Boy For Rent

Boy For Rent
Ekstra Part 8


__ADS_3

Selama perjalanan menuju rumah sakit. Jeesany terus mengaduh kesakitan sambil mencengkram tangan suaminya dengan erat. “Bunda, sakit sekali, Bunda. Aku minta maaf kalau aku punya salah pada Bunda dan Ayah.


Sayang, maafkan aku ya.” Jeesany mengucapkan kata maaf kepada suami dan kedua orang tuanya.


Ternyata seperti ini saat akan melahirkan buah hati. Rasanya sungguh sakit tiada terkira, dia menjadi teringat dengan semua kesalahan yang selama ini dia perbuat pada orang tuanya.


“Iya, iya, Bunda dan Ayah memaafkanmu, semoga persalinannya lancar, Sayang,” ucap Irene sambil mengusap perut putrinya dengan penuh kelembutan. Kedua matanya berkaca-kaca, ia tidak kuasa menahan tangisnya saat melihat putrinya kesakitan.


“Ayah, bisa lebih cepat lagi?” pinta Langit kepada Ayah mertuanya yang mengemudikan mobil. Langit mengecupi tangan istrinya lalu beralih mengusap perut istrinya, tidak lupa dia mengucapkan kata-kata penyemangat kepada Jeesany, hanya itu yang bisa di lakukannya saat ini. Karena dukungan moril juga sangat dibutuhkan oleh istrinya.


Sean menambah kecepatan mobilnya menuju rumah sakit. Dia mencoba untuk tetap tenang, meskipun dadanya berdegup dengan kencang saat mendengar dan melihat putrinya kesakitan. Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Jeesany segera di bawa ke ruang bersalin, karena air ketubannya sudah pecah.


Langit menemani istrinya di ruang bersalin. Dia menyaksikan betapa tersiksanya istrinya yang akan melahirkan buah hatinya. Pria itu sampai tidak tahan menahan air matanya.


Di luar sana Irene memberikan kabar kepada Jingga dan juga keluarga Clark jika Jeesany akan melahirkan di rumah sakit X.

__ADS_1


Kembali lagi pada ruang bersalin. Langit menangis haru saat istrinya sudah berhasil melahirkan buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki. Kebahagiaan dan rasa haru membuncah di dada. Langit tidak hentinya mengucapkan banyak terima kasih kepada istrinya yang kini sudah terlihat sangat lemas.


Bayi mereka lahir dengan selamat dan tanpa kekurangan apa pun. Dan saat ini sedang di bersihkan oleh perawat. Suara tangisan bayi itu memekakkan telinga, namun sungguh bahagia saat mendengarnya.


Irene dan Sean berpelukan saat mendengar suara tangisan dari ruang bersalin itu. “Kita sudah jadi Opa dan Oma,” ucap Irene kepada suaminya.


“Iya, aku bahagia sekali,” jawab Sean seraya menyusut sudut matanya yang terasa basah.


Jingga dan Bulan sampai di rumah sakit di antarkan oleh Satria. Mereka langsung menuju ruang bersalin.


“Cucu kita sudah lahir, Mbak!” jawab Irene penuh kebahagiaan lalu memeluk besannya dan saling mengucapkan selamat atas status baru yang mereka dapatkan.


“Aku jadi Aunty dong!” Bulan ikut bahagia mendengarnya, dia juga sudah tidak sabar ingin melihat keponakannya.


Tidak berselang lama. Langit keluar dari ruang bersalin itu dengan perasaan bahagia.


“Bagaimana dengan bayi kalian dan Jeesany?” tanya Irene kepada menantunya.

__ADS_1


“Mereka baik-baik saja, Bunda,” jawab Langit bahagia.


“Anak ibu sudah jadi seorang ayah, selamat ya. Jangan lupa jadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anakmu.” Jingga memberikan petuah kepada putranya.


“Iya, Bu, terima kasih.” Langit memeluk ibunya dengan erat, lalu beralih memeluk adiknya.


“Selamat ya, Bro!” Satria dan Langit bertos dengan gaya khas anak muda.


“Terima kasih, Sat!” Langit menepuk pundak temannya itu beberapa kali.


Kini giliran Sean dan Irene yang mengucapkan selamat untuk menantunya itu.


“Sudah jadi Bapak sekarang, bagaimana rasanya?” tanya Sean kepada menantunya.


“Luar biasa, Ayah,” jawab Langit dengan raut wajah yang cerah.


Sean tersenyum lalu memeluk menantunya sesaat.

__ADS_1


__ADS_2