Boy For Rent

Boy For Rent
Pil Kontrasepsi 2


__ADS_3

Pagi hari telah menyapa. Di sebuah kamar hotel sepasang kekasih telihat saling berpelukan di bawah selimut tebal.


Jeesany menggeliat dalam tidurnya dan perlahan mengerjapkan kedua matanya.


"Tidurku nyenyak sekali." Jeesany bergumam sambil menguap lebar. Kemudian ia tersenyum saat pertama kali membuka mata yang ia lihat adalah wajah tampan Langit.


"Dia tetap terlihat sangat tampan walau sedang tidur seperti ini," ucap Jeesany sambil mengusap pipi Langit dengan punggung tangannya.


Karena merasa tidurnya terganggu, dengan perlahan Langit membuka kedua matanya dengan perlahan, seraya menangkap tangan Jeesany yang tengah mengusap pipinya.


Jeesany sedikit terkejut tapi ia juga tersenyum. "Aku mengganggu tidurmu ya?" tanya Jeesany.


Langit menggeleng pelan, lalu mengecup tangan Jeesany yang ada di genggamannya. "Sudah jam berapa ini?" tanya Langit.


"Mungkin jam 6 pagi," jawab Jeesany tersenyum tipis.


Langit ikut tersenyum lalu menarik tengkuk Jeesany, dan melabuhkan kecupan manis di bibir kekasihnya itu.


"Kita harus segera bersiap untuk berangkat ke kampus," ucap Langit, seraya mendudukkan dirinya.


Jeesany menggaruk alisnya yang tidak gatal, karena kekasihnya itu sangat tidak romantis sama sekali. Padahal ia berharap jika Langit hari ini akan mengajaknya membolos kuliah, dan seharian bermesraan di atas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam?" Langit menoleh ke arah Jeesany.


"Bolehkah hari ini kita membolos saja?" rengek Jeesany.


Langit menaikkan salah satu alisnya sambil menatap Jeesany dengan datar.


"Kamu sadar saat ini sedang berbicara dengan siapa?" Langit balik bertanya dengan nada datar.


"Baiklah Pak Dosen!" sungut Jeesany lalu beranjak menuju kamar mandi dengan langkah yang kesal.


Langit tersenyum tipis melihat tingkah kekasihnya itu, lalu ia pun berjalan mengikuti Jeesany ke kamar mandi.


"Aku sudah melihat semuanya, bahkan sudah merasakannya, lalu kenapa harus malu," ucap Langit, kemudian dengan tidak tahu malunya, ia membuka seluruh pakaiannya di hadapan Jeesany.


Jeesany menelan ludahnya dengan kasar dan tubuhnya membeku di tempat saat melihat pemandangan yang membuat kedua mata sucinya ternoda.


*


*


Sementara itu, Irene sedang berada di kamar putrinya. Ia berniat untuk membangunkan Jeesany pada pagi hari itu. Akan tetapi putrinya itu sudah tidak ada di dalam kamar.

__ADS_1


"Ke mana perginya? Apakah dia sudah berangkat ke kampus? Tumben sekali," ucap Irene sambil membereskan kamar Jeesany.


"Spreinya sepertinya sudah kotor," gumam Irene lalu mulai melepaskan sprei berwarna merah yang membalut tempat tidur berukuran king size itu.


"Eh! Apa itu?" Irene menatap sesuatu yang jatuh dari tempat tidur putrinya. Ia sedikit berjongkok lalu mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah pil kb.


Tangan Irene bergetar saat memegang pil kb tersebut. "Sany, ini tidak mungkin!" Irene mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur, tubuhnya terasa lemas seolah tidak memiliki tulang.


"Jeesany, dia tidak mungkin melakukan hal sejauh ini." Irene menatap nanar pil kb yang ada di tangannya.


"Sayang, aku akan berangkat ke bengkel sekarang! Kenapa kamu lama sekali?!" seru Sean dari luar kamar Jeesany.


"Apakah anak nakal itu membuat ulah lagi?" Sean memasuki kamar putrinya saat tidak mendengar jawaban Irene.


Sean menatap istrinya mematung di tepian tempat tidur putrinya. "Bunda, kamu kenapa?" Sean mendekati Irene, lalu menatap pil pencegah kehamilan yang di tangan istrinya itu.


"Obat apa ini? Pik kb? Kamu masih mengonsumsinya?" tanya Sean.


"Itu milik Jeesany," jawab Irene dengan lirih.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2