
Jeesany dan Risya sudah sampai di kampus. Kedua gadis cantik itu berjalan di koridor kampus dengan santai dan sambil mengobrol. Mereka berbelok ke kiri pada saat sampai di pertigaan koridor, berjalan menuju kelas mereka.
“Berasa ada yang kurang kalau Bela nggak ada di tengah kita,” ucap Jeesany.
“Hu-um,” jawab Risya hanya berdehem saja, sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka sudah sampai di depan kelas fakultas teknik. Risya menoleh ke kiri dan ke kanan, sedangkan Jeesany sudah masuk kelas lebih dulu.
“Semoga saja Pak Dosen killer berubah menjadi cute setelah bertemu dengan pawangnya,” gumam Risya saat melihat Langit berjalan ke arah kelasnya. Risya pun segera masuk ke dalam kelas, lalu mendudukkan diri di samping Jeesany yang sudah mengeluarkan buku materi pelajaran.
“Ada ayang beb,” bisik Risya, lalu menaik turunkan alisnya, menggoda Jeesany.
“Apaan sih!” gerutu Jeesany seraya mencebikkan bibirnya dengan kesal. Pandangannya kini tertuju ke depan sana, di mana Langit baru memasuki kelas.
“Good boy, but cupu, yang jadi pertanyaan apakah dia kuat di atas ranjang?” bisik Risya dengan jahilnya.
“Ris!!!” geram Jeesany seraya melotot horor ke arah temannya itu.
“He he he, aku ‘kan hanya bertanya. Eh, tepatnya penasaran,” jawab Risya tersenyum meringis sembari mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya di dekat telinga, membentuk huruf ‘V’.
“Dasar otak mesum!” umpat Jeesany dengan kesal.
Langit menatap satu persatu muridnya yang ada di dalam kelas, tatapannya terhenti pada Jeesany yang terlihat berbisik dengan Risya. Ia tersenyum tipis saat melihat Jeesany hari terlihat berdandan, terlihat lebih cantik dari biasanya.
__ADS_1
Oh, apakah muridnya itu berdandan untuk dirinya?
Ha ha ha, sepertinya ada yang Ge-er. 🤣🤣
Langit mengubah ekspresinya menjadi datar kembali, kemudian dirinya menyapa seluruh muridnya dan mengabsen satu persatu muridnya dengan suara yang lantang.
“Bela ke mana?” tanya Langit kepada Jeesany, lalu beralih menatap bangku yang kosong di sebelah kanan Jeesany.
Jeesany yang sedang asyik memainkan ponselnya di bawah meja pun terkejut saat tangannya di senggol oleh Risya.
“Heh, apa?” tanya Jeesany menoleh.
“Di panggil ayang beb itu,” bisik Risya sembari tertawa cekikikan.
“Ada apa, Pak?” tanya Jeesany bersikap biasa saja, padahal jantungnya saat ini seperti genderang perang.
“Bela, ke mana? Bolos lagi?” tanya Langit dengan nada datar dan dingin.
“Iya,” jawab Jeesany singkat padat dan jelas.
“Katakan kepada Bela jika sekali bolos lagi maka tahun depan dirinya tidak akan lulus kuliah!” ucap Langit dengan tegas, menatap datar Jeesany.
“Baiklah,” jawab Jeesany cepat.
__ADS_1
Pelajaran pun segera di mulai ketika Langit sudah selesai mengabsen muridnya.
*
*
*
“Daddy dan Mommy tidak perlu menjodohkan Sany dengan pria mana pun. Tadi malam dia kabur dari rumah, karena marah,” ucap Irene kepada kedua mertuanya yang duduk berhadapan dengannya.
“Kenapa di antara para cucuku, hanya Jeesany yang paling badung?” keluh Jeje kepada menantunya.
“Aku tidak tahu, Mom. Karena sudah bawaan dari lahir seperti itu,” jawab Irene sambil tersenyum tipis.
“Sifatnya sangat persis seperti Sean. Sulit untuk di atur.” Xander menimpali.
“Bibitnya siapa?” Jeje bertanya kepada suaminya.
Xander menggaruk kepalanya yang sudah di tumbuhi banyak uban itu dengan kesal. “Kenapa aku terus yang di salahkan!”
***
Jangan lupa dukungannya bestie❤❤
__ADS_1