
"Tuan, aku sudah menyelidiki semua tentang Wijaya grup. Mereka sedang mengalami penurunan di karenakan proyek besarnya dengan Leo grup gagal karena kecerobohan asistennya." ucap Kenan sekretaris Zen.
"Terima kasih atas infonya, tetap selidiki terus mereka. Jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun."
"Baik, tuan."
Seandainya saat itu keluargamu tidak menghancurkan keluargaku, tentunya aku tidak akan sebenci ini padamu dan pastinya kita masih berteman baik. Tapi nasi sudah jadi bubur tidak bisa di rubah lagi. Walaupun masa lalu tapi rasanya sulit sekali untuk memaafkan apa lagi melupakannya, sepertinya tidak mungkin.
Zen berjalan menuju ke balkon rumah menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. melihat gunung yang berjejer rapi memperlihatkan kabut tebalnya. Sepulangnya dari luar negeri Zen memilih tinggal di villa miliknya yang jauh dari keramaian.
"Tuan, ada telepon dari rumah sakit." ucap salah satu pelayannya.
"Berikan telepon itu padaku."
""Baik, tuan."
Zen mendapatkan kabar dari dokter bahwa keadaan ayahnya sudah membaik. Zen tersenyum lega mendengar kabar itu. Ia langsung bergegas pergi ke rumah sakit.
🍁🍁🍁
Rumah sakit
Arka sampai di rumah sakit langsung menuju kamar tuan Anggara diikuti Sofi di belakangnya. Di tengah jalan Arka melihat dokter yang menangani tuan Anggara. Arka berhenti dan memberi salam pada dokter itu.
"Selamat siang dok, bagaimana keadaan pasien yang bernama tuan Soni Anggara?"
"Tuan, pasien sudah tidak apa-apa, keadaannya sudah membaik dan cukup stabil tidak ada yang perlu di khawatirkan." jawab dokter.
"Syukur kalau begitu, terima kasih dok. Maaf sudah mengganggu waktunya."
__ADS_1
"Ya tuan tidak usah sungkan, sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter. Kalau begitu saya permisi dulu tuan Arka."
"Silahkan, dok."
Mengetahui keadaan tuan Anggara yang sudah membaik, Arka memutuskan untuk langsung pulang dan kembali ke kantor. Sofi hanya terdiam mengikuti langkah bosnya keluar rumah sakit. Rama sudah menunggu di depan.
Salut sama Rama, bisa-bisanya sudah di sini. Jelas-jelas tadi kita cuma masuk sebentar dan dia memarkirkan mobil bosnya di area parkir rumah sakit. Tahu-tahu sudah di sini, Ahh bisa jadi dia mengikuti kita tadi. gumam Sofi. Dia tidak pantas jadi asisten, pantasnya jadi seorang detektif. Hahaha....
Sofi tak sadar tertawa sendiri membayangkan Rama menjadi detektif. Arka melihat Sofi tiba-tiba tertawa langsung mendekati Sofi dan menyadarkan khayalannya itu.
"Hei, ada apa denganmu? apa kamu baik-baik saja." Arka mengagetkan Sofi.
"Hah, iya tuan. Aku baik-baik saja."
"Terus kenapa tiba-tiba tertawa, apa ada yang lucu?"
"Ahh, tidak." ucap Sofi.
Sepertinya begitu, kamu membuatku stress dengan banyak pekerjaan yang kamu berikan padaku. Membayangkan laporan yang belum aku selesaikan saja sudah pusing.
Arka masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka dari tadi oleh Rama. Sofi menyusul di belakangnya. Mereka meninggalkan rumah sakit. Walaupun Arka tidak tahu kalau Zen sudah kembali, tapi Arka yakin Zen akan kembali.
Dari arah yang berlawanan datang sebuah mobil, tidak salah lagi itu mobil Zen. Ia keluar dari mobil dan segera melihat keadaan ayahnya. Membuka pintu pelan, ia masuk dan berjalan mendekati ayahnya yang masih tertidur diatas ranjang. Zen duduk di kursi dekat ranjang, memegang tangan ayahnya. Tatapannya fokus melihat wajah ayahnya yang begitu pucat. Tiba-tiba tangan ayahnya bergerak, Zen terkejut dan tersenyum bahagia melihat mata ayahnya yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Namun, ayahnya masih belum bisa mengenali Zen.
"Kamu siapa?" tanya tuan Anggara.
"Aku Zen, ayah," jawabnya.
Tuan Anggara masih menatap Zen dengan pandangan yang sayu.
__ADS_1
"Zen!!" kamu Zen. Bibir tuan Anggara bergetar memanggil nama anaknya, matanya mulai berkaca dan air matanya mulai keluar membasahi pipinya.
"Maafkan Zen, ayah." Zen sudah meninggalkan ayah sendiri setelah kepergian ibu untuk selamanya. Zen janji semua penderitaan kita akan terbayar lunas.
"Zen, anakku. Kamu benar Zen anakku." Kenapa kamu pergi Zen, ayah sangat menderita."
"Maaf ayah." Zen tidak bisa membendung air matanya yang sudah mulai jatuh tetes demi tetes membasahi tangan ayahnya yang dari tadi dalam genggamannya.
Dokter mengetuk pintu dan masuk untuk memeriksa. Zen mengusap Air matanya, dan bangun dari tempat duduknya.
"Sebentar saya periksa tuan Anggara dulu."
"Silahkan, dok." Zen mempersilahkan dokter untuk memeriksa.
"Maaf, apa ini keluarga tuan Anggara."
"Saya Zen, anak dari pasien dok."
"Tuan Anggara tidak boleh stress, atau dalam tekanan. Apa sebelumnya ada hal yang membuatnya tiba-tiba pingsan?"
"Saya baru pulang dari luar negeri dok, saya tidak tahu apa yang terjadi."
Ini hanya alasanku dok, maaf aku tidak bisa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."
"Terima kasih dok." ucap Zen.
"Sama-sama tuan Zen." Dokter mengambil peralatannya dan keluar meninggalkan kamar.
__ADS_1
Bersambung ❤️❤️❤️