
“Kamu baik-baik saja?” tanya Jeesany kepada Langit melalui sambungan telepon. “Apakah Ayah mengatakan hal yang menyakitimu?”
“Aku baik-baik saja. Tidak, kami tadi hanya mengobrol biasa,” bohong Langit, karena tidak ingin membuat kekasihnya itu cemas.
“Ah, syukurlah. Aku pikir tadi Ayah berkata kasar kepadamu,” ucap Jeesany di seberang sana. “Kamu sudah pulang ke rumah?” tanya Jeesany.
“Aku belum pulang. Hari ini aku shif malam di Kafe,” jawab Langit tersenyum tipis karena kekasihnya itu mengkhawatirkan dirinya.
“Kamu sangat pekerja keras. Kalau begitu selamat bekerja, dan semangat!” Jeesany menyemangati kekasihnya.
“Beri aku satu kecupan,” ucap Langit dengan cepat sebelum Jeesany menutup panggilan telepon tersebut.
Jeesany terpaku saat mendengar permintaan Langit. “Kecupan?” beo Jeesany sambil garuk-garuk kepala.
“Iya,” jawab Langit.
“Emh, baiklah. Sedikit saja tapi. Muacchh!” Jeesany segera menutup panggilan telepon tersebut setelah memberikan kecupan untuk Langit.
Jeesany meletakkan ponselnya di depan dada sambil tersenyum mesem, dan salah satu tangannya menangkup salah satu pipinya yang memanas. Ia yakin saat ini wajahnya seperti kepiting rebus.
Langit yang masih berada di dalam mobil tersenyum tipis sambil menatap ponselnya yang sudah menggelap. Ia yakin jika saat ini wajah kekasihnya sedang merona dan menggemaskan.
__ADS_1
Langit yang tadinya merasa down kini kembali bersemangat setelah mendengar suara Jeesany.
Kemudian Langit keluar dari mobilnya, berjalan menuju Kafe yang masih ramai pengunjung walau pun sudah malam. Shif malam akhirnya pun di mulai.
*
*
“Sany!!!” teriak Irene sambil menggedor-gedor pintu kamar Jeesany pada pagi hari itu.
“Sany!!” teriak Irene sekali lagi, dan Sean pun tampak mondar-mandir di belakang istrinya.
CEKLEK
Jeesany menguap lebar sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal. “Bunda, aku masih ngantuk! Hari ini aku masuk siang!” keluh Jeesany karena merasa tidurnya terganggu.
“Kita harus ke rumah Bela!” Irene segera menyeret putrinya begitu saja.
“Tunggu! Memangnya kenapa kita harus ke rumah Bela se-pagi ini?” Jeesany melepaskan tarikan tangan ibunya.
Sean dan Irene saling pandang kemudian mereka berdua menyuruh putrinya untuk segera berganti pakaian. Dengan sedikit paksaan akhirnya, Jeesany segera masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
“Sebenarnya ada apa?” Jeesany bertanya kepada orang tuanya ketika dirinya sudah keluar kamar dan sudah berganti pakaian.
“Kamu tidak mengecek ponselmu?” tanya Irene.
Jeesany menggeleng pelan, karena ponselnya sengaja ia matikan jika sedang mengisi daya.
Irene menghela nafas panjang, lalu menatap suaminya. Sean menganggukkan kepalanya pelan.
“Bela, mengakhiri hidupnya,” jawab Irene dengan pelan.
“Hah?” Jeesany menjadi cengo kemudian ia tertawa terbahak. “Bunda bercandanya nggak lucu. Tadi malam aku dan Risya masih telepon dengannya.” Jeesany tentu saja tidak percaya.
Sean langsung menarik tangan putrinya menuju mobil mereka yang terparkir di halaman rumah.
“Ayah!” kesal Jeesany.
“Kita ke rumah Bela sekarang.” Sean segera membuka pintu mobil bagian belakang untuk putrinya.
Melihat kedua orang tuanya yang terlihat serius dan panik, membuat dada Jeesany semakin berdegup dengan kencang. Dalam benaknya bepikir, tidak mungkin temannya meninggal dunia dengan cara yang tragis seperti itu.
Mobil yang di kendarai Sean sudah melaju dengan kecepatan kencang, membelah jalanan ibu kota pada pagi hari itu.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, mobil yang di kendarai Sean sudah terparkir tidak jauh dari rumah Bela.
Jeesany segera keluar dari dalam mobil dan berlari secepat mungkin saat rumah temannya terlihat sangat ramai.