Boy For Rent

Boy For Rent
Ketegangan


__ADS_3

Jeesany mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah Xander tanpa rasa takut sedikit pun.


Semua orang yang duduk mengelilingi meja makan tersebut menatap ke arahnya, kecuali kedua orang tuanya.


Langit menatap Jeesany sembari menggelangkan kepalanya, seolah memberikan tanda jika istrinya itu tidak perlu mengatakan apa pun. Dengan penuh keberanian, Langit berdiri dari duduknya lalu menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan yang selalu terlihat tenang.


"Apa yang dia lakukan!" Sean berkata kepada istrinya. "Apakah dia ingin mencari masalah lagi?!" lanjutnya dengan nada geram.


"Jangan mengambil kesimpulan sendiri! Dengarkan dia berbicara!" Irene menepuk paha suaminya dengan keras agar berhenti berbicara.


Xander menatap Langit sambil tersenyum miring seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Punya keberanian juga ternyata," batin Xander, menatap Langit dengan tajam.


Jeesany merasa jika keluarganya di permalukan oleh Xander di depan keluarga besarnya itu.


"Dasar kakek tua menyebalkan! Ini tidak bisa di biarkan!" Jeesany berkata di dalam hati, lalu ia segera menarik tangan Langit, agar suaminya itu duduk kembali di kursinya, akan tetapi Langit tidak bergeming sama sekali.


Langit menghela nafas panjang ketika akan berbicara.


"Selamat malam semuanya. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya berada di sini, di tengah keluarga ini. Perkenalkan saya adalah Langit Pradika, suami Jeesany," ucap Langit dengan sopan.


Seketika itu suasana di ruang makan tersebut yang tadinya tegang kini menjadi sangat riuh.

__ADS_1


"Kalian MBA?" tanya Matteo sekaligus mewakili pertanyaan semua orang yang ada di sana.


"Ya," jawab Langit dengan tegas.


Jeesany menggigit bibir bawahnya dengan kuat, saat keluarga besarnya kini beralih menatapnya dengan tatapan yang aneh.


Sean dan Irene hanya bisa pasrah saat aib keluarganya di bongkar di ruang makan tersebut.


"Jadi kamu sudah hamil duluan?" tanya Gwen yang duduk berseberangan dengan Jeesany.


Jeesany mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Terus terang kami terkejut mendengarnya, akan tetapi kami tidak bisa menghakimi. Kalian yang berbuat pasti sudah memikirkan konsekuensinya sebelumnya," jawab Gwen kepada Jeesany.


Langit kembali duduk di kursinya, lalu menggenggam tangan Jeesany dengan sangat erat.


"Sudahlah Dad!" Jeje mulai jengah dengan sikap suaminya yang semakin tua malah semakin seperti anak kecil.


"Tapi, Honey—"


"Mau aku ingatkan jika Aiden dan Gwen mempunyai kesalahan yang sama?!" Jeje menatap tajam suaminya.


"Oke!" Xander langsung bungkam ketika mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


"Untuk masalah ini biar keluarga kita saja yang tahu. Dan tidak perlu di bahas lagi. Lagi pula Langit sudah bertanggung jawab atas kehamilan Jeesany. So, selamat bergabung di Keluarga Clark untuk Langit," ucap Jeje kepada semua orang di sana, dan terakhir ia tujukan kepada Langit yang duduk di samping Jeesany.


Langit tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala dengan sopan.


Ketegangan di ruang makan sudah mereda, dan tergantikan dengan suasana yang hangat. Namun hanya sesaat saja, karena tidak berselang lama Xander kembali mengajukan pertanyaan kepada Langit. Sepertinya pria tua itu masih belum puas mengintrogasi Langit.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Xander kepada Langit.


"Dosen, saya Dosen di sebuah Universitas X," jawab Langit.


"Seorang Dosen yang seharusnya mendidik muridnya kenapa malah sebaliknya? Merusak anak didiknya?!" Xander berbicara dengan nada sinis.


"Sudahlah, Dad! Hentikan semua ini!" Jeje berusaha untuk menghentikan suaminya agar tidak membuat kekacauan lagi.


"Aku belum selesai bicara Honey!" Xander tidak ingin mendengarkan ucapan istrinya.


"Maafkan saya, Tuan." Hanya itu yang bisa di katakan oleh Langit, karena ia juga merasa bersalah dalam hal ini. Jika pihak kampus mengetahuinya pun pasti akan memecatnya.


"Gaji seorang dosen itu kecil. Apakah kamu bisa menghidupi cucuku dengan gajimu itu?!" Xander melontarkan pertanyaan yang menyudutkan Langit.


Sumpah demi apa pun, Jeesany sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. Ia segera beranjak dari duduknya, lalu menatap tajam Xander tanpa rasa takut.


"Jika Opa mengundang kami hanya untuk di permalukan seperti ini! Maka selamat, usaha Opa sudah berhasil! Tapi, satu hal yang perlu Opa tahu, ada beberapa hal yang tidak bisa di beli dengan uang, dan hal tersebut adalah kebahagiaan dan ketenangan!" ucap Jeesany dengan penuh emosi, lalu menarik tangan suaminya dan membawa keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, komentar, vote dan kasih Gift seikhlasnya❤


__ADS_2