
Hari sudah petang. Langit baru selesai mengajar. Dan Jeesany dengan setia menunggu suaminya sejak siang di perpustakaan sambil mengerjakan tugasnya.
"Sudah selesai?" tanya Langit yang menemui istrinya di perpustakaan. Ia melihat Jeesany sedang mengerjakan tugas darinya.
"Menurutmu?!" Jeesany mendengus kesal karena tugas yang di berikan Langit sangat sulit membuat otak bodohnya menjadi kram.
Langit tertawa pelan lalu mendudukkan dirinya di hadapan Jeesany, lalu meletakkan tas dan juga buku yang ia bawa di atas meja.
"Mana yang sulit aku akan menjelaskannya," ucap Langit menatap wajah cantik istrinya dengan penuh cinta.
"Semunya!" ketus Jeesanya sembari menggeser buku yang ada di hadapannya ke arah Langit.
"Ya ampun, ternyata otakmu ini kerdil," cibir Langit , membuat Jeesany semakin kesal. "Hei, aku hanya bercanda," ucap Langit sambil tertawa pelan.
"Huh! Aku tidak mau mengerjakannya!" sewot Jeesany.
"Kamu harus mengerjakannya jika ingin mendapatian nilai," jawab Langit menatap datar istrinya.
"Kenapa tidak kamu saja? Bukankah kamu ini suamiku? Sebagai suami harus membantu istrinya yang sedang kesulitan," ucap Jeesany dengan nada berbisik sambil melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Ini beda jalur, Jee," jawab Langit, menolak membantu istrinya.
"Baiklah kalau begitu. Padahal aku berniat memberikan jatah untukmu, tapi karena kamu menyebalkan maka aku akan membatalkannya!" ucap Jeesany sambil membereskan semua bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
Mendengar ucapan Jeesany, Langit pun pada akhirnya menahan salah satu tangan istrinya. "Berikan aku dua ronde maka aku akan mengerjakan tugasmu," ucap Langit dengan nada pelan.
Jeesany menipiskan bibirnya saat mendengar permintaan suaminya. "Dasar licik! Tapi, karena aku istri yang baik maka aku akan mengabulkan permintaanmu," jawab Jeesany lalu mendudukkan dirinya lagi di kursinya.
Langit tersenyum mesum, lalu segera mengerjakan tugas istrinya dengan sangat cepat, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja.
Jeesany menatap kagum kepada suaminya yang mengerjakan tugasnya dengan cepat, padahal dirinya sendiri bisa membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengerjakannya.
"Kita harus segera pulang, karena tiger sudah tidak sabar memakanmu," bisik Langit sambil mengerling nakal.
Jeesany menelan ludahnya dengan kasar saat melihat kemesuman suaminya. "Sepertinya malam ini aku akan begadang," batin Jeesany sambil membereskan bukunya kemudian ia segera beranjak mengikuti suaminya yang sudah keluar dari perpustakaan lebih dulu.
*
*
__ADS_1
*
Jeesany dan Langit sudah berada di dalam mobil. Mereka bersiap untuk pulang tapi sebelum itu Langit meminta jatah ciuman dulu kepada istrinya.
"Kita masih berada di area kampus, bisa bahaya jika ada yang melihatnya," tolak Jeesany.
"Tidak ada yang melihatnya, Sayang. Karena kaca mobil ini gelap jika di lihat dari luar," jawab Langit sambil memonyongkan bibirnya.
Kalau sudah begini mana bisa ia menolak keinginan suaminya. Dengan perlahan dirinya memajukan wajahnya, lalu melabuhkan kecupan lembut di permukaan bibir suaminya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Langit langsung menekan tengkuk Jeesany untuk memperdalam ciumannya.
"Emh ..." Lenguh Jeesany saat lidah Langit menelusup masuk ke dalam rongga mulutnya.
Langit mellumat bibir istrinya dengan sangat buas dan salah satu tangannya tidak mau diam. Menyentuh dan meremas bukit kembar Jeesany dengan sangat gemas, hingga Jeesany melenguh dan mendesaah tertahan di buatnya.
"Jangan di sini. Kita lanjutkan di rumah nanti," ucap Jeesany yang masih bisa mengendalikan gairahnya.
Langit yang sudah menyibakkan kemeja Jeesany ke atas pun menghentikan gerakannya. "Aku hanya ingin merasakan ini," jawab Langit seraya memilin pucuk dada istrinya dengan sangat gemas, kemudian ia menundukkan kepalanya dan mencaplok pucuk dada istrinya dengan sangat rakus.
__ADS_1
***
Gerah aja ya nggak jadi panas🤣🤣🤣