
“Untuk saat ini aku datang ke rumahmu sebagai dosenmu, tapi one day aku akan datang untuk melamarmu.”
Itulah isi pesan yang di kirimkan oleh Langit kepada Jeesany.
Jeesany membaca pesan singkat itu lagi, “aku rasa dia sudah gila!” umpat Jeesany lagi.
Ia meletakkan ponselnya di atas nakas dengan bergetar. Jantungnya saat ini berdetak dengan cepat, dan bayangan malam panas itu kembali melintas di benaknya. Cumbuan dan sentuhan Langit begitu memabukkan hingga dirinya semakin terbuai dan semakin ingin merasakan hal yang lebih.
Jeesany mengacak dan mengetuk kepalanya berulang kali dengan kesal, karena bayangan itu selalu saja menggelayuti pikirannya. Tiba-tiba saja dirinya tersentak kaget karena baru mengingat sesuatu yang sangat penting.
“Mati aku!” umpat Jeesany lalu mengambil kalender yang ada di atas nakas. Ia menggigit kuku ibu jarinya dengan resah.
“Dia mengeluarkannya di dalam atau di luar? Ataukah dia memakai pengaman?” Jeesany menjadi resah, dan takut bercampur menjadi satu. Ia berusaha mengingat hal itu saat Langit akan melakukannya, namun yang diingatnya adalah cumbuan Langit saja.
“Otak, ayolah bekerja lebih keras lagi untuk mengingat semuanya,” ucap Jeesany, memukul kepalanya berulang kali. Tapi, tetap saja dirinya tidak mengingatnya.
“Haruskah aku menanyakan hal yang menggelikan ini?” gumam Jeesany dengan frustrasi.
__ADS_1
Ia segera beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mengambil dompetnya. Tujuannya saat ini adalah ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi.
*
*
“Kakak kenapa baru pulang?” Bulan menyambut Langit yang baru memasuki rumah sederhana mereka.
“Iya, tadi ada kendala di jalan.” bohong Langit, pandangannya tertuju kepada parsel buah di atas meja. “Ada yang menjenguk ibu?” tanya Langit.
“Iya, Kak Satria,” jawab Bulan sambil tersenyum.
“Satria bilang apa?” tanya Langit setelah melihat keadaan ibunya. Ia takut jika temannya menceritakan kesalahannya kepada keluarganya.
“Tidak bilang apa pun. Dia malah meminta maaf karena saat di rumah sakit tidak sempat menjenguk ibu,” jawab Bulan sambil membongkar parsel buah yang ada di atas meja.
“Tapi, Kak Satria juga bilang katanya suka sama aku,” lanjut Bulan dengan kepolosannya.
__ADS_1
Langit menghela nafas panjang, seraya melepaskan kaca matanya dan meletakkannya di atas meja. “Gercep juga itu anak,” gumam Langit pelan.
“Lan, kamu mau lanjut sekolah lagi? Kejar paket C?” tanya Langit mengalihkan pembicaraan.
“Mau, Kak, mau banget,” jawab Bulan dengan antusias sambil memakan buah apel. Namun beberapa detik kemudian, ia terdiam seolah sedang berpikir. “Tidak jadi deh,” ucap Bulan dengan lirih.
“Kenapa? Jangan memikirkan biayanya. Kakak akan berusaha keras untuk pendidikanmu,” ucap Langit seolah mengerti yang ada di pikiran adiknya.
“Kakak sudah bekerja keras selama ini untuk kami. Sampai Kakak lupa dengan kebahagiaan dan urusan Kakak sendiri. Lihatlah Kakak sudah tua tapi belum juga menikah,” jawab Bulan dengan sendu.
“Kamu dan ibu adalah kebahagiaan Kakak,” jawab Langit seraya mengusap pucuk kepala adiknya dengan lembut.
“Jadi jangan pernah merasa menjadi beban. Kakak menyayangimu dan juga ibu,” lanjut Langit.
Kedua mata Bulan berkaca-kaca lalu memeluk Langit dengan erat, menumpahkan tangisnya dan mengucapkan rasa terima kasih kepada kakaknya yang sangat ia sayangi. “Semoga Tuhan memberikan wanita baik untukmu, Kak.”
***
__ADS_1
Benihnya Langit udah berakar Sany, sebentar lagi akan menjadi tunas. 🤣🤣
Jangan lupa dukungannya, bestie💃💃