
Langit dan Sean sudah sampai rumah. Langit memarkirkan motor di garasi, sedangkan Sean sudah masuk rumah terlebih dahulu sambil menenteng sebungkus rujak pesanan ibu hamil.
“Mana pesananku?!” Jeesany dengan penuh semangat menghampiri ayahnya yang sudah berada di dapur.
“Ini, kamu duduk dulu. Biar Ayah yang menyiapkannya.” Perintah Sean.
“Asyik! Terima kasih, Ayah.” Jeesany segera duduk di kursi sambil menatap Sean yang sedang memindahkan rujak buah dari styrofoam box ke piring, lalu menyajikannya di hadapannya. Tidak menunggu lama, Jeesany segera melahap rujak tersebut.
“Iya, Ayah mau mandi dulu.” Sean mengusap pucuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, kemudian berlalu menuju kamarnya.
Tidak berselang lama, Langit bergabung di meja makan, mengecup pipi istrinya dengan gemas.
“Ish! Kamu bau! Mandi dulu sana!” omel Jeesany kepada suaminya yang bau keringat, maklumlah seharian berada di bengkel.
“Berikan aku satu suap dulu.” Langit membuka mulutnya dengan lebar. Jeesany menyuapkan satu potong mangga muda ke dalam mulut suaminya.
“Asam!” Langit memejamkan kedua matanya, dan giginya terasa ngilu saat satu potong buah mangga itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
“Tidak asam sama sekali.” Jeesany tertawa melihat ekspresi suaminya.
Langit geleng-geleng kepala, seraya berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Sampai di dalam kamar, dia tidak langsung ke kamar mandi, namun mengecek ponselnya yang seharian tidak ia aktifkan.
Saat ia menghidupkan ponselnya, banyak pesan dari Satria. Langit membaca pesan semua tersebut dengan perasaan yang was-was, karena ia takut jika ibunya sampai tahu semua rahasianya yang di sembunyikan selama ini.
Langit segera menghubungi Satria dan mengatakan jika jangan sampai rahasianya bocor. Satria yang ada di seberang sana menjawab kalau rahasia aman terkendali.
Langit sedikit lega lalu segera mengakhiri panggilan tersebut, meletakkan ponselnya di meja rias istrinya kemudian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
*
*
“Mereka meminta maaf lewet telepon?” tanya Sean sambil membuka satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya.
“Iya,” jawab Irene menghela nafas kasar.
__ADS_1
“Suruh mereka datang ke sini dan meminta maaf kepada Langit dan Jeesany!” Sean berkata tegas lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Irene menggembungkan pipinya seraya menghela nafas kasar. Suaminya marah besar, seperti dugaannya sebelumnya. Ia pun segera mengirimkan pesan kepada Ibu mertuanya.
“Kenapa mereka selalu bersikap seperti itu kepada kami? Apakah karena kami memutuskan mandiri dan keluar dari rumah utama?” Irene bergumam kepada dirinya sendiri. Merasa di kucilkan oleh Xander dan Jeje.
Irene tidak ingin menjadikan hal itu beban pikirannya. Masih banyak yang harus urus. Kemudian ia segera beranjak dari tepian tempat tidur menuju lemari dan mengambilkan pakaian ganti suaminya. Meletakkan pakaian ganti itu di atas tempat tidur, setelah itu ia keluar dari kamar menghampiri putrinya yang sudah selesai makan rujak.
“Bunda tidak di bagi?” tanya Irene.
“He he he, maaf Bunda. Cucumu sangat rakus,” jawab Jeesany terkekeh pelan.
Irene tersenyum tipis seraya mendudukkan dirinya di samping putrinya. “Bunda hanya bercanda,” ucap Irene.
“Sany, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Jadilah istri yang selalu mendukung suami selama masih di jalan yang benar, dan jadilah ibu yang bijak dan baik kepada anak-anakmu nanti.” Irene memberikan wejangan kepada putrinya.
Jeesany terdiam sejenak mencerna setiap kata dari bundanya agar masuk ke dalam otaknya, kemudian ia mengangguk bertanda paham.
__ADS_1
“Bunda adalah panutanku,” ucap Jeesany lalu memeluk Irene dari samping.
Irene tersenyum lalu membalas pelukan putrinya.