Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Komedi putar part 2


__ADS_3

Akhirnya bianglala pun kembali jalan setelah menunggu beberapa menit di perbaiki. Sofi khawatir dengan keadaan bosnya yang masih terlihat menahan mual. Tapi tidak ada cara lain selain menuggu bianglala berhenti.


Aduh bagaimana ini.


"Bos tahan sebentar ya, tidak lama lagi bianglala ini berhenti."


Arka hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya bisa berdiam di dalam bianglala sampai akhirnya putaran bianglala melambat dan berhenti. Mereka pun segera turun ketika mendapat giliran.


Arka langsung memuntahkan isi perutnya termasuk jagung bakar yang barusan di makannya. Ia baru merasa lega setelah muntah.


"Terima kasih Sofi, kamu sudah mengurusku tadi, maaf merepotkanmu. Sudah malam, ayo kita pulang."


"Ya tidak apa-apa bos, tidak perlu sungkan. Apa bos bisa membawa mobil dalam keadaan seperti ini?"


"Aku sudah tidak apa-apa, aku merasa sudah baikan setelah turun dari bianglala."


Mereka pun keluar dari area pasar malam dan berjalan menuju tempat parkir. Arka mengembalikan jaket yang di pakainya pada Sofi.


"Bos, kalau badannya masih tidak enak, aku naik ojek atau taxi online saja tidak apa-apa ko."


"Mana mungkin aku membiarkanmu pulang malam-malam sendirian. Lagian aku yang sudah mengajak dan menjemputmu. Aku akan bertanggung jawab mengantarmu."


"Ya baiklah, kalau itu kemauan bos."


Mana mungkin aku bisa menolaknya.


Arka membukakan pintu mobil untuk pertama kalinya dan mempersilahkan Sofi masuk ke dalam mobil. Bruuk! Arka menutup pintu mobilnya kembali, seketika Sofi mengerjap dengan tatapan bingung. Ada angin apa bosnya membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


Arka mengitari mobil ke sisi kanan dan duduk di kursi kemudi.


"Bos serius tidak apa-apa mengemudi sendiri dalam keadaan seperti ini."


Arka belum menjawab pertanyaan Sofi, ia mendekat ke arah Sofi. Sofi seakan melindungi diri dan mundur ke belakang. Wajah Arka semakin mendekat membuat nafas Sofi seakan tertahan. Arka terus menatap Sofi tajam sambil memasangkan sabuk pengaman.


Klik! sabuk pengaman milik Sofi terpasang. Arka mundur dan membebaskan Sofi dari tatapannya. Ia mulai menginjak pedal gas dan membawa mobil melaju dengan kecepatan sedang mengantarkan Sofi pulang.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa ada yang aneh dalam diriku?"


"Ehh maaf bos," Sofi segera memalingkan wajahnya ke depan.


"Kamu tadi begitu khawatir melihat keadaanku. Aku hanya tidak terbiasa saja terkena angin malam yang cukup kencang seperti di dalam bianglala tadi. Tapi sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Ya, aku hanya kaget saja tadi."


Tak berapa lama mereka pun sampai di gang masuk rumah Sofi. Arka turun mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Sofi. Sofi segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil.


"Terima kasih bos sudah mengantarku pulang. Tidak usah mengantar ke dalam. Pulang dan segeralah beristirahat bos," ucap Sofi.


Arka mendekati Sofi dan memegang lengan Sofi. Jantung Sofi seakan berhenti.


"Terima kasih waktumu untuk ku selama ini, malam ini kamu sudah mengubah pandangan hidupku," ucap Arka sambil menatap lekat wajah Sofi.


Aduh ini bos kenapa ya. Bukannya aku melakukan hal yang seharusnya ku lakukan sebagai asistennya.


"Ahh iya bos," raut muka Sofi tiba-tiba penuh ketegangan. Ia masih mencerna ucapan bosnya tadi.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pulang dulu ya." Arka melepaskan tangannya dan berpindah ke rambut Sofi sedikit memberi sentuhan lembut di rambut asistennya itu.


Apa yang kamu lakukan si bos, membuatku degdegan saja.


"Ya hati-hati di jalan," seru Sofi pada bosnya yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.


***


Keesokan harinya


Zen bangun dari tidurnya dan meraih jam weker yang berada di meja samping ranjangnya. Ia langsung beranjak pergi ke kamar mandi setelah melihat jarum jam menunjuk ke angka 7. Ia segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.


Tok tok... ceklek, bunyi suara pintu terbuka. Langkah kaki yang begitu jelas terdengar melangkah masuk ke dalam kamar Zen. Sosok yang memanggil Zen dengan sebutan tuan, sekretaris yang begitu setia pada Zen, siapa lagi kalau bukan Kenan. Biasanya Zen sudah siap dan rapi di jam segini. Tapi kali ini Zen benar-benar telat bangun.


Ceklek, bunyi suara pintu kamar mandi terbuka. Zen yang sudah menggunakan handuk piyama menghampiri Kenan yang sudah duduk di Sofa. Kenan langsung bangun dan menundukkan badannya seraya memberi hormat pada tuannya.


"Duduklah Ken, aku sedikit telat hari ini," ucap Zen. Ken duduk kembali setelah Zen menyuruhnya.


"Ada apa tuan menyuruhku menemui langsung di kamar, tidak seperti biasanya. Apakah ada sesuatu hal yang penting."


"Tunggulah sebentar," ucap Zen pada Ken. Zen masuk ke dalam ruang ganti.


Tak butuh waktu lama, Zen sudah selesai memakai setelan jas dan dasi yang di padukan dengan sepatu pantofel berwarna hitam membuatnya semakin elegan. Zen pun duduk di Sofa dengan menopang kan salah satu kakinya ke kaki satunya. Ia memberikan sebuah kotak pada Ken berisi gaun untuk di berikan pada Sofi. Zen ingin mengajak Sofi makan malam, ia menyuruh Kenan mengatur acara makan malamnya bersama Sofi.


"Aku percayakan semuanya padamu Ken," ucap Zen."


"Baik tuan," jawab Kenan.

__ADS_1


Bersambung ❤️❤❤️


__ADS_2