Boy For Rent

Boy For Rent
Nggak kreatif!


__ADS_3

"Kenapa menatapku seperti itu?" Langit bertanya kepada Satria yang tersenyum mesem kepadanya.


"Calon masa depan? Siapa? Apakah dua gadis tadi?" Satria menaik turunkan alisnya, memberondong pertanyaan yang membuat Langit garuk-garuk kepala.


"Kamu salah dengar," jawab Langit asal, lalu segera beranjak dari duduknya. "Ayo, aku ingin mulai training hari ini."


Satria mendengus kesal. "Kamu memang pandai mengalihkan pembicaraan!" Satria ikut beranjak lalu mengajak Langit untuk berkenalan dengan para karyawannya yang berkerja di Kafenya itu.


*


*


"Tumben sudah pulang?" Irene bertanya kepada putrinya yang baru memasuki rumah.


"Katanya mau ke rumah Oma? Mau arisan keluarga 'kan?" jawab Jeesany lalu mencium kedua pipi ibunya.


"Iya, sepertinya Bunda tidak jadi datang ke sana," ucap Irene.


"Loh, kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawab Irene seraya tersenyum tipis, lalu menyuruh putrinya untuk segera masuk makan siang.


Irene menatap punggung putrinya yang sudah menuju ruang makan. Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mendudukkan diri di sofa ruang keluarga.


"Jangan sampai Jeesany mengetahui tentang semua ini," batin Irene seraya menghembuskan nafasnya dengan resah.

__ADS_1


"Bunda!" seru Jeesany dari ruang makan.


Irene segera beranjak saat mendengar seruan putrinya yang memekkan telinga. "Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?!" Irene memarahi putrinya yang sudah duduk di meja makan.


"Bunda kenapa masak ikan?!" protes Jeesany memanyunkan bibirnya kesal.


"Ya, ampun!" Irene menepuk jidatnya sendiri karena lupa jika putrinya alergi dengan ikan laut.


"Bunda gorengin telur saja ya," ucap Irene seraya memindahkan semua makanan yang ada di atas meja makan.


"Bunda kenapa hari ini sepertinya banyak pikiran?" tanya Jeesany sembari menatap punggung ibunya yang sedang mengambil dua butir telur ayam kampung dari kulkas.


"Perasaanmu saja," jawab Irene, segera menggorengkan dua telur tersebut untuk putri kesayangannya.


"Ayah juga seharian tidak di rumah. Seharusnya hari ini juga libur 'kan? Ayah kemana?" tanya Jeesany lagi.


"Jangan banyak tanya!" jawab Irene segera beranjak dari ruang makan sebelum putrinya itu mengajukan pertanyaan lainnya.


"Bunda aneh sekali," gumam Jeesany, lalu menatap telur dadar yang terlihat menggunggah selera.


*


*


Irene berada di dalam kamar, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Halo, Bun," jawab Sean dari seberang sana.


"Ayah, bagaimana? Pokoknya aku tidak setuju jika Jeesany di jodohkan oleh Mommy dan Daddy," ucap Irene menentang perjodohan putrinya.


"Iya, aku juga tidak setuju dengan perjodohan ini," jawab Sean, mendesah kasar. Tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang tiba-tiba mempunyai rencana untuk menjodohkan Jeesany dengan seorang pengusaha sukses.


"Apakah aku perlu ke sana? Sepertinya jika hanya Ayah yang melakukan negosiasi tidak akan berhasil," ucap Irene.


"Tidak perlu, aku mampu untuk mengatasinya," jawab Sean, lalu segera mengakhiri panggilan tersebut saat mendengar ayahnya memanggilnya.


Irene mendesah resah sembari mengetuk-ngetukkan ponselnya di keningnya.


*


*


Jeesany memakan makan siangnya sembari memainkan ponselnya, berbalas pesan dengan kedua temannya. Kedua teman Jeesany membahas dosen killer yang akan berkerja paruh waktu Kafe.


Saat sedang asyik berbalas pesan dengan kedua temannya, tiba-tiba ada pesan masuk dari Langit.


Padahal hanya pesan masuk saja, tapi sudah membuat jantung Jeesany jedag-jedug tidak karuan. Dengan perasaan ragu, Jeesany membuka pesan tersebut.


"Sudah makan?" Isi pesan yang di kirimkan oleh Langit.


Jeesany berdecak kesal lalu mengabaikan pesan tersebut. "Dasar nggak kreatif!" ucap Jeesany, karena menurutnya pesan yang di kirimkan Langit hanya sekedar basa-basi saja.

__ADS_1


***


Terus Pak Dogan harus kirim pesan kayak gimana, San? 😅😅


__ADS_2