Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Pertemuan Arka dan Zen


__ADS_3

Arka keluar menemui Zen untuk memberikan sesuatu. Ia menemui Zen di sebuah kafe. Sesampainya di kafe, Arka duduk menunggu Zen datang. Ia memesan dua minuman, secangkir kopi latte untuknya dan segelas es mocacino kesukaan Zen. Arka tahu betul teman masa kecilnya sangat menyukai minuman itu. Tak lama kemudian Zen sampai di kafe dan langsung menemui Arka di dalam.


Arka menatap Zen yang berjalan menghampirinya. Sampailah Zen ke meja no. 8. Di sana ada Arka yang sudah menunggunya. Tanpa basa basi Zen menarik kursi dan mendudukinya. Tatapan Zen beralih ke segelas es mocacino yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum sinis melirik Arka.


"Aku pikir kamu sudah benar-benar melupakanku. Ternyata untuk hal sekecil ini kamu masih mengingatnya. Aku salut denganmu," ucap Zen.


"Aku tidak pernah melupakan masa kecilku. Tidak denganmu saja, dengan teman lainnya pun aku masih mengingatnya."


Zen kembali menatap Arka, kali ini ia tersenyum dan sedikit tertawa hingga menggerakkan bahunya. Arka hanya menatapnya tajam. Ia membiarkan Zen begitu saja mentertawakannya tanpa membalasnya.


"Pastinya kamu akan selalu mengingatnya, termasuk mengingat Sandra, cinta pertama seorang Arka putra wijaya." Ahh kamu tentu tahu sebentar lagi Sandra akan pulang dan menetap di sini. Bukannya itu sebuah kabar gembira, kamu sudah lama menantikan kedatangannya kan."


"Aku tidak mau berdebat denganmu untuk masalah itu. Itu semua sudah berlalu," ucap Arka. "Kedatanganku ke sini hanya ingin memberikan surat rumahmu. Ini semua milikmu dan aku kembalikan padamu."


Zen melihat sebuah sertifikat rumah yang di sodorkan Arka padanya di atas meja.


"Kamu tidak perlu repot-repot mengembalikan semua itu padaku. Bukannya kamu dulu merampasnya dariku. Kenapa sekarang mengembalikannya lagi padaku. Kamu terlalu naif Arka!"


"Kenapa kamu masih menganggapku salah Zen. Aku tahu dalam hatimu, kamu masih menganggapku teman. Hanya saja kamu terlalu gengsi mengungkapkannya."


"Cukup!" seru Zen. "Jangan kamu buka lagi luka lamaku. Aku sudah menguburnya dalam-dalam. Yang aku tahu sekarang antara aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."

__ADS_1


Zen mengambil gelasnya dan meneguk es mocacino beberapa kali. Setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan Arka, di ikuti Kenan sekretarisnya.


"Tuan, sebaiknya kita kembali ke kantor." ucap Rama.


Arka berdiri dan berjalan keluar kafe. Ia melihat mobil Zen yang sudah keluar dari area kafe. Rama berhenti tepat di depan Arka. Ia turun dan membukakan pintu mobil untuk bosnya. Rama menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.


Rama tahu betul bagaimana perasaan bosnya saat ini, hingga ia tidak berani menanyakan apapun pada bosnya.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di kantor. Arka masuk ke dalam kantor. Ia berhenti sebentar setelah melihat Sofi bersama Alena keluar dari ruangan untuk makan siang. Mengingat kotak yang di pegang Sofi waktu dirinya keluar kantor dan berpapasan dengan Sofi di lift. Arka sangat penasaran isi kotak yang di berikan Zen pada Sofi.


"Rama, tolong cari tahu kotak yang di berikan Zen pada Sofi."


"Kotak, kotak apa bos?"


Rama mencoba mengingat kembali. Bukan Rama namanya kalau tidak bisa mengingat peristiwa atau kejadian yang telah terjadi.


"Baik bos," ucap Rama.


Untuk apa bos begitu ingin tahu kotak yang di bawa nona Sofi. Apapun yang berhubungan dengan nona Sofi, membuat bos penasaran dan ingin tahu.


***

__ADS_1


"Tuan, semuanya sudah beres. Saya sudah memberikan kotak itu pada nona Sofi," ucap Kenan.


"Bagus kalau begitu," ucap Zen.


Zen langsung menghubungi Sofi.


"Selamat siang nona Sofi? maaf mengganggu."


"Ya tuan, tidak menggangu. Kebetulan saya sedang makan siang di kantin. Ohh ya tuan tadi sekretaris tuan memberikan kotak padaku dan aku sudah membukanya. Aku tidak tahu maksud tuan memberikan gaun itu."


"Maaf nona Sofi, jika berkenan nanti malam saya ingin mengajak nona untuk makan malam."


Makan malam bersama tuan Zen, apakah aku harus menerimanya.


"Bagaimana nona?"


"Ya tuan,"


"Maaf nona kalau terkesan memaksa. Aku harap nona mau menerima ajakanku," lanjut Zen.


"Saya akan mengusahakannya tuan. Terima kasih untuk gaunnya."

__ADS_1


"Sama-sama nona, semoga nona Sofi suka. Baiklah nanti malam saya jemput jam 8 ya."


Bersambung ❤️❤❤️


__ADS_2