Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Menyusun Rencana


__ADS_3

Zen memiliki sebuah perusahaan besar yang ia bangun saat ia masih di luar negeri. Dengan bantuan sekretarisnya perusahaan Zen maju dengan pesat menjadi perusahaan yang terkenal, tidak hanya di negerinya sendiri di luar negeri pun Zen memiliki banyak klien bisnis yang semuanya tersohor di negaranya masing-masing. Usahanya tidak sia-sia, semua yang ia inginkan bisa terpacai walaupun banyak rintangan yang harus di laluinya. Namun begitu Zen sudah berhasil melewati itu semua.


Mendengar Wijaya grup sedang ada masalah di proyek besarnya dan Arka sedang mencari rekan bisnis. Ia langsung memerintahkan pada sekretarisnya untuk menyusun rencana supaya dirinya bisa menjadi klien bisnis Wijaya grup tanpa di ketahui Arka.


Sekretaris Zen yaitu Kenan orang yang cerdas, cerdik dan sangat teliti, Zen sangat percaya padanya. Hampir semua urusan yang di perintahkan pada Kenan selalu berhasil dengan memuaskan. Begitu juga dengan rencana kali ini, Zen tidak mau gagal karena ini rencana awal di mana permainan baru di mulai.


"Tuan, semuanya sudah siap." ucap Kenan.


"Bagus, kita tinggal tunggu waktu. Kamu perintahkan seseorang dari perusahaan terkenal untuk andil dalam rencana ini. Jangan asal pilih orang, tentunya Arka bukan orang yang begitu saja percaya dengan orang lain. Cari klien dari perusahaan yang besar."


🍁🍁🍁


"Halo... " suara Kenan menelepon seseorang.


"Ya halo... " terdengar seseorang menjawabnya.


"Tuan Niko bisa kita bertemu siang ini. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


"Ohh ... sekretaris Ken, tentu saja bisa."


"Baik, aku tunggu di tempat biasa."


"Ok." suara tuan Niko menutup pembicaraan.


Kenan memberi tahu pada bosnya akan bertemu kliennya siang ini. Zen menyuruh Kenan mewakilinya karena ada urusan yang ingin dia selesaikannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Mobil Zen melaju dengan cepat menuju panti jompo tempat ayah Zen berada. Sepulangnya dari rumah sakit, tuan Anggara meminta untuk tetap tinggal di panti itu. Pada saat itu Zen tidak bisa menahannya karena kondisi ayahnya yang belum begitu stabil.


Kali ini Zen ingin membawa ayahnya pulang untuk tinggal bersamanya.


Mobil telah terparkir di arena parkir panti. Zen keluar dari mobil dan langsung menuju kamar ayahnya berada.


Tok...tok Zen membuka pintu dan masuk. Melihat ayahnya sedang di suapi makan oleh seorang perawat. Perawat yang mengetahui kedatangan Zen langsung berdiri. Zen memberi kode pada perawat itu untuk tetap melanjutkan menyuapi ayahnya.


Tuan Anggara masih belum mengetahui kedatangan anaknya. Zen ke luar kamar dan menunggu perawat selesai menyuapi ayahnya di depan kamar.


Beberapa menit menunggu, perawat membuka pintu dan keluar kamar.


"Permisi tuan?" silahkan kalau mau menjenguk tuan Anggara.


Zen langsung masuk kamar dan menghampiri ayahnya.


"Ayah, ini aku Zen. Bagaimana keadaan ayah sekarang? apa sudah lebih baik.


Tuan Anggara hanya menjawab dengan senyuman. Memandangi wajah anaknya dengan mata berbinar-binar, dan tangannya bergetar. Zen memeluk ayahnya yang tiba-tiba menangis, Zen pun ikut menangis.


"Ayah, aku datang untuk menjengukmu. Ayah ikutlah bersamaku, tinggal di rumahku."


Tuan Anggara mengangguk tanda setuju dengan ajakan Zen.

__ADS_1


"Aku akan membereskan pakaianmu, kita pergi sekarang." ucap Zen.


🍁🍁🍁


Kafe


Dua cangkir kopi tersedia di meja no 12 sesuai pesanan Ken. Sudah lima belas menit Ken menunggu.


"Sekretaris Ken, maaf aku terlambat." suara tuan Niko yang baru datang dan menarik kursi untuk ia duduki.


"Tidak apa-apa,"


Kalau bukan karena hal penting, aku malas menunggumu!! membuang waktuku saja, gumam Kenan.


"Baiklah, kita langsung saja bahas kerja sama yang akan aku tawarkan padamu." Minum saja dulu kopinya.


Niko mengangkat cangkir yang ada di depannya. Menghirup aroma kopi membuatnya lebih tenang setelah menerjang jalanan yang macet, dan meneguk kopi perlahan menikmati kopi hitam kesukaannya.


"Kopinya masih panas, padahal aku terlambat datang."


Alis Ken menyeringai menatap tamu undangannya dengan tajam, membuat Niko tertegun dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling kafe. Ia tahu Ken sangat tidak suka menunggu.


"Apa kamu tahu, aku tidak akan mengecewakan tamu undanganku. Itu cangkir yang ke 5 yang aku pesan."


"Hah..." Mata Niko terbelangak, kaget dengan ucapan Ken. Tahu kalau ucapan sekretaris itu menyindir dirinya.

__ADS_1


Kenan menjelaskan semua rencana yang telah di susunnya pada Niko. Dan Niko setuju dengan tawarannya.


Bersambung ❤️❤️❤️


__ADS_2