
Jeesany tercengang dengan ucapan Langit. Kedua matanya mengedip berulang kali terlihat lucu dan menggemaskan di mata Langit. Dan bibir Jeesany menganga lebar, serta menatap tidak percaya kepada Langit yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya.
Melihat Jeesany yang terlihat syok pun akhirnya Langit mendekatkan dirinya lalu menarik pinggang Jeesany hingga merapat ke tubuhnya.
CUP
Satu kecupan manis di daratkan di pipi Jeesany. Kecupan singkat itu pun berhasil menyadarkan Jeesany dari rasa terkejutnya.
“Kamu diam berarti jawabannya iya,” ucap Langit menatap datar Jeesany.
Jeesany terkesiap lalu segera mendorong dada bidang Langit, berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan dosennya itu, akan tetapi semakin ia berusaha untuk melepaskan diri, pelukan Langit semakin erat.
“Pak!” kesal Jeesany menatap sengit Langit yang tersenyum miring ke arahnya.
“Mulai hari ini kamu akan sudah resmi menjadi kekasihku,” ucap Langit dengan datar.
“Apakah Anda sud--” ucapan Jeesany terhenti saat merasakan ada benda kenyal mendarat di bibirnya. Jantung Jeesany seakan ingin lepas dari tempatnya saat Langit mencium bibirnya.
Jeesany mengedipkan matanya berulang kali, kemudian kedua tangannya itu mendorong pundak Langit hingga ciuman itu terlepas.
__ADS_1
Langit menatap wajah cantik Jeesany dengan dalam, ia mengusap permukaan bibir Jeesany yang basah.
“Jika di luar kampus, kamu adalah kekasihku, tapi jika di dalam kampus, kamu tetap muridku, paham!” ucap Langit dengan datar lalu melepaskan pelukannya itu.
“Hah?” Jeesany masih tidak mengerti dengan semua ini. Dosennya menyatakan cinta kepadanya atau memaksa dirinya? Akan tetapi otak Jeesany yang tidak sinkron membuat gadis itu langsung mengangguk patuh.
“Good Girl,” jawab Langit seraya mengusap pucuk kepala gadis yang saat ini sudah menjadi kekasihnya itu dengan lembut.
CUP
Langit mengecup bibir Jeesany sekali lagi, hanya sebuah kecupan saja tidak lebih.
“Aku membutuhkan dokter jantung. Eh, tidak! Dokter cinta saja,” batin Jeesany, saat merasakan jantungnya berdebar tidak karuan.
“Aku akan pulang, kamu istirahatlah. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku,” ucap Langit tersenyum manis.
Jeesany mengangguk saja seperti orang bodoh karena saking terpesonanya saat melihat senyuman manis Langit.
Langit memundurkan langkah dan segera keluar dari kamar hotel tersebut. Meninggalkan Jeesany yang mematung di tempat.
__ADS_1
Pintu hotel sudah tertutup dengan rapat. Jeesany memegangi dadanya lalu beralih menyentuh bibirnya.
“Apa itu tadi? Aku sudah menjadi kekasih dosen killer itu?” gumam Jeesany dengan perasaan yang tidak karuan.
***
Langit mengendarai mobilnya dengan perasaan yang lega dan bahagia, sejak tadi dirinya terus mengembangkan senyumannya.
Setidaknya dirinya sudah mengikat Jeesany sebagai kekasihnya sebelum di dahului pria lain. Sepertinya ia akan bekerja lebih keras lagi agar bisa menghalalkan Jeesany dalam ikatan suci pernikahan.
Ya, bukan karena dirinya sudah mengambil kesucian Jeesany akan tetapi karena ia sudah menyukai muridnya itu sejak dulu.
Tidak berselang lama mobil yang di kendarainya sudah sampai parkiran Kafe.
“Lang kamu dari mana saja?!” tegur Supervisor kepada Langit yang baru memasuki Kafe.
“Maaf tadi aku ada urusan sebentar,” jawab Langit beralasan.
“Lain kali jika mau pergi minta izin lebih dulu! Jangan mentang-mentang kamu temannya Bos, menjadi seenaknya seperti ini!” ucap Supervisor itu sangat pedas.
__ADS_1
“Maaf, sekali lagi maafkan aku,” ucap Langit, segera berlalu dari hadapan atasannya, dan melanjutkan pekerjaannya.