
Jeesany dan Langit saat ini sudah sampai di kampus. Seperti yang mereka katakan sebelumnya jika mereka akan bersikap biasa saja seperti dosen dan murid pada umumnya.
Tidak ada yang mengetahui pernikahan mereka, bahkan Risya pun tidak tahu pernikahan Jeesany dengan Langit.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Risya saat melihat Jeesany sejak tadi diam saja ketika mereka sudah berada di dalam kelas.
"Aku baik-baik saja," jawab Jeesany, menoleh ke arah Risya.
''Lalu kenapa kamu sejak tadi diam?'' tanya Risya.
''Aku hanya teringat tentang Bella," ucap Jeesany dengan tatapan mengarah pada bangku kosong yang ada di samping kirinya. Ia menghela nafas kasar, seketika itu rasa sesak menyeruak masuk ke dalam dadanya saat harus menerima kenyataan jika sahabatnya telah pergi untuk selamanya dengan cara yang tragis.
Risya menggenggam tangan Jeesany yang ada di atas meja. Ia pun merasakan hal yang sama dengan yang Jeesany rasakan.
"Kita harus ikhlas," ucap Risya. Jeesany menoleh ke arahnya sambil mengangguk pelan.
Tidak berselang lama, tatapan mereka fokus ke depan di mana Langit memasuki kelas, dan pelajaran pun segera di mulai.
__ADS_1
*
*
Sementara itu di rumah Sean dan Irene kedatangan tamu tidak di undang. Ya, siapa lagi kalau bukan Xander dan Jeje.
"Tumben sekali kalian datang kemari?" tanya Sean kepada ayahnya yang duduk di ruang tamu bersama ibunya.
"Apakah perlu alasan untuk menemui anak dan menantuku?!" jawab Xander dengan nada kesal.
"Ha ha ha, tidak perlu basa-basi lagi katakan apa yang ingin Daddy sampaikan," ucap Sean sambil tertawa sebal karena sikap ayahnya terlalu betele-tele.
"Kami hanya ingin mengetahui apakah kabar yang kami terima itu benar? Bahawa Jeesany sudah menikah dengan seorang pria biasa?" Jeje akhirnya buka suara.
"Waow! Pasti kalian sudah mengirim mata-mata ke sini hingga sampai mengetahui pernikahan Jeesany yang tertutup," jawab Sean dengan nada kesal, sekaligus mencibir kedua orang tuanya.
"Jadi itu benar?" Xander bertanya dengan nada tegas.
__ADS_1
"Iya, semua itu benar!" jawab Irene.
Xander berdecak kesal sambil memalingkan wajahnya. "Kenapa dia menikah dengan cara seperti ini? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Xander menatap tajam anak dan menantunya.
"Ini menjadi urusan kami selaku orang tua Jeesany. Aku rasa kalian tidak perlu ikut campur!" jawab Sean dengan tegas.
"Hei! Apakah kamu lupa dari keluarga mana kamu terlahir?! Aku tidak ingin nama baik keluarga Clark tercoreng hanya karena putrimu yang hamil di luar nikah!" jawab Xander yang terpancing emosi.
"Daddy, sabar!" Jeje berusaha mengendalikan emosi suaminya.
"Apakah Daddy lupa jika aku dan istriku sudah keluar dari Keluarga Clark sejak lama!" jawab Sean dengan nada tinggi, bukan bermasud untuk membentak akan tetapi ia tidak ingin selalu di tekan oleh kedua orang tuanya.
"Se! Jangan berkata kasar seperti ini lagi! Meskipun kamu berulang kali mengatakan keluar dari Keluarga Clark akan tetapi kamu tetap anak kami! Apakah kamu tidak memikirkan kami lagi sebagai orang tuamu?" tanya Jeje dengan nada pelan dan penuh penekanan.
"Maaf, Mom," jawab Sean menundukkan kepala.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Jangan pernah di ributkan lagi! Nanti malam bawa Jeesany beserta suaminya makan malam di rumah utama!" tegas Jeje seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Xander ingin melayangkan protes akan tetapi Jeje sudah menatapnya dengan sangat tajam, membuatnya tidak berkutik lagi.