
Langit mendekati Jeesany yang terbaring lemah sembari menggaruk kedua lengannya bergantian yag mulai terlihat bintik-bintik merah.
“Jangan di garuk nanti lenganmu terluka,” ucap Langit seraya menghentikan aksi Jeesany yang masih menggaruk lengannya.
“Tapi, ini gatal!” keluh Jeesany sudah ingin menangis.
Langit menarik salah satu tangan Jeesany lalu menggosoknya dengan penuh kelembutan. “Seperti ini saja,” jawab Langit datar.
Jeesany menatap Langit yang menggosok lengannya dengan lembut, entah kenapa ada suatu rasa yang aneh merasuk ke dalam dadanya.
“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?!” Langit melepaskan tangan Jeesany saat merasa di perhatikan oleh muridnya itu.
“Tidak apa-apa, hanya saja ingin mengucapkan terima kasih,” jawab Jeesany tersenyum tipis. Langit menatap Jeesany dengan datar lalu mengangguk pelan.
“Ish, dalam keadaan seperti ini pun, dirinya tidak tersenyum sama sekali? Dasar muka triplek!” umpat Jeesany di dalam hati.
Tidak berselang lama Dokter yang beberapa saat yang lalu merawat Jeesany memberikan beberapa obat kepada Langit.
Lalu Dokter tersebut memberikan penjelasan meminum obat tersebut. Langit mengangguk mengerti, kemudian ia mengeluarkan dompetnya dan membayar biaya Klinik tersebut.
“Terima kasih, Dokter,” ucap Langit dan Jeesany bersamaan saat akan keluar dari Klik tersebut.
“Sama-sama, semoga lekas sembuh,” jawab Dokter ramah.
__ADS_1
*
*
Irene dan Sean masih berada di Kafe Cinta. Mereka berdua kebingungan karena putrinya menghilang begitu saja.
“Jeesany tidak mengangkat teleponnya sejak tadi. Ya Tuhan, Sany!” Irene masih berusaha untuk menghubungi putrinya.
“Mungkin Jeesany sudah pulang, Bun,” sahut Sean.
“Tidak mungkin dia pulang dengan keadaan seperti itu. Biasanya jika sedang alergi dirinya tidak bisa jauh dari air, mungkinkah--”
“Bunda! Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Sebaiknya kita cari Jeesany di sekitar sini,” ucap Sean.
Jeesany dan Langit sudah berada di dalam mobil. “Minum obatnya,” ucap Langit sembari menyodorkan kantong plastik berwarna putih yang berisi obat kepada Jeesany.
Kemudian Langit mengambil satu botol air mineral yang selalu ia sediakan di dalam mobilnya. “Ini airnya.”
Jeesany menerima air tersebut lalu segera meminum obatnya agar alerginya itu cepat hilang.
Drttt ... Drttt
Ponsel Jeesany yang berada di dalam clucth bag dan tergeletak di jok belakang terdengar bergetar panjang menandakan jika ada panggilan masuk.
__ADS_1
Langit dengan sigap mengambil tas Jeesany dan memberikannya kepada gadis yang duduk di sampingnya itu.
“Terima kasih,” ucap Jeesany lalu mengambil ponselnya, dan mengangkat panggilan telepon dari ibunya.
“Hallo Bunda. Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku,” ucap Jeesany saat mengangkat penggilan telepon tersebut, kemudian ia segera mengakhirnya secara sepihak.
Jeesany yakin jika saat ini kedua orang tuanya sedang panik dan mencemaskan keadaannya akan tetapi dirinya butuh waktu untuk menenangkan diri.
Jeesany menatap kosong ke arah depan sana. Langit hanya memandang gadis yang ada di sampingnya itu dalam diam.
“Antarkan aku ke Hotel yang ada di dekat sini,” ucap Jeesany tanpa menoleh.
“Apa?” Langit takut salah dengar.
“Aku tidak ingin pulang,” jawab Jeesany.
“Tapi--”
“Please,” pinta Jeesany dengan nada memohon, menoleh dan menatap Langit dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
“Baiklah,” jawab Langit segera memacu kendaraannya menuju hotel yang tidak jauh dari sana.
***
__ADS_1
Jee, jangan mancing-mancing pak dogan deh🤣