
Langit menepuk pundaknya yang masih terasa sakit. Ia berdiri sambil bersandar di mobilnya, sedangkan Jeesany di dalam mobil untuk berganti pakaian.
“Jangan mengintip!” seru Jeesany, sembari melihat Langit yang membelakanginya.
Ya, beberapa saat yang lalu Langit membelikan setelan pakaian sederhana untuk Jeesany. Dan Saat ini Langit memarkirkan mobilnya di depan toko pakaian yang sudah akan tutup itu, sekaligus berteduh.
Langit tersenyum saat mendengar ucapan Jeesany. “Untuk apa aku mengintip jika aku pernah merasakannya,” jawab Langit.
Jeesany yang mendengar ucapan Langit pun menggeram kesal, pria itu selalu bisa membuatnya mati kutu.
Langit menoleh saat pintu mobil terbuka, ia tersenyum tipis saat melihat Jeesany dengan pakaian yang baru saja ia belikan. Hanya kaos dan celana panjang dengan harga yang pas di kantongnya.
“Pas di badan kamu. Maaf tidak semewah dengan pakaian yang biasa kamu pakai,” ucap Langit.
Jeesany mematut dirinya di kaca jendela mobil. “Tidak masalah, ini sangat nyaman di pakai,” jawab Jeesany sambil melirik Langit yang memalingkan wajahnya.
“Maaf, aku tidak mengenakkan bra-nya karena aku tidak biasa menggunakan itu jika belum di cuci,” ucap Jeesany jujur sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Langit berdehem pelan lalu segera masuk ke dalam mobil, dan duduk di balik kemudi mobil. Jeesany yang melihat itu pun ikut masuk ke dalam mobil juga dan duduk di samping Langit.
“Pakai jaketnya,” ucap Langit dengan datar, tanpa menoleh.
“Baiklah.” Jeesany segera mengenakan jaket Langit yang sedikit basah.
__ADS_1
Langit menghembuskan nafasnya dengan kasar, seraya menepis pikiran kotor yang melintas di benaknya.
”Apakah dia tidak tahu jika ucapannya tadi berhasil memancing tiger yang sedang tidur nyenyak?!” Langit meredam sesuatu yang bangun di bawah sana.
“Hujannya sudah mereda,” ucap Jeesany.
“Iya,” jawab Langit lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya, mengantarkan Jeesany pulang.
“Terima kasih, Pak.” Ucapan Jeesany memecah kesunyian di dalam mobil itu.
“Hemmm.” Langit hanya menjawab dengan deheman saja.
“Apakah tidak ada jawaban lain selain, Hemmm?” kesal Jeesany.
Setengah jam perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya mereka sudah sampai di halaman rumah mewah Jeesany.
“Kamu tidak menawariku untuk masuk ke dalam rumahmu?” tanya Langit saat Jeesany akan keluar dari mobilnya.
“Tidak!” jawab Jeesany dengan tegas, lalu segera keluar dari mobil Langit.
Irene dan Sean keluar dari rumah saat mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumah mereka.
“Siapa yang mengantarkanmu?” Sean sudah memasang wajah garang kepada putrinya yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Belum juga menjawab, Langit sudah keluar dari mobil dan menyapa kedua orang tua Jeesany.
“Selamat sore, Pak, Bu. Perkenalkan saya Langit Pradika, Dosen fakultas teknik di kampus Jeesany.” Langit memperkenalkan dirinya dengan sangat detail.
“Nggak sekalian alamat rumah, RT dan RW-nya disebutkan?!” sahut Jeesany kesal.
“Sany!!” omel Irene, sambil mencubit lengan putrinya dengan gemas.
“Oh, Anda dosennya Sany.” Sean dan Irene menyalami Langit dan mempersilahkan masuknya masuk ke dalam rumah.
Langit tersenyum licik kepada Jeesany, saat akan memasuki rumah mewah tersebut.
“Bunda! Kenapa menyuruh Pak Dika masuk ke dalam rumah?” protes Jeesany kepada ibunya.
“Yang sopan sama dosen kamu sendiri!” omel Irene, lalu memasuki rumah dan segera menyiapkan minuman hangat beserta camilan untuk tamunya itu.
“Dia pasti punya niat terselubung!” batin Jeesany.
***
Pak Dogan, Emak penasaran sama yang namanya Tiger loh🤣🤣
Jangan lupa like, vote, komentar dan gift seikhlasnya❤
__ADS_1