Boy For Rent

Boy For Rent
Wanitaku


__ADS_3

"Bagaimana kabar ibumu, Lang?" tanya Meri kepada Langit.


Mereka masih berdiri di halaman belakang Kafe tersebut, saling berhadapan dan berjarak lumayan jauh.


"Kabar beliau baik. Terima kasih, atas bantuan Tante, keadaan ibuku saat ini sudah membaik dan bisa beraktifitas seperti sedia kala," jawab Langit.


Ya, walaupun bagaimana pun, ia tidak akan melupakan jasa Tante Meri yang sudah baik kepadanya.


"Tidak, aku tidak melakukan apa pun. Semua itu karena kamu yang telah rela melakukan segalanya demi ibumu," jawab Meri sambil tersenyum tipis.


"Lang, aku ingin kita melupakan semua yang sudah terjadi. Dan anggap kita ini tidak pernah bertemu sebelumnya," ucap Meri kepada Langit.


"Ya, kita mempunyai kehidupan masing-masing. Aku mempunyai kekasih yang sangat aku cintai, begitu pula dengan Tante yang pastinya mempunyai keluarga sendiri. Jadi aku setuju dengan ucapan Tante. Kita lupakan semua yang sudah terjadi," jawab Langit tersenyum tipis.


Meri mengangguk dan tersenyum getir. Walau pun di dalam hati dirinya merasa tidak ikhlas dan tidak bisa melupakan Langit, akan tetapi dirinya tidak boleh egois. Langit masih muda dan ia juga tidak ingin menghancurkan masa depan pemuda tersebut.


"Baiklah kalau begitu." Meri segera pamit dari sana, dan kembali ke meja di mana Jeesany dan Risya menunggunya.


Langit bernafas lega. Ia akhirnya lepas dari bayangan Tante Meri. Kemudian ia segera kembali ke dalam Kafe dan melanjutkan pekerjaannya.


"Tante lama sekali?" ucap Jeesany saat Meri sudah bergabung dengan mereka.


"Iya, toiletnya mengantri." Meri beralasan.

__ADS_1


"Kalian masih mau nongkrong di sini? Tante mau pamit karena ada urusan lain." Meri beranjak sambil mengambil beberapa uang dari dompetnya.


"Ini, buat jajan kalian," ucap Tante Meri meletakkan uang tersebut di atas meja.


"Tante, tidak perlu repot-repot," tolak Risya dan Jeesany bersamaan.


"Kalian berdua sudah aku anggap seperti anakku sendiri, jadi ambil dan terima," ucap Meri tersenyum lembut lalu berpamitan dan beranjak keluar dari Kafe tersebut.


Risya dan Jeesany saling pandang. "Kita bagi dua," ucap Risya lalu membagi uang pemberian Meri.


Tidak berselang lama, Langit menghampiri Jeesany.


"Duh, Pak Dosen," goda Risya.


Jeesany langsung berubah menjadi macan betina saat melihat kekasihnya di goda oleh sahabatnya sendiri.


Langit terkekeh melihat kekasihnya cemburu. Kemudian ia mendudukkan diri di kursi yang ada di samping kanan Jeesany.


"Kenapa kamu berada di sini?" tanya Jeesany kepada Langit yang memadangnya tidak berkedip.


"Aku merindukanmu," jawab Langit sambil menipiskan bibirnya.


"Gombal!" jawab Jeesany seraya memalingkan wajahnya yang tersipu malu.

__ADS_1


"Jadi nggak tahan pengen ..." Langit sengaja menggantungkan ucapannya, lalu mengerling nakal ke arah Jeesany.


"Hei, Pak Dosen, kenapa kamu menjadi mesum sekali," cibir Jeesany.


"Mesumnya sama muridku yang nakal ini," jawab Langit lalu menggenggam tangan Jeesany dengan erat.


"Aku lama-lama diabetes, karena terlalu sering melihat senyuman kamu yang manis banget," ucap Jeesany, rasanya ia sangat ingin memeluk kekasihnya itu. Sudah satu minggu mereka menahan diri untuk tidak bermesraan.


Langit malah semakin melebarkan senyumannya. Dan Jeesany semakin gemas melihat senyuman kekasihnya yang manisnya kelewatan.


"Cium aku!" rengek Jeesany memonyongkan bibirnya.


"Tidak mau. Ini di tempat umum," tolak Langit, memperhatikan sekitarnya. Sebenarnya pada sore hari itu tidak terlalu ramai pengunjung.


"Ck!" Jeesany berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya karena tidak mendapatkan yang ia mau.


"Nanti malam, kamu akan mendapatkan keinginanmu. Jadi sabar, Sayang," ucap Langit kepada Jeesany yang tengah merajuk.


Sayang?


Apakah barusan Langit memanggilnya dengan sebutan Sayang? Batin Jeesany, berbunga-bunga.


"Baiklah. Aku akan sabar menuggumu," jawab Jeesany tersenyum lembut kepada Langit.

__ADS_1


"Kamu memang wanitaku," ucap Langit seraya mengerling nakal.


"Ya, ampun. Jantungku tidak aman," batin Jeesany.


__ADS_2