Boy For Rent

Boy For Rent
Gatal


__ADS_3

Jeesany merasakan tubuhnya panas dingin, begitu pula kulitnya terasa gatal dan perih. “Aduh,” keluh Jeesany sambil berjalan sempoyongan menuju toilet yang ada di Kafe tersebut. Ia rasanya ingin mengguyur tubuhnya dengan air yang banyak untuk mengurangi rasa panas, gatal dan perih yang sedang ia rasakan saat ini.


Langit mempercepat langkahnya mengikuti Jeesany yang terlihat tidak baik-baik saja. Lalu ia segera menarik tangan Jeesany saat dirinya sampai di belakang gadis tersebut.


Jeesany terkejut dan menyentak tangan Langit yang tiba-tiba menarik tangannya. “Pak!” seru Jeesany dengan pandangan yang sayu.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Langit cemas.


“Aku sedang tidak baik, hati dan tubuhku terasa sangat sakit,” jawab Jeesany dengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Aku alergi ikan laut, rasanya tubuhku panas dan gatal,” lanjutnya.


Langit menarik tangan Jeesany dengan cepat, lalu menuntun gadis itu menuju pintu belakang restoran tersebut.


“Kita mau ke mana?” Jeesany bertanya sambil meringis sakit.


Langit tidak menjawab, namun ia terus menarik Jeesany menuju parkiran mobil yang di khususkan untuk karyawan Kafe tersebut.


“Kita ke Klinik terdekat,” ucap Langit, memaksa Jeesany masuk ke dalam mobilnya.


Sementara itu Irene dan Sean masih berdebat dengan keluarga Josua tanpa menyadari jika putri mereka sudah keluar dari Kafe tersebut.

__ADS_1


“Saya juga tidak sudi berbesanan dengan Anda! Bagaimana bisa Ayah saya bisa mengenal kalian yang lebih menjijikkan dari sampah!” umpat Sean dengan lantang dan penuh emosi.


“Aku curiga, mereka ini membujuk dan menjilat seperti seekor an*jing agar bisa menjadi bagian keluarga Clark!” Baru kali ini Irene mengatakan hal yang sekasar itu, karena saking kesalnya, putrinya di hina.


“Hei! Tutup mulutmu!” bentak Mama Josua dengan lantang.


“Ma, sudah! Lebih baik kita segera pergi dari sini!” Josua segera menarik kedua orang tuanya keluar dari Kafe tersebut.


Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika keluarga Josua itu sudah berlalu dari hadapannya. Kemudian beralih menatap suaminya dengan sangat tajam.


“Bunda, aku--,” ucapan Sean terhenti saat istrinya pergi meninggalkan dirinya begitu saja menuju toilet wanita, karena ia yakin jika saat ini putrinya sedang berada di sana.


Sean segera berlari mengikuti istrinya yang terlihat sangat mengerikan malam ini, seperti macan yang siap untuk menerkam mangsanya.


“Huh, tadi adalah pertunjukkan yang sangat menegangkan!” seru Supervisor dan di angguki oleh karyawa di sana.


Irene membuka semua pintu toilet wanita namun ia tidak menemukan putrinya.


“Sany!” seru Irene yang kini memasuki toilet pria.

__ADS_1


“Bunda, Sany tidak ada?” tanya Sean kepada istrinya yang terlihat panik, cemas dan seperti orang yang kebingungan.


“Bunda--”


“Diam! Ini semua karena kamu!” sentak Irene sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi putrinya.


Sean langsung ciut ketika mendapatkan amukan dari istrinya.


Merasa bersalah dan menyesal sudah pasti, jika saja ia bisa menentang kedua orang tuanya lebih keras lagi. Semua ini tidak akan pernah terjadi.


*


*


Jeesany sudah sampai Klinik terdekat dengan Kafe Cinta. Dirinya pun sudah di periksa oleh Dokter yang ada di sana.


Langit menatap Jeesany yang terbaring di brankar Klinik dengan cemas.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Langit kepada Dokter wanita yang baru selesai memeriksa Jeesany.

__ADS_1


“Efek alerginya sangat parah. Tapi, Anda tidak perlu cemas, saya akan memberikan obat untuk kekasih Anda,” ucap Dokter tersebut.


Langit mengangguk dengan wajah datarnya.


__ADS_2