Boy For Rent

Boy For Rent
Calon masa depan


__ADS_3

Jeesany membulatkan mulutnya ketika melihat Langit berjalan ke arahnya. Dengan cepat dirinya mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya, kemudian ia juga mengambil tasnya, perlahan dirinya pun segera beranjak dari sana namun di cegah oleh Bela.


"Sany, lo mau ke mana?" Bela menahan tangan Jeesany.


"Sttt! Diam, gue mau pergi!" bisik Jeesany dengan nada kesal sembari menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Bela dan Risya menatap ke arah Langit yang berjalan ke arah meja yang di samping mereka, lalu beralih menatap Jeesany.


"Please, biarkan gue pergi." Jeesany kepada kedua temannya itu dengan tatapan memohon. Ia sudah tidak ingin berurusan dengan dosen killer-nya itu. Jadi sebisa mungkin dirinya segera menghindar.


"Oke!" jawab Bela dan Risya bersamaan, membiarkan Jeesany pergi dari sana sebelum Langit mengetahui keberadaannya.


"Jadi ini Kafe kamu?" Langit bertanya kepada Satria ketika mereka sudah duduk di salah satu meja yang mereka tuju, tepat di sebelah meja kedua teman Jeesany.


"Iya," jawab Satria.


"Kamu bisa bekerja di sini nantinya, tapi aku tidak bisa memberikan jabatan dan gaji yang tinggi," jelas Satria.


Langit tersenyum tipis lalu mengangguk, "tidak masalah, Sat. Aku malah banyak berterima kasih kepadamu karena selalu membantuku," jawab Langit.

__ADS_1


"Kafe ini buka 24 jam, jadi kamu bisa bekerja paruh waktu setelah selesai mengajar," ucap Satria.


Bela dan Risya pura memaninkan ponsel padahal mereka sedang menguping pembicaraan kedua pria itu. Beruntung posisi dua gadis itu membelakangi Langit, jadi dosennya itu tidak menyadari keberadaan mereka berdua.


Jeesany menghembuskan nafas lega saat sudah keluar dari Kafe tersebut. "Huh! Untung saja aku cepat menghindar," ucap Jeesany lalu segera memesan taksi online, ia ingin pulang ke rumahnya. Apalagi hari sudah semakin siang, dan dirinya juga mempunyai janji untuk menemani ibunya datang ke arisan keluarga.


*


*


"Ternyata dosen kita ini akan bekerja paruh waktu. Sungguh pekerja keras, Jeesany beruntung sekali mempunyai kekasih seperti dia," ucap Risya dengan nada berbisik.


"Iya, sih, tapi killer," sahut Bela sembari bergidik ngeri.


"Ish!! Bacot!" kesal Bela karena temannya itu kalau berbicara pasti menjuru ke sana.


"Gue 'kan cuma bertanya, memangnya salah?" ucap Risya memanyunkan bibirnya kesal. "Eh, By the way, temannya pak dosen lumayan juga," lanjut Risya tertawa cekikikan, sembari menoleh sedikit belakang, mencuri pandang ke arah Satria.


Bela menatap sebal kepada temannya itu. "Kita pulang saja, Yuk!" ajak Bela lalu segera beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Risya.

__ADS_1


"Lo nggak seru banget! Padahal gue 'kan belum puas melihat temannya pak dosen itu!" sungut Risya, merajuk.


Bela menggeleng pelan, malas menanggapi ucapan temannya.


"Bela! Tunggu!!" seru Risya dengan suara yang lantang saat Bela berjalan meninggalkannya.


Suara Risya yang lantang membuat seisi Kafe tersebut menoleh ke arahnya. Termasuk Langit dan Satria.


Langit mengernyit karena merasa kenal dengan dua gadis yang saat ini berjalan beriringan menuju pintu keluar Kafe tersebut.


"Mereka 'kan—" Langit tidak melanjutkan ucapannya, namun kedua matanya mengedar ke setiap sudut Kafe tersebut.


"Kamu mencari siapa?" tanya Satria dengan heran.


"Calon masa depan," jawab Langit, kedua matanya masih mengedar ke seluruh Kafe tersebut. Yang di carinya tidak ada, ia pun kembali fokus kepada Satria.


Satria tersenyum dan menatap temannya itu dengan penuh selidik.


****

__ADS_1


Pak Dogan kayaknya serius sama Jeesany 😅😅


Jangan lupa like, komentar, vote dan kasih Gift seikhlasnya ya❤❤


__ADS_2