Boy For Rent

Boy For Rent
Mencuri waktu


__ADS_3

Jeesany segera menghantikan aksi suaminya ketika suaminya itu meraba bagian bawahnya.


"Sayang, di rumah saja," ucap Jeesany sembari menahan tangan Langit.


"Kita masih di area kampus," lanjut Jeesany, menangkup wajah suaminya yang terlihat memerah karena menahan gairah.


"Baiklah," jawab Langit, mengecup salah satu tangan istrinya yang menangkup wajahnya.


Langit menghenyakkan punggungnya di sandaran jok mobilnya, kedua matanya terpejam dan ia berusaha mengatur nafasnya yang memburu, seraya meredam gairahnya yang sudah naik ke ubun-ubun.


Sedangkan Jeesany membenarkan Br* dan juga pakaiannya yang berantakan karena ulah suaminya.


Setelah gairahnya sudah surut. Langit segera melajukan mobilnya, menuju rumah istrinya. Ia harus segera sampai di rumah agar bisa melampiaskan hasratnya.


Malam hari itu udara terasa sejuk, dan jalanan kota terlihat lengang. Langit mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, dan tidak berselang lama mobil yang di kendarainya sampai di halaman rumah istrinya.


"Ayo! Aku sudah tidak tahan," ucap Langit kepada istrinya.


"Iya, sabar dong," jawab Jeesany lalu keluar dari mobil bersamaan dengan suaminya.


"Akhirnya kalian pulang juga!" Irene menyambut anak dan menantunya.


"Ada apa, Bun?" tanya Jeesany.

__ADS_1


"Cepat mandi dan berganti pakaian. Kita semua di undang makan malam di rumah utama," jawab Irene kepada Jeesany dan Langit.


Pupus sudah harapan Langit yang ingin menikmati surga dunianya. Si Tiger yang tadinya sudah menunjukkan taring kini menjadi kecil lagi dalam kandangnya.


"Bunda! Tapi, aku malas jika harus ke rumah utama," rengek Jeesany, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Opa dan Oma sudah mengetahui pernikahan kalian! Jadi, kalian jangan sampai tidak datang jika tidak ingin mendapatkan hukuman," ucap Irene lalu segera mendorong anak dan menantunya menuju kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sampai di dalam kamar, Langit masih sempat menciumi tengkuk istrinya dengan penuh gairah.


"Pak Dosen kita harus bersiap," ucap Jeesany seraya memiringkan kepalanya, seolah memberikan akses kepada Langit agar bisa menelusuri leher jenjangnya lebih leluasa.


"Sebentar lagi bisa tidak?" tanya Langit yang kini sudah melucuti pakaian istrinya satu persatu.


Tubuh Jeesany sudah polos tanpa sehelai benang. Langit menatap tubuh polos istrinya seperti serigala kelaparan.


"Aku sudah tidak tahan lagi, berikan aku waktu 10 menit untuk menyelesaikannya," ucap Langit kemudian segera mendorong istrinya hingga terlentang di atas ranjang.


Bau keringat yang asam di tubuh Jeesany bagaikan parfum mewah bagi Langit. Ia mengendus setiap jengkal tubuh istrinya yang putih dan mulus itu.


Jeesany melenguh dan mendesaah nikmat saat mendapatkan rangsangan dari suaminya.


*

__ADS_1


*


*


"Kenapa mereka lama sekali?" tanya Irene kepada suaminya.


"Mungkin mereka masih mandi," jawab Sean sembari melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jam makan malam akan segera di mulai.


"Iya, tapi ini sudah 10 menit!" jawab Irene tidak sabar, lalu beranjak dari duduknya, menuju kamar putrinya.


Tok ... tok ...


Irene mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali. "Jeesany! Langit! Kenapa kalian lama sekali?!" seru Irene dari luar kamar.


Langit dan Jeesanya yang sedang bermain jungkat-jungkit pun menjadi kalang kabut.


"I-iya, Bunda baru selesai mandi," jawab Jeesany di bawah kungkungan suaminya yang mengujamnya dengan tempo pelan tapi sampai ke titik yang paling dalam, membuat Jeesany tidak kuasa menahan desahaannya.


"Sayang ... Ah ... Cepat sedikit ... Ugh!" Jeesany berbicara dengan susah payah di sela desahannya.


"Tanggung," jawab Langit, masih bergerak di atas tubuh istrinya.


***

__ADS_1


Kalau di sini nggak boleh terlalu Hot ya, .coba mampir ke sebelah di jamin sampai gobyoss🤣🤣


__ADS_2