
"Sany, kamu dari mana?" tanya Irene kepada putrinya yang memasuki rumah pada malam hari itu.
Tubuh Jeesany menegang saat mendapat pertanyaan dari ibunya. Di dalam kantong celananya ada pil kontrasepsi yang baru ia beli dari apotek terdekat. Ia menelan ludahnya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
"A-aku baru dari apotek untuk membeli obat sakit kepala, mungkin karena kehujanan tadi membuat kepalaku menjadi migrain," jawab Jeesany sambil memijat kepalanya bagian kanan, agar lebih menyakinkan ibunya.
"Sudah dapat obatnya? Kenapa tidak bilang kepada Bunda?" Irene berubah menjadi cemas.
"Aku pikir Bunda dan Ayah sudah tidur, makanya aku keluar rumah sendirian. Kalau begitu aku masuk ke kamar dulu, mau istirahat," ucap Jeesany, segera beranjak menuju kamarnya, sebelum ibunya melontarkan pertanyaan lainnya.
Sampai di dalam kamarnya, Jeesany langsung mengambil pil kontrasepsi dan segera meminumnya sesuai dengan anjuran yang tertera pada balik kemasan pil kontrasepsi itu.
Jeesany lalu menyembunyikan pil tersebut ke bawah tempat tidurnya, agar aman dari jangkuan ibunya.
CEKLEK
Pintu kamar Jeesany terbuka dari luar, Irene memasuki kamar putrinya sembari membawa secangkir teh hangat.
"Bunda bikin kaget," ucap Jeesany kepada ibunya yang menatap heran ke arahnya.
"Kaget kenapa?" tanya Irene, meletakkan secangkir teh itu di atas nakas.
"Aku tadi mau berganti pakaian, tapi Bunda main masuk saja ke dalam kamarku, he he he," jawab Jeesany, tersenyum tipis di ujung kalimatnya.
__ADS_1
"Maaf, tadi Bunda terlalu cemas, itu teh hangatnya segera di minum," ucap Irene, lalu mendekati putrinya, menyentuh kening Jeesany dengan punggung tangannya.
"Badanmu sedikit hangat. Segera ganti baju dan istirahat, jangan lupa minum teh hangatnya itu," ucap Irene sebelum keluar dari kamar putrinya.
"Iya, Bunda," jawab Jeesany, bernafas lega saat ibunya sudah keluar dari kamarnya. "Untung saja tidak ketahuan," gumam Jeesany seraya melirik tempat tidurnya.
*
*
*
Pagi hari telah menyapa, hari libur adalah waktu yang tepat untuk bermalas-malasan, tapi tidak untuk Langit pria itu saat ini sedang membantu adiknya membereskan rumah.
"Baiklah," jawab Langit, mulai mengerjakan tugas dari adiknya.
Bulan menghempiri ibunya duduk di kursi roda. "Ibu kenapa menangis?" tanya Bulan kepada ibunya meneteskan air mata.
"Kasihan Kakak kamu," ucap Jingga kepada putrinya.
Bulan mengalihkan pandangannya, menatap Langit yang bersemangat mengepel lantai. Bulan jadi ikut merasa sedih melihat kakaknya. Kemudian ia beranjak dan mengambil alih pekerjaan Langit.
"Kakak istirahat saja," ucap Bulan seraya merebut alat pel yang di pengang oleh Langit.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu yang seharusnya beristirahat," tolak Langit, berusaha untuk merebut alat pel itu lagi, namun Bulan tidak mengizinkannya.
"Kakak ngepelnya tidak bersih! Sudah sana!" Bulan pura-pura marah.
"Masa iya?" Langit memperhatikan sekitarnya. Ia menaikkan kedua bahunya, lalu beranjak dan duduk di dekat ibunya.
"Ibu, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Langit, menatap ibunya yang juga tengah menatapnya dengan intens.
"Lang, usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah. Ibu ingin kamu--"
"Bu, aku lupa hari ini ada janji dengan Satria," ucap Langit seraya beranjak, lalu berjalan menuju kamarnya.
Jingga menghela nafas panjang, putranya itu selalu mengalihkan pembicaraan jika membahas mengenai jodoh. Ia menjadi merasa bersalah kepada putranya, karena selama ini putranya itu terlalu fokus dengan dirinya yang selama ini sakit-sakitan.
"Tenang saja, Bu, Kakak sebentar lagi pasti mendapatkan jodoh dan menikah," ucap Bulan kepada Ibunya yang merasa bersalah dan resah.
"Amin." Jingga mengaminkan ucapan putrinya.
***
Tenang Tante, sebentar lagi Langit akan mempunyai istri, semoga saja. 😄
Jangan lupa vote, komentar, like, dan kasih gift semampunya saja. Terima kasih🥰
__ADS_1