Boy For Rent

Boy For Rent
Sebuah penghinaan!


__ADS_3

“Terima kasih, Pak,” ucap Jeesany saat dirinya di antarkan Langit sampai di depan pintu gerbang rumahnya.


“Bisakah jangan memanggilku dengan sebutan itu saat kita sedang berdua?” tanya Langit yang kini berdiri di dekat Jeesany, lalu menarik pinggang kekasihnya itu hingga merapat ke tubuhnya.


Jeesany menaikkan salah satu alisnya. “Lalu mau di panggil apa?” tanya Jeesany.


“Terserah kamu,” jawab Langit sambil menundukkan kepalanya tidak tahan saat melihat bibir ranum itu.


“Kalau begitu aku akan memanggilmu dengan sebutan bebek,” jawab Jeesany seraya membekap bibir Langit dengan salah satu telapak tangannya saat pria itu akan menciumnya.


Langit melepaskan tangan Jeesany yang masih membekap bibirnya, lalu mengecup tangan itu dengan mesra. “Kenapa panggilannya jelek sekali?” protes Langit.


“Bebek tampan,” bisik Jeesany.


Langit tersenyum malu saat mendengarnya, ia menjadi sangat gemas dan tidak tahan untuk mencium bibir kekasihnya itu. Langit semakin mendekatkan wajahnya, bibir keduanya itu pun sudah akan saling menempel akan tetapi Jeesany dengan refleks mendorong Langit saat mendengar deheman ayahnya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari Sean mengintip dua sejoli itu sejak tadi, di balik pintu gerbang rumahnya.


Sean segera membuka pintu gerbang rumahnya itu dan menatap Langit yang berdiri tidak jauh dari putrinya. Tadinya Sean hanya penasaran saat mendengar deru suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ia berusaha melihat dari celah pintu gerbang rumahnya, dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat putrinya sedang berpelukan dengan seorang pria yang ia kenal.


Sean menatap tajam Langit yang justru tengah menatapnya dengan tenang.


“Sany, masuk ke dalam rumah!” tegas Sean.


Tanpa membantah, Jeesany segera masuk ke dalam rumahnya, tapi sebelum itu menatap Langit.


“Maaf, Pak. Saya mencintai putri Anda,” jawab Langit dengan tenang, ia tidak ingin terpancing emosi.


“Cinta?! Memangnya kamu mempunyai apa berani mencintai putriku?!” ucap Sean dengan pedas.


“Saya memang orang yang tidak punya, tapi berjanji akan membahagiakan Jeesany,” jawab Langit dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


“Kamu tahu, biaya hidup saat ini tidaklah murah! Apakah dengan gajimu yang receh itu bisa membiayai kehidupan putriku!!!” Sean semakin menjadi menghina Langit.


“Kamu itu bagaikan langit dan sedangkan putriku adalah sebuah bintang yang paling bersinar di angkasa, kamu tidak akan pernah bisa menggapainya!” Setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu, Sean segera beranjak dari sana meninggalkan Langit yang mematung di tempat dengan perasaan tidak karuan.


Sean menutup pintu gerbangnya dengan kasar, tidak lupa menguncinya kembali.


Langit mendongakkan kepalanya seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sebuah penghinaan yang begitu menyakitkan, akan tetapi Langit tidak ingin menyerah begitu saja. Ia akan berusaha keras untuk membuktikan jika dirinya layak untuk Jeesany.


“Ayah berbicara apa dengan Pak Dika?” tanya Jeesany kepada ayahnya yang memasuki rumah. Raut wajah Sean yang penuh emosi, tentu saja membuat Jeesany khawatir jika ayahnya itu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada kekasihnya itu.


“Tidak ada yang kami bicarakan!” jawab Sean melewati putrinya yang berusaha menghalangi jalannya.


“Ayah berbohong!”


“Untuk apa Ayah berbohong, jika kamu tidak percaya, maka tanyakan saja kepada dia!” sahut Sean dengan kesal.

__ADS_1


“Oke!” jawab Jeesany, mengambil ponselnya dari dalam tas sambil berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2