
Langit pada pagi hari itu terlihat sangat mendung. Jeesany menengadahkan kepalanya menatap langit yang seolah ikut berkabung. Jeesany tidak berhenti meneteskan air matanya saat menyaksikan kepergian teman baiknya untuk selamanya.
Jeesany menatap gundukan tanah yang masih basah. Air matanya kembali mengalir deras, di sampingnya ada Risya yang sama terpukulnya seperti dirinya, kehilangan teman terbaik mereka.
Entah apa yang membuat temannya itu mengakhiri hidupnya dengan tragis seperti ini. Jika di lihat, selama ini kehidupan Bela terlihat baik-baik saja.
Tidak ada suatu kekurangan apa pun di kehidupan temannya itu. Dan keluarga Bela pun belum memberikan klarifikasi atas meninggalnya Bela.
Risya dan Jeesany menaburkan kelopak bunga mawar di atas pembaringan terakhir Bela.
Meri dan Herman merasakan kesedihan yang luar biasa. Jika saja mereka tidak memutuskan untuk berpisah, putrinya tidak mengakhiri hidupnya seperti ini.
Namun semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Segalanya yang sudah terjadi tidak mungkin bisa di kembalikan lagi.
Pemakaman Bela sudah selesai. Satu persatu orang yang ada di pemakaman itu mulai membubarkan diri. Tidak terkecuali Jeesany dan Risya.
__ADS_1
*
*
*
Jeesany, Risya dan kedua orang tua mereka kembali ke rumah Bela.
Jeesany menatap Langit dan rombongan dosen lainnya yang baru sampai, karena mereka juga baru mendapatkan kabar meninggalnya Bela.
Langit juga menatap Jeesany yang terlihat tidak baik-baik saja, ingin sekali ia mengusap air mata yang mengalir deras di pipi mulus itu. Dan ia juga sangat ingin memeluk kekasihnya, menenangkan dan memberikan bahu untuk bersandar, akan tetapi dirinya harus menahan semuanya, karena karier dan status Jeesany yang menjadi mahasiswinya di pertaruhkan.
Risya dan Jeesany duduk di luar tepatnya di bawah tenda biru. Begitu pula dengan orang tua mereka ikut duduk di sana. Sedangkan para dosen masuk ke dalam rumah mewah tersebut untuk belasungkawa.
Langit membeku di tempat saat melihat Tante Meri ada di hadapannya. Ia tidak menyangka jika wanita itu adalah ibunya Bela.
__ADS_1
Begitu pula dengan Meri merasakan hal yang sama. Ia juga tidak menyangka jika Langit adalah seorang dosen. Walaupun Langit berpenampilan culun dan memakai kaca mata tebal, ia masih tetap bisa mengenali Langit.
Langit dan Meri saling berjabat tangan. Namun Langit dengan cepat melepaskan tangannya itu, tidak lupa mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya, kemudian ia segera keluar dari rumah tersebut dan mendudukkan diri di samping Jeesany.
“Sany, gue nggak nyangka kalau Bela pergi secepat ini. Tadi malam kita masih tertawa bersama. Dia terlihat baik-baik saja ‘kan? Dan kenapa menjadi seperti ini, hikss ...” Risya tidak kuasa menahan tangisnya.
Jeesany mengusap air matanya dengan cepat, lalu memeluk temannya dengan erat, saling menguatkan.
“Kekasih Bela sudah tahu?” tanya Jeesany dengan suara serak.
“Iya, tadi pagi langsung terbang ke Indonesia,” jawab Risya di sela tangisnya.
Langit hanya bisa memandang dua gadis yang sedang berpelukan itu. Sean yang duduk tidak jauh dari sana menatap Langit dengan tajam, akan tetapi Langit membalasnya dengan senyuman.
Irene menyenggol tangan suaminya saat mengetahui jika Sean menatap Dosen putrinya.
__ADS_1
“Jangan macam-macam kamu!” Irene memberikan ultimatum kepada suaminya.
“Iya,” jawab Sean pasrah lalu menundukkan kepalanya.