
Irene menatap ponselnya dengan tatapan tidak menentu. Perasaannya sedikit lega saat mendengar suara putrinya, namun tidak menghilangkan perasaan cemasnya.
“Bagaimana, Bun?” tanya Sean kepada istrinya.
“Sany pasti marah dan kecewa dengan kita. Ini semua karena Ayah!” Irene menatap tajam suaminya.
“Iya, maafkan aku, Bunda. Sekarang Sany ada di mana?” ucap Sean sekaligus bertanya.
Irene menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sean mengusap wajahnya dengan kasar. “Sebaiknya hubungi teman-temannya lebih dulu,” ucap Sean, lalu pasangan suami istri segera keluar dari Kafe tersebut.
*
*
*
“Kamu yakin ingin menginap di Hotel ini?” tanya Langit yang kini mengantarkan Jeesany sampai di depan pintu kamar hotel Jeesany.
“Iya,” jawab Jeesany singkat.
Langit tidak mencegah Jeesany lagi, jika di lihat gadis itu saat ini sedang sangat terpukul.
“Apakah pria di Kafe tadi akan di jodohkan denganmu?” tanya Langit kepada Jeesany yang membuka pintu kamar hotel tersebut.
“Iya,” jawab Jeesany pelan.
Langit mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendapatkan jawaban dari Jeesany.
__ADS_1
Pintu kamar hotel sudah terbuka. Jeesany menatap Langit sambil tersenyum tipis.
“Terima kasih atas bantuan Anda, Pak,” ucap Jeesany, tulus.
Langit mengangguk dan tersenyum tipis, lalu menatap Jeesany dengan dalam.
“Kalau begitu Bapak pulanglah.” Bukan berniat mengusir akan tetapi Jeesany ingin segera berendam di air dingin, seluruh tubuhnya masih merasa sangat gatal, walau pun tidak separah sebelumnya, mungkin karena sudah meminum obat dari dokter membuat rasa gatal di tubuhnya berkurang.
“Jee--” Langit menahan pintu kamar hotel yang akan di tutup Jeesany.
“Ada apa?” tanya Jeesany.
Langit mendorong pintu tersebut dengan kuat, kemudian ia segera masuk ke dalam kamar hotel itu, membuat Jeesany melotot lebar.
“Apa yang Bapak lakukan?!” pekik Jeesany saat melihat Langit mengunci kamar hotelnya.
“Jee, kenapa kamu begitu mudahnya melupakan malam itu?” tanya Langit pelan.
Jeesany menggigit bibir bawahnya, dan perasaannya kini mulai tidak karuan. Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena pada kenyataannya dirinya juga tidak bisa melupakan malam panas dengan pria yang ada di hadapannya ini.
“Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak membahas semua ini,” jawab Jeesany dengan dada yang berdegup sangat kencang.
“Tapi jika aku tidak ingin melupakannya bagaimana?” ucap Langit lagi.
Melangkahkan kakinya ke depan, mendekati gadis yang ada di hadapannya itu, akan tetapi Jeesany semakin mundur menjauhi Langit.
“Jadi mau Bapak apa?” tanya Jeesany, lalu menelan ludahnya dengan kasar, tidak seharusnya dirinya melontarkan pertanyaan yang mungkin saja bisa menjebak dirinya sendiri.
__ADS_1
“Aku ingin kita mengulang malam panas itu lagi,” jawab Langit tersenyum miring.
“What!! Dasar mesum!” umpat Jeesany dengan perasaan kesal dan emosi.
“Kamu ‘kan bertanya dan aku menjawab,” ucap Langit sambil terkekeh pelan.
“Dasar gila!” umpat Jeesany lagi.
Langit kembali memasang wajah datar.
“Sekali lagi mengumpatiku, maka nilaimu akan aku pangkas habis!”
“Dasar dosen killer, beraninya mengancam!” kesal Jeesany di dalam hati.
“Lebih baik, Bapak segera pergi dari ini, aku ingin beristirahat,” usir Jeesany.
“Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban darimu,” ucap Langit, tidak beranjak sedikit pun dari posisinya, manik tajam itu juga masih menatap Jeesany dengan dalam.
“Jawaban apa?” tanya Jeesany bingung.
“Kamu harus mau menjadi kekasihku!” jawab Langit dengan datar dan tanpa ekspresi.
“Hahhhhhhhh!”
***
3 bab hari ini, jangan lupa vote-nya di keluarin semua❤❤
__ADS_1