Boy For Rent

Boy For Rent
Garis dua


__ADS_3

Sean mengepalkan kedua tangannya kuat, dan rahangnya pun mengeras saat mengetahui pria yang sudah merenggut kesucian putrinya.


"Tapi, aku mencintainya," lirih Jeesany, menangis sesegukan. Ia kini bersimpuh di hadapan orang tuanya, dan meminta maaf yang sedalam-dalamnya.


"Sebaiknya kamu segera di periksa oleh dokter kandungan, mana tahu saat ini kamu mengandung anaknya," ucap Irene sambil menghapus air matanya. Ia berusaha untuk menerima cobaan yang di berikan kepada keluarganya. Meskipun itu sangat sulit, namun ia harus tetap berlapang dada.


"Dan masalah ini jangan sampai terdengar ke rumah utama." Irene berkata kepada suaminya yang sejak tadi diam menahan emosi. "Di sini kita juga berasalah karena kita sebagai orang tua terlalu memberikan kebebasan kepada putri kita. Andai saja kamu mendengarkan perkataanku selama ini, ini semua tidak akan pernah terjadi," lanjut Irene kepada suaminya.


Sean mengendurkan kedua bahunya yang sejak tadi menegang, ia menghela nafas kasar. "Aku akan memanggil Ricky ke sini," ucap Sean lalu menatap putrinya dengan sangat tajam.


"Berdirilah!" sentak Sean kepada putrinya.


Dengan tubuh yang bergetar, Jeesany segera beranjak dan berdiri dari bersimpuhnya.


Rasanya Sean ingin menampar wajah putrinya sekali lagi. Namun sebisa mungkin ia menahan rasa emosinya itu.


*


*

__ADS_1


Sean sudah menghubungi Dokter Ricky untuk memeriksa Jeesany. Dan tidak berselang lama Dokter tersebut sudah berada di rumahnya dengan perasaan sangat cemas.


"Kamu membuatku jantungan, Se!" omel Ricky ketika memasuki rumah mewah tersebut.


"Cepat periksa Sany, Om." Sean tidak ingin mendengarkan ocehan Ricky.


Saat Ricky berjalan menuju kamar Jeesany, Sean mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Bawa dia ke sini! Aku sendiri yang akan memberikan pelajaran kepadanya!" setelah mengatakan hal tersebut, Sean mematikan sambungan teleponnya. Kemudian berjalan menuju kamar Jeesany, di mana Ricky tengah memeriksa putrinya.


"Bagaimana?" tanya Irene kepada Ricky, bersamaan dengan Sean masuk ke dalam kamar Jeesany.


Jeesany meremat kedua tangannya bergantian, ia berharap hasil tes kehamilan yang baru saja ia lakukan itu negatif.


"Garia dua," jawab Ricky lalu menunjukkan benda pipi tersebut kepada ketiga orang yang ada di dalam kamar itu.


"Tidak mungkin!" Jeesany menggelengkan kepalanya berulang kali.


Irene dan Sean berusaha untuk tabah dan tegar menghadapi semua ini.


"Aku sarankan besok kamu harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu," ucap Ricky sambil memberikan vitamin kehamilan kepada Jeesany.

__ADS_1


"Om, aku meminum pil ini, tapi kenapa masih bisa hamil?" tanya Jeesany sambil menunjukkan pil kb yang tergeletak di atas nakas.


"Semua terjadi atas kuasa Tuhan. Lain kali jangan bermain dengan burung rajawali jika tidak ingin di patuk," jawab Ricky nyeleneh.


Sean menatap tajam Ricky karena bisa-bisa dalam keadaan tegang seperti ini masig bisa melawak.


"Oke, aku permisi dulu. Di jaga kandungannya dengan baik karena janin itu tidak bersalah. Dan untuk kalian berdua, selamat ya karena sebentar lagi akan menjadi opa dan oma," jawab Ricky lalu segera melarikan diri sebelum mendapatkan bogem mentah dari Sean.


Irene menatap putrinya yang terduduk di tepian tempat tidur sambil menundukkan kepalanya.


"Sudah senang dan puas melihat hati kedua orang tuamu hancur!" bentak Irene, dengan berderai air mata.


"Bunda, hikss ..." Jeesany hanya bisa menangis menyesali semua yang sudah terjadi.


****


Masih ingat dengan dokter Ricky? Mampir kelapaknya di Fizzzooooo


__ADS_1


__ADS_2