
Jeesany tersentak kaget saat Langit sudah keluar dari kamar mandi. Dirinya yang tadinya duduk di tepian tempat tidur, kini berpindah ke sofa.
Langit menaikkan salah satu alisnya, menatap kekasihnya dengan heran. "Kamu kenapa?" tanya Langit yang sudah memakai baju ganti yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Jeesany, sembari memalingkan wajahnya, enggan menatap Langit.
Langit tersenyum lalu mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur, seraya menepuk sisi sebelahnya yang kosong, bertanda jika Jeesany harus duduk di sana.
"Kemarilah," ucap Langit karena Jeesany tak kunjung beranjak. "Jee!" panggil Langit sekali lagi.
"Iya," jawab Jeesany lalu beranjak, lalu duduk di samping kekasihnya yang sudah terlihat segar dan sangat tampan.
Jeesany menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia duduk dengan posisi miring, sedikit membelakangi Langit.
Langit tersenyum geli melihat tingkah Jeesany yang menggemaskan.
"Ada apa? Cepat katakanlah," ucap Jeesany sambil melirik Langit yang sepertinya sedang menertawakannya.
Langit tidak menjawab pertanyaan Jeesany, namun pria itu saat ini sedang mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Mana jarimu," ucap Langit, seraya menarik salah satu tangan Jeesany kemudian ia menyelipkan sesuatu di jari manis kekasihnya itu.
__ADS_1
Jeesany terkesiap, lalu menatap jarinya dan beralih menatap Langit dengan raut wajah yang bingung.
"Hah, ini?" Jeesany membekap mulutnya seraya menatap jari manisnya yang terselip cinci emas di sana.
"Maaf, mungkin harganya tidak seberapa," jawab Langit tersenyum tipis.
"Bukan masalah harganya, tapi apakah ini tandanya kamu melamarku?" tanya Jeesany sedikit kesal karena Langit sangat tidak romantis.
"Iya," jawab Langit.
"Iya apa?!" Jeesany semakin gemas dengan kekasihnya itu.
Langit tersenyum lalu menarik tenguk Jeesany, melabuhkan ciuman hangat dan lembut di permukaan bibir kekasihnya itu.
"Ah ..." Jeesany melenguh dan mendesaah ketika tangan Langit menyusup ke dalam bajunya, meraba perutnya yang masih rata lalu semakin merambat naik dan merremas bukit kembarnya.
Langit mengakhiri aksinya saat mendengar desaahan Jeesany, ia pun segera menarik tangan dan melepaskan tautan bibir mereka, yang pada akhirnya membuat Jeesany kecewa.
"Ada apa?" tanya Jeesany.
"Aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa melakukan kesalahan itu lagi," jawab Langit lalu mengecup kening kekasihnya.
__ADS_1
Jeesany tersenyum ketika mendengarkan jawaban Langit. "Aku pun merasa begitu. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama," ucap Jeesany.
"Kalau begitu ayo kita tidur!" ajak Langit, langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Langit memejamkan kedua matanya, seraya menghela nafas panjang guna meredamkan hasratnya.
Suasana di sana menjadi sangat canggung. Jeesany menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, saat Langit sudah tidur di atas ranjang. Ia ragu ingin menyusul Langit di sana.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Langit, melihat Jeesany yang masih duduk di tepian ranjang.
"Aku bingung mau tidur di mana," jawab Jeesany canggung dan gugup.
Langit menggeser posisinya, lalu menepuk sebelahnya. Jeesany pun mengerti lalu merebahkan diri di samping kekasihnya.
Tubuh Jeesany membeku ketika Langit memeluknya dengan erat.
"Malam ini kita hanya tidur saja, tidak lebih. Aku berjanji tidak akan macam-macam denganmu, tapi izinkan aku memelukmu untuk melepaskan kerinduan yang satu minggu ini terpendam," bisik Langit tepat di samping Jeesany, terdengar sangat lembut, hingga membuat tubuh Jeesany meremang.
Cup
Langit mengecup kening Jeesany sebagai ucapan selamat malam.
"I Love You," bisik Jeesany.
__ADS_1
"Me too," jawab Langit, kemudian kedua mata mereka terpejam, mulai terlelap dan mengarungi mimpi bersama.