apa, hanya di mintai pendapat saja."


Sebaiknya aku tidak usah cerita dulu kalau bos Arka mengajakku makan malam. Bakal abis deh aku di ledekin Anita.


"Hei kenapa bengong," seru Anita.


"Tidak apa-apa, ayo kita pulang Nit sudah siang kasian Ara pasti menungguku."


Mereka berdua pun pulang ke tujuan masing-masing. Sepanjang jalan Sofi memikirkan ajakan bosnya untuk makan malam. Ia berencana menunjukkan tempat yang pastinya tidak pernah di kunjungi bosnya.


***


Sesampainya di gang


Sofi turun dari angkot dan berjalan menuju rumah. Ia melihat Ara sedang duduk di teras sambil melipat baju yang barusan di ambil dari jemuran.


"Duh duh duh, rajinnya perawan yang satu ini," seru Sofi yang duduk di samping Ara sambil membetulkan kunciran rambutnya.


"Ka Sofi tumben lama biasanya kalau maen sebentar, dari mana saja."


"Ahh, sudah pinter mengintrogasi ya? Anita tadi mengajak kakak ke taman. Ehh di sana malah bertemu bos Arka dan asistennya yang horror itu. Hah mereka berdua selalu menghantuiku."


"Coba kalau Ara tahu kak Sofi ke taman, pasti Ara susulin. Udah lama tidak ke sana."


"Hei tenang saja nanti kalau libur kerja lagi kakak ajakin ke sana. Jangan cemberut ya sayang?" goda Sofi pada Ara sambil mencubit pipi Ara yang mirip bakpou.


Sofi mendekati Ara dan merapikan rambut adiknya dengan tangannya, dan mengepang nya menjadi dua bagian. Rambut Ara lurus dan panjang jadi mudah mengaturnya.


"Nah sudah selesai, baguskan? begini terlihat lebih rapi. Kamu anak gadis harus pandai merapikan rambut, mengerti tidak."


"Ahh siap bos."


Ibu Tiyas membuka pintu rumah, melirik sebentar ke arah Ara dan Sofi lalu ia berlalu pergi entah mau kemana. Dandanannya sedikit menor, membawa tas kecil yang di slempangkan ke badannya dengan jam tangan yang terpasang di tangannya.


Kasihan ayah kenapa mendapat pengganti ibu seperti ibu Tiyas yang hanya mementingkan urusan sendiri. Jodoh memang tidak ada yang tahu, gumam Sofi dalam hati.


Sofi masuk ke dalam rumah meninggalkan Ara yang masih sibuk dengan kerjaannya. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya ke kasur, mengambil hp nya di dalam tas dan mengecek pesan yang masuk. Dua pesan masuk dari Anita dan bosnya, ia segera membukanya.


Wa dari Anita


Anita: Sof aku sudah sampai kosan nih.

__ADS_1


Sofi: Ya Nit, aku juga sudah sampai rumah.


Wa dari Arka


Arka: Jangan lupa nanti malam aku jemput jam setengah delapan, kamu harus sudah siap. Jangan membuatku menunggu!


Sofi: Ya, baiklah.


"Hah," Setelah membalas pesan mereka, Sofi meletakkan hp nya di sampingnya.


Ia memejamkan mata dan larut dalam mimpinya.


"Tok tok, ka Sofi." suara Ara memanggilnya namun sudah tidak ada jawaban. Ara pun membuka pintu kamar kakaknya yang tidak di kunci. Ia melihat kakaknya tertidur pulas di tempat tidur dan tidak berani mengganggunya. Ara menutup kembali pintu kamar Sofi. Ia kembali ke meja makan.


"Mana kak Sofi mu Ra, dia tidak ikut makan?"


"Kak Sofi tidur yah. Ara tidak berani membangunkannya, kasian kak Sofi baru pulang."


"Oh ya sudah kita makan dulu saja."


Ara, Vina dan Dika mengangguk. Mereka makan siang bersama tanpa Sofi dan Bu Tiyas.


***


Jam menunjukkan pukul 7 malam. Sofi bersiap diri untuk pergi makan malam bersama Arka. Ia memakai pakaian santai biasa karena tempat yang ingin ia kunjungi tempat umum biasa jadi tidak memerlukan gaun indah seperti di negeri dongeng.


Ting tong, bel rumah berbunyi. Sofi keluar kamar dan membukakan pintu. Di lihatnya sesosok lelaki yang ia kenal menggunakan celana jeans dan kemeja berwarna biru dongker membuatnya terlihat semakin tampan. Sofi terkejut dan tertegun melihat penampilan Arka.


"Hei apa yang kamu lihat! kenapa melotot seperti itu, membuatku takut saja. Kamu belum siap ini sudah jam berapa?"


"Ehh iya, aku hanya kaget saja melihat penampilan bos. Biasanya kan pakai setelan jas. Sekarang jauh berbeda, terlihat lebih muda, hehe..."


"Maksudmu selama ini aku terlihat tua."


"Tidak juga, aku tidak bilang bos terlihat tua."


"Ahh sudahlah, Itu kenapa kamu belum siap. Liat jam berapa sekarang," seru Arka.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat." Sofi menutup pintu dan menarik tangan bosnya. Tanpa di sadari Arka tersenyum melihat Sofi yang memegang tangannya. Setelah sampai depan jalan Sofi baru sadar dari tadi memegang tangan bosnya.


"Ehh maaf, aku tidak sengaja bos." Sofi menunduk minta maaf pada Arka.


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Arka sembari sedikit memunculkan senyumnya dan membetulkan jam tangannya yang ke geser setelah Sofi melepaskan tangannya.


Arka masuk ke dalam mobil, kali ini ia membawa mobil sendiri tanpa Rama.

__ADS_1


Tumben si horror itu tidak ikut. Biasanya mereka selalu berdua tak terpisahkan.


"Cepatlah masuk!" seru Arka dari dalam mobil.


Sofi langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menanyakan pada Sofi tempat yang akan di kunjunginya.


Sofi menunjukkan arah jalan ke suatu tempat yang ingin Sofi tunjukkan pada Arka. Tidak butuh waktu lama, Sofi menyuruh Arka menghentikan mobilnya di sebuah lapangan besar. Di sana terlihat banyak orang yang masuk lapangan. Arka heran kenapa bukan sebuah tempat makan seperti restoran atau kafe malah lapangan dan banyak orang berkerumun mengantri di sebuah loket.


"Hah, akhirnya sampai juga," ucap Sofi.


"Sebentar, ini tempat apa dan kenapa kamu membawaku ke sini. Bukannya kita mau makan malam?"


Sofi tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Arka, ia turun dari mobil dan menghirup udara malam yang sejuk.


"Ayo bos turun sini, kita masuk ke dalam."


Arka membuka pintu mobilnya dan turun. Ia menghampiri Sofi.


"Ini tempat apa?"


"Ini pasar malam bos, di dalamnya ada komedi putar. Liat tuh orang-orang mengantri tiket di sana untuk masuk ke dalam."


Sofi melihat penjual jagung bakar, ia mengajak Arka untuk makan jagung bakar. Arka hanya menurutinya tanpa protes.


Melihatmu begitu senang, aku ikut senang Sof. Walaupun sebenarnya aku tidak begitu suka tempat seperti ini. Tapi apa salahnya mencoba, mungkin akan berbeda jika menikmatinya bersamamu.


"Bang jagung bakar dua ya," ucap Sofi pada penjual jagung bakar.


"Mau rasa apa nona," jawab penjual jagung bakar.


"Bos mau rasa apa."


"Rasa yang sama denganmu."


Ehh, apa maksudnya. Kata-katanya seperti teka-teki. Ahh hanya kebetulan saja.


"Rasa barberque dua ya bang."


"Baik nona, tunggu sebentar ya?"


"Bersambung ❤️❤❤️


Dukung Author terus ya readers 😉


Dengan like, koment and vote terima kasih 😊❤️

__ADS_1


__ADS_2