Boy For Rent

Boy For Rent
Rumah Utama


__ADS_3

Irene menatap anak dan menantunya dengan sebal. "Kenapa lama sekali?!" Irene melontarkan pertanyaan dengan nada kesal.


"Maaf, Bun. Tadi aku istirahat dulu, karena badanku lelah dan perutku sedikit sakit," jawab Jeesany, tidak sepenuhnya beralasan sebenarnya, karena pada dasarnya tubuhnya memang lelah dan perutnya sedikit nyeri setelah di garap oleh suaminya.


"Huh! Ayo berangkat!" ajak Irene kepada anak dan menantunya. Sedangkan Sean sudah menunggu di luar, tepatnya di dalam mobil.


"Kamu saja yang menyetir!" Sean keluar dari mobil mewahnya lalu melemparkan kunci mobilnya kepada Langit.


Langit menangkap kunci mobil yang di lemparkan ke arahnya.


"Baiklah," jawan Langit tersenyum tipis, kemudian segera duduk di balik kemudi.


Semua orang sudah duduk di dalam mobil, dengan posisi, Sean duduk di samping Langit yang menyetir mobil, sedangkan Irene dan Jeesany duduk di jok belakang.


Mobil civic berwarna hitam mengilat yang di kemudian Langit melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan kota menuju rumah utama.


Langit tertegun beberapa saat ketika melihat rumah utama yang di dominasi warna putih terlihat seperti istana. Megah, dan mewah itu yang di lihat oleh Langit.


Banyak penjaga di beberapa titik di sekitar rumah tersebut. Mungkin karena keluarga Clark adalah keluarga konglomerat maka dari itu membutuhkan penjagaan yang ketat agar keamanan mereka terjaga.


"Jangan terlihat kampungan," ucap Sean dengan ketus saat melihat kekaguman Langit pada rumah orang tuanya.


Langit tersenyum saja menanggapi ucapan ayah mertuanya, dan ia tidak merasa tersinggung sama sekali.


"Ayah!" Irene menegur suaminya.


"Iya, Bunda," jawab Sean, lalu segera keluar dari mobil ketika mobil yang di naikinya sudah berhenti di depan rumah mewah itu.

__ADS_1


"Sayang, jangan di ambil hati perkataan Ayah tadi," ucap Jeesany kepada suaminya.


"Iya," jawab Langit diiringi dengan anggukan kepala. Lalu mereka semua turun dari mobil dan mengikuti Sean yang sudah memasuki rumah mewah itu.


"Kalian terlambat 10 menit!" Xander menatap jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Terima kasih sambutannya, Opa!" Jeesany menyahut dengan nada kesal.


"Dasar pembangkang!" Xander menatap tajam Jeesany lalu tatapannya beralih menatap Langit yang berdiri di samping cucunya.


"Dan seleramu, rendah sekali!" cibir Xander tanpa mengalihkan pandangannya dari Langit.


Langit menatap Xander dengan tenang, meskipun detak jantungnya kini berdendang tidak karuan.


"Apakah kami di undang kemari hanya untuk di cibir seperti ini? Jika iya, maka kami akan pergi dari sini!" ucap Jeesany, yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.


"Kamu memang keturunan Jonsean Clark, tukang pembangkang!" ucap Xander lalu berbalik badan, berjalan menuju ruang makan sambil memegangi tongkatnya.


"Apakah aku harus seperti Ayah yang mempunyai sifat plin-plan?!" jawab Jeesany dengan telak, membuat Sean seketika langsung bungkam.


"Jangan banyak bicara lagi!" tegas Irene, lalu berjalan mengikuti Xander menuju ruang makan.


Jeesany menggenggam tangan suaminya dengan erat, saat mereka akan menuju ruang makan, di mana keluarga besar Clark pasti berkumpul di sana.


Dan benar saja dugaannya, jika keluarga besar berada di sana.


Langit merasa asing saat berada di tengah-tengah keluarga istrinya. Tiba-tiba ia merasa kecil dan merasa tidak pantas dengan Jeesany.

__ADS_1


"Hai, Jee," sapa Anaya yang duduk di samping kekasihnya.


"Hai, juga Nay," jawab Jeesany tersenyum tipis.


Jeesany dan Langit kini sudah duduk di kursi ruang makan tersebut, begitu pula dengan Sean dan Irene.


"Aku merasa tidak nyaman," bisik Langit ketika hampir semua orang yang duduk mengelilingi meja makan menatap ke arahnya.


"Tenang saja, mereka semua baik," jawab Jeesany lalu memperkenalkan anggota keluarganya kepada Langit.


"Yang itu Matteo si berandalan, dan yang itu Anaya si gadis tuna rungu, kamu pasti mengenalnya 'kan karena dia adalah penyanyi ternama di negara ini," bisik Jeesany kepada suaminya.


"Lalu yang itu?" tanya Langit dengan suara berbisik, pandangan matanya mengarah kepada pemuda dan gadis yang mempunyai wajah yang sama.


"Mereka si kembar Rio dan Jojo. Mereka terlihat dingin dan angkuh, tapi aslinya baik," jawab Jeesany.


Lalu Jeesany juga memberi tahu Langit tentang 4 J.


"Jadi ayah adalah anak kedua dari 4 saudara kembar?" tanya Langit dan di angguki oleh Jeesany.


"Jika berkumpul seperti ini aku sulit membedakan Ayah dan saudara kembarnya," ucap Langit sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Xander berdiri dari duduknya sembari bertepuk tangan, membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Kalian aku kumpulkan di sini karena Jeesany mempunyai pengumuman penting yang akan di sampaikan kepada kalian," ucap Xander sambil menatap Jeesany.


Jeesany mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah Xander tanpa rasa takut sedikit pun.

__ADS_1


***


Jangan lupa like, komentar dan vote❤


__ADS_2