Boy For Rent

Boy For Rent
Ekstra part 5


__ADS_3

"Ada apa ini?!" Sean bertanya kepada semua karyawannya.


"Ini Bos. Anak baru ini bikin ulah!" jawab Pian kepada Sean.


"Bikin masalah apa?" tanya Sean dengan dengan tegas, lalu menatap Langit yang menggelangkan kepala seolah memberi tahu jika dirinya tidak mengetahui apa-apa.


"Dia salah memberikan oli ke mobil yang itu." Pian menunjuk mobil mewah yang ada di sana.


"Pria ini memberikan oli yang salah!" ucap pelanggan membenarkan.


Sean mengecek oli mesin yang belum di tuang semuanya. "Memangnya biasanya olinya apa yang di berikan? Ini benar kok oli khusus mobil ini!" ucap Sean, membuat semua orang di sana terkejut.


"Langit tidak mungkin salah, karena dia malah jauh lebih tahu tentang mesin mesin mobil dan yang lainnya," lanjut Sean, membela menantunya.


"Maka dari itu aku juga bingung kenapa bapak ini protes," jawab Langit.


Pelanggan tersebut menunjuk salah satu oli yang sedang di pegang oleh Pian, oleh yang biasanya di berikan ke mobilnya.


Sean mengambol oli tersebut dari tangan Pian. "Yan, jadi selama ini kamu salah?" tanya Sean sambil geleng-geleng kepala.


"Boss, aku—"


"Harus di sesuaikan, Yan! Ini mobil mewah dan olinya juga harus berkualitas. Dan kenapa kamu menggunakan oli yang ini? Oli ini khusus untuk mobil biasa!" jelas Sean dengan kesal.


Pelanggan tersebut sempat tercengang beberapa saat, lalu menatap mobil Ferarri nya.

__ADS_1


"Maaf, Bos," jawab Pian.


"Jangan di ulangi lagi! Langit, lanjutkan pekerjaanmu! Dan yang lainnya juga begitu!" sentak Sean, memandangi semua karyawannya yang berkerumun.


Semua karyawan kembali ke perkerjaannya masing-masing. Sean menghampiri pelanggannya yang terlihat cengok.


"Saya minta maaf atas kesalahan ini," ucap Sean kepada pelanggannya itu.


"Ya, tapi saya tidak ingin jika hanya minta maaf saja!" seru pelanggannya itu.


"Kami akan memberikan servis gratis untuk mobil Anda!" jawab Sean tersenyum tipis lalu beranjak dari sana, namun sebelumnya ia menatap Langit yang sedang bekerja.


*


*


*


"Senang sekali, karena kandungan aku baik-baik saja," ucap Jeesany yang sudah memasuki rumah.


"Bunda kira kamu akan hamil anak kembar," sahut Irene.


Jeesany mendengus seraya memutar kedua matanya malas saat mendengar ucapan ibunya.


"Ada yang salah dengan ucapan Bunda? Wajar saja Bunda mempunyia pemikiran seperti itu karena ayahmu kembar 4." Irene menanggapi putrinya.

__ADS_1


"Iya sih," jawab Jeesany singkat padat dan jelas. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk beristirahat.


***


Sore harinya, semua karyawan di bengkel sudah bersiap untuk pulang.


"Kalian ada hubungan apa? Kenapa datang dan pergi bersama?" tanya Pian kepada Langit.


"Kebetulan rumah kami dekat," jawab Langit.


"Kamu orang kaya dong?" tanya Pian lagi.


"Tidak, aku hanya orang biasa," jawab Langit, segera keluar dari ruang tersebut menghampiri ayah mertuanya yang sudah menunggu di luar.


"Kenapa lama sekali!!" Sean protes lalu memberikan kunci motornya kepada Langit.


"Iya, maaf," jawab Langit segera naik ke atas motor.


"Mampir beli rujak dulu." Sean berkata ketika sudah membonceng di belakang Langit.


"Rujak?" tanya Langit.


"Iya, ini keinginan istrimu!" jawan Sean.


"Istriku juga anak ayah," jawab Langit tertawa pelan, lalu segera melajukan motornya untuk mencari rujak yang enak.

__ADS_1


__ADS_2