
Sean dan Irene ikut beranjak dari duduknya saat anak dan menantu mereka keluar dari rumah tersebut.
“Aku tidak masalah jika dulu Daddy dan Mommy mengasingkan aku di paviliun belakang rumah mewah ini. Di tempat pengasingan itu membuatku tersadar jika hidup sederhana jauh lebih membahagiakan dari pada bergelimang harta! So, aku harap kalian juga bisa belajar dari kisah masa lalu sudah kalian lakukan kepadaku,” ucap Sean lalu menarik istrinya dari ruang makan itu, akan tetapi ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“Dan ingat satu hal, aku menikahi Irene di saat aku tidak memiliki apa-apa. Kami memulai kehidupan rumah tangga kami dari Nol hingga bisa seperti ini. Jadi jangan menge-judge pekerjaan orang lain, karena kita tidak tahu takdir ke depannya nanti.” Setelah mengatakan hal itu semua Sean dan istrinya keluar dari rumah tersebut dengan perasaan kecewa yang luar biasa.
Sepi, sunyi dan senyap, yang terasa di ruang makan tersebut. Semua orang di sana terdiam dan menunduk kepala.
Perkataan Sean begitu menusuk ke dalam dada mereka.
“Jangan ada yang membahas ini lagi!” ucap Xander seraya mendudukkan dirinya, dan menghenyakkan punggungnya di sandaran kursi dengan kasar.
“Begitu mudahnya kamu mengatakan hal tersebut, Dad?!” Jeje tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
“Oke, aku salah, dan akan meminta maaf kepada mereka,” jawab Xander.
“Mereka siapa? Sudah jelas jika Sean dan keluarga kecilnya adalah bagian dari keluarga ini! Apakah Daddy tidak ingat statusku dulu yang hanya seorang pelayan di sini? Melisa, Irene, dan Jeff Smith mereka juga bukan dari kelas atas! Tapi, kenapa--?” ucapan Jeje terhenti saat Xander memotong ucapanya.
“Aku hanya menguji Dosen itu, apakah dia pantas untuk Jeesany atau tidak!” jawab Xander dengan cepat.
“Tapi, tidak seharusnya Daddy mengatakan kalimat yang menyakitkan!” Jeje kesal dengan suaminya lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
Acara makan malam yang baru akan di mulai itu pun menjadi sangat kacau.
*
*
*
Sean mengendarai mobilnya keluar dari rumah mewah tersebut.
Sedangkan Jeesany dan Langit sudah tidak ada di sana, mungkin mereka pulang menggunakan taksi.
“Jangan berkecil hati.” Irene menggenggam tangan kiri suaminya yang tidak memegang stir mobil.
Irene tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. “Kita sudah bahagia ‘kan?” tanya Irene.
“Sangat bahagia,” jawab Sean.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu Jeesany dan Langit saat ini sedang menuju rumah orang tua Langit, mereka pergi ke sana menggunakan taksi online.
“Jangan dengarkan ucapan siapa pun yang ingin membuatmu berkecil hati. Yang paling utama adalah aku akan tetap berada di sisimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu,” ucap Jeesany kepada suaminya.
“Terima kasih. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu dengan segala kemampuanku,” jawab Langit.
“Bahagia itu sederhana, sama halnya saat aku menatap langit di malam hari yang di hiasi bintang-bintang yang begitu indah, yang mampu menyejukkan mata dan menenangkan jiwa.” Jeesany berkata sambil tersenyum menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.
“Sejak kapan kamu bisa sepuitis ini?” tanya Langit, menjadi gemas dengan istrinya yang pandai menggombal.
“Mungkin ketika aku mulai jatuh cinta denganmu,” jawab Jeesany tertawa pelan lalu mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
“Aku mencintaimu,” ucap Jeesany dengan tulus.
“Aku lebih mencintaimu.” Langit menjawab sambil mengusap permukaan bibir Jeesany dengan salah satu ibu jarinya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, dan melabuhkan ciuman hangat di bibir istrinya yang sudah membuatnya candu.
Taksi yang mereka tumpangi terus melaju kencang membelah jalanan ibu kota pada malam hari itu. Mereka berciuman dengan mesra dan mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang mereka tanpa memedulikan sopir taksi yang sedang fokus menyetir mobil.
...\=\=TAMAT\=\=...
__ADS_1
Jangan bersedih teman-teman, karena masih ada ekstra part-nya ya❤❤