Boy For Rent

Boy For Rent
Ter-Sany-Sany


__ADS_3

Pagi harinya, Jeesany sudah check-out dari hotel. Alerginya juga sudah sembuh dan tadi malam dirinya tidak bisa tidur nyenyak karena terus mengingat Langit.


Jeesany pulang ke rumahnya menggunakan jasa taksi online. Sampai di rumahnya ia di sambut oleh kedua orang tuanya.


“Sany, kamu tadi malam dari mana saja? Bunda dan Ayah cemas mencari keberadaanmu! Apakah kamu baik-baik saja? Apakah alergimu sudah sembuh?” tanya Sean dengan beruntun.


“Aku baik-baik saja, jadi jangan mencemaskan aku,” jawab Jeesany seraya menghela nafas panjang.


“Bunda tahu kalau kamu pasti kecewa kepada kami, jadi--” ucapan Irene terhenti saat putrinya memotong pembicaraannya.


“Sudah, jangan di bahas lagi, Bunda, Ayah. Yang jelas aku tidak mau di jodohkan dengan siapa pun!” ucap Jeesany dengan tegas, menatap kedua orang tuanya bergantian.


“Baiklah Sayang. Maafkan Ayah yang tidak bisa menolak permintaan Opa dan Oma-mu,” ucap Sean dengan penuh sesal.


“Sudah kuduga,” kesal Jeesany.


“Kalau begitu kita sarapan bersama. Bunda sudah masak makanan kesukaanmu.” Irene menarik tangan putrinya menuju ruang makan.


Selesai sarapan bersama, Jeesany segera bersiap berangkat ke kampus.


“Sany, boleh Bunda tanya sesuatu? Tadi malam tidur di mana?” tanya Irene yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar putrinya.

__ADS_1


“Di Hotel yang tidak jauh dari Kafe itu, Bunda,” jawab Jeesany tanpa menoleh karena saat ini dirinya sedang mematut dirinya di depan cermin.


“Bunda tenang saja, aku menginap di hotel sendirian, untuk menenangkan diri,” lanjut Jeesany seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Ibunya.


“Bunda percaya sama kamu. Kamu di beri kebebasan tapi kamu juga harus tahu batasan! Kamu harus tahu hal yang paling berharga dari seorang wanita itu adalah kesucian,” ucap Irene.


DEG


Jantung Jeesany berdetak dengan sangat cepat saat mendengar perkataan ibunya. Salah satu tangannya yang sedang menyisir rambut pun terhenti, dan dirinya terpaku sesaat. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, saat rasa bersalah menyergap jiwanya. Bagaimana jika suatu saat nanti kedua orang tuanya tahu jika dirinya sudah tidak suci lagi?


“Kamu paham?” tanya Irene menatap putrinya dari pantulan cermin, kebetulan dirinya berdiri di belakang Jeesany.


Irene tersenyum lalu segera keluar dari kamar putrinya. Hari ini dirinya akan menemui mertuanya.


*


*


*


Jeesany menghampiri mobil Risya yang terparkir di depan rumahnya.

__ADS_1


“Loh, Bela mana?” tanya Jeesany saat dirinya di suruh duduk di depan oleh Risya.


“Dia menjemput nyokapnya di Bandara,” jawab Risya.


“Oh, Tante Meri keluar negeri lagi,” ucap Jeesany yang sudah duduk jok depan.


“Iya, kasihan sama Bela, sejak dulu ibunya nggak pernah peduli sama dia. Kasihan nasib teman kita itu karena nggak pernah dapat perhatian dari kedua orang tuanya,” ucap Risya sembari berdecak kesal.


“Pulang kuliah kita main ke rumahnya, Yuk,” ajak Jeesany dan di angguki Risya.


Mobil yang di kendarai Risya melaju perlahan menuju Universitas tempat mereka menimba ilmu.


“Alergi lo kambuh?” tanya Risya baru menyadari jika wajah Jeesany terlihat memerah.


“Iya, tadi malam makan ikan laut,” jawab Jeesany seraya menangkup wajahnya.


“Masih kelihatan ya? Padahal sudah memakai make-up agak tebal,” ucap Jeesany.


“Masih, tapi lo tetap kelihatan cantik, pasti dosen killer kita tambah ter-Sany-Sany,” goda Risya lalu tergelak keras.


Membahas dosen killer, Jeesany menjadi teringat kejadian tadi malam, tiba-tiba dadanya berdetak tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2