Bosku Yang Angkuh

Bosku Yang Angkuh
Arka penasaran dengan kotak itu


__ADS_3

Zen bangun dari sofa dan keluar kamar di ikuti Kenan yang berjalan di belakangnya. Ia berhenti tepat di depan kamar ayahnya, pintunya terbuka sedikit membuat pandangan Zen tertuju pada pelayan yang sedang mengurus ayahnya. Ia memutuskan untuk masuk melihat kondisi ayahnya setelah terdiam beberapa detik.


"Tuan, sapa pelayan seraya menundukkan kepalanya."


Zen mendekati ayahnya yang dari tadi pandangannya fokus ke roti yang di pegangnya. Zen melihat bubur yang masih utuh di atas meja. Ia mengambil bubur itu dan kembali mendekati ayahnya. Kenan langsung sigap mengambilkan kursi dan menaruhnya di depan tuan Anggara. Tangan Kenan mempersilahkan bosnya untuk duduk.


"Maaf tuan Zen, tuan Anggara tidak mau makan," ucap pelayan.


"Ayah, makanlah beberapa suap untuk mengisi perut. Dari kemarin ayah menolak makan." Zen menyendok bubur dan mencoba menyuapi ayahnya. Namun tuan Anggara tidak mau membuka mulut sampai sendok yang berisi bubur sudah mendekati mulutnya.


Zen langsung meletakkan sendoknya lagi ke dalam mangkok dan menyerahkannya pada pelayan.


"Bujuk terus ayah untuk makan, jangan pernah bosan dan menyerah," perintah Zen pada pelayannya.


"Baik tuan,"


Zen berdiri dan keluar dari kamar ayahnya, Kenan mengikuti di belakangnya. Salah seorang pelayan menghampirinya memberi tahu sarapan sudah siap di meja makan. Namun Zen menyuruhnya merapikannya lagi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan, Zen segera keluar dan masuk ke dalam mobil.


"Kita langsung ke kantor Ken," ucap Zen.


"Baik tuan," jawab Ken yang langsung melajukan mobilnya.


Di perjalanan Kenan memperhatikan Zen yang sedang melamun dari kaca spion yang tergantung di dalam mobil.


"Apa ada yang sedang tuan pikirankan?" tanya Kenan


"Tidak apa-apa Ken. Oiya jangan lupa perintahku tadi pagi."


Ken mengangguk, mengerti betul apa yang di perintahkan bosnya. Ken menaikkan kecepatan mobilnya supaya cepat sampai di kantor.


***


Wijaya grup


Ahh, hari ini sedikit tidak semangat. Sepertinya akan aku pertimbangkan untuk ngekos di dekat kantor. Lama-lama cape juga bolak balik, gumam Sofi yang berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Hai Sof," sapa Alena. Alena mengerutkan dahinya, bingung melihat raut wajah Sofi yang muram tidak seceria biasanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sof, diem saja. Biasanya kalau di sapa langsung jawab," lanjut Alena.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku sedang menghadapi pilihan yang sulit."


"Hey, kamu habis di tembak ya, cerita dong sama aku. Siapa yang sudah mengatakan cinta padamu, ganteng ga orangnya?"


"Hah! banyak sekali pertanyaanmu Len, membuatku pusing saja."


"Ini bukan masalah itu. Aku bingung Len, sebaiknya aku ngekos ga ya? kalau aku ngekos siapa yang akan mengurus rumah. Kasian Ara, Dika dan ayah, aku tidak tega meninggalkan mereka."


"Sebaiknya kamu diskusikan saja dulu sama mereka."


"Iya benar juga katamu, nanti aku coba nanya ke ayah. Ehh Al mana jam segini belum kelihatan."


"Ohh, tadi dia telepon katanya ga masuk kerja hari ini, ngambil cuti dadakan ada urusan keluarga."


Dari luar terlihat Arka berjalan masuk menuju ruangannya. Semua karyawan menyapanya. Ia melirik Sofi dan sedikit menongolkan senyumnya dan berlalu ke ruangannya.


Hei, kenapa kamu tiba-tiba tersenyum begitu padaku tidak seperti biasanya


Mereka pun duduk kembali di meja masing-masing, dan bekerja seperti biasanya.


***


Sekretaris yang berbadan tegak dan tak kalah misteriusnya dari Rama datang ke Wijaya grup. Sesuai perintah bosnya, ia datang untuk menemui Sofi. Ia turun dari mobil membawa kotak yang berisi gaun untuk di berikan pada Sofi.


Kenan masuk ke kantor Wijaya grup dengan sorot mata tajam yang membuat penghuni kantor yang melihatnya merasa takut namun mereka terpukau dengan ketampanan Kenan. Ia menghampiri receptionis menanyakan keberadaan Sofi. Seorang perempuan yang sedang duduk di meja receptionis terkejut melihat kedatangan Kenan. Kenan menyapanya namun ia tidak konsen dengan ucapan Ken, ia hanya bengong melihat wajah Kenan. Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya sendiri sambil sesekali mengedipkan mata dan menopangkan ke dua tangannya di bawah dagu. Kenan menggerakkan alisnya ke atas dan tangannya mendobrak meja receptionis, seketika membuat perempuan yang menggilainya itu kaget dan menunduk.


Buruk sekali cara kerja mereka. Apa seperti ini Wijaya grup, tidak becus mencari karyawan, gumam Ken.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu? ucap perempuan tersebut yang masih menundukkan wajahnya tidak berani menatap Kenan."


"Saya mencari nona Sofi, apa bisa kamu memanggilnya? berhentilah menunduk dan angkat wajahmu!"


"Saya telepon dulu tuan," ucapnya sambil mengangkat wajahnya namun masih belum berani menatap Kenan. Tangannya gemeteran meraih gagang telepon yang berada di depannya.


"Nona Sofi, ada yang mencari anda. Bisakah anda turun sebentar ke lobi.

__ADS_1


"Baiklah," ucap Sofi dari dalam telepon.


"Silahkan tuan menunggu di kursi, nona Sofi sedang kemari," ucapnya sambil menunjuk ke arah kursi yang tersedia di lobi.


Tak lama menunggu, Sofi terlihat keluar dari pintu lift. Kenan melihat Sofi ke arah receptionis langsung menghampirinya.


"Nona Sofi," sapa Kenan sambil menundukkan kepala. Sofi melihat Kenan dari ujung kaki sampai ujung rambut mencoba menebak dan mengingat-ingat siapa lelaki yang di depannya. Sofi merasa tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya.


"Maaf, anda siapa ya? sepertinya kita tidak saling kenal."


"Saya Kenan, nona. Saya sekretaris tuan Zen. Tuan Zen menyuruhku memberikan ini pada nona," ucap Kenan sambil memperlihatkan kotak yang di bawanya pada Sofi.


"Apa ini? dan untuk apa tuan Zen memberikannya padaku."


"Nanti nona juga tahu, mohon di terima nona."


Aku kan baru kenal dengannya. Tapi tidak enak menolak pemberiannya. Ehh aku lihat-lihat Kenan ini tak jauh berbeda dengan Rama, terlihat misterius juga.


"Baiklah aku terima, sampaikan ucapan terima kasihku padanya," ucap Sofi.


"Pasti akan saya sampaikan nona. Ya sudah saya permisi dulu nona." Kenan menundukkan kepala lagi dan pergi meninggalkan Sofi. Ia keluar dari Wijaya grup dan langsung kembali ke kantornya.


"Siapa tadi nona Sofi, wajahnya begitu tampan tapi terlihat misterius," tanya karyawan resepsionis.


"Mau tahu banget apa mau tahu aja," jawab Sofi sambil tersenyum. "Bukan siapa-siapa, sudah kembali bekerja. Aku juga mau kembali ke ruanganku," lanjut Sofi yang bergegas meninggalkannya dan masuk ke lift.


Ting, suara pintu lift terbuka. Sofi kaget dengan keberadaan Arka yang tahu-tahu sudah ada di depan pintu lift. Sofi keluar dari lift dan menyapa Arka.


"Dari mana kamu?" ucap Arka. Pandangan Arka ke arah kotak yang di bawa Sofi. "Apa itu yang kamu pegang," lanjutnya.


"Ohh, ini...? aku juga tidak tahu tadi ada seseorang yang memberikannya padaku."


"Seseorang? siapa?" tanya Arka penuh penasaran.


Inikan urusanku bos, apa aku juga harus memberi tahukanmu?


"Hei kenapa kamu diem, kamu tidak mendengarkanku."

__ADS_1


"Iya aku dengar bos. Kotak ini dari tuan Zen, tadi sekretarisnya yang memberikannya padaku. Aku juga tidak tahu isinya apa."


Arka langsung meninggalkan Sofi dan masuk ke dalam lift begitu tahu jawaban dari Sofi.


__ADS_2