
PLAK!
Sean menampar putrinya yang baru memasuki rumah. Jeesany terlihat terkejut sembari memegangi pipinya yang terasa sakit dan perih.
"Ayah, kenapa menamparku?" tanya Jeesany dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Pandangannya kini beralih pada ibunya yang tampak menangis di belakang Sean.
Sebenarnya ada apa ini? Jeesany bertanya-tanya di dalam hati.
"Kamu masih bertanya kenapa?!" bentak Sean dengan keras, lalu melemparkan benda yang sejak tadi berada di genggaman tangan kirinya ke wajah Jeesany.
Jeesany terkesiap lalu menatap nanar benda yang kini teronggok di dekat kakinya. "I-ini ..." Jeesany berjongkok lalu mengambil benda tersebut yang tidak lain adalah pil kb.
"Jelaskan! Kenapa benda itu berada di dalam kamarmu!" Sean menuntut penjelasan sembari menatap putrinya dengan sangat tajam.
Jeesany terdiam, jantungnya kini berdegup sangat kencang. Rasa takut dan rasa bersalah kini menyelimutinya. Ia menggigit bibir mungilnya yang terasa bergetar, ia tidak tahu harus menjelaskan semua ini.
"Bunda kecewa sama kamu!" Irene bersuara di sela tangisnya.
"Bunda, Ayah, ini ..." Jeesany tidak melanjutkan ucapannya, terlalu menyakitkan jika kedua orang tuanya mengetahui semuanya, akan tetapi ia tetap harus berkata jujur.
__ADS_1
"Ayah dan Bunda selama ini memberikan kebebasan untukmu karena kami yakin jika kamu bisa menjaga dan melindungi dirimu sendiri!" terang Sean dengan penuh kekecewaan.
"Maaf, Ayah, Bunda," jawab Jeesany, menangis lirih.
"Lalu siapa pria itu?" tanya Irene yang kini berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Pria itu adalah ..."
*
*
*
"Belajar yang rajin," ucap Langit sambil tersenyum kepada adiknya.
"Pastinya aku akan belajar dengan rajin agar bisa membanggakan Kakak," jawab Bulan penuh semangat.
Jingga berjalan perlahan sambil membawa segelas air putih untuk putranya yang baru pulang bekerja.
__ADS_1
"Minum dulu, Nak," ucap Jingga, ketika meletakkan segelas air putih di atas meja tepat di hadapan Langit.
"Bu, tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Langit kepada ibunya. Ia melihat ibunya sudah bisa berjalan kembali saja susah bersyukur luar biasa.
"Ini hanya air putih saja. Lagi pula ibu sudah sehat dan bisa beraktivitas seperti sedia kala," jawab Jingga yang kini duduk di samping Bulan.
Langit tersenyum lalu meminum air putih tersebut hingga tandas, "airnya segar sekali," ucap Langit, meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.
"Bu, jangan terlalu lelah. Walau pun ibu sudah sehat, tapi aktivitas masih harus di batasi. Ada kami, anak ibu yang akan selalu ada untuk ibu, jadi ibu jangan terlalu khawatir dan terlalu memikirkannya," ucap Langit kepada ibunya dengan lembut.
"Terima kasih, ibu sangat beruntung dan bersyukur karena mempunyai anak-anak yang baik dan berbakti seperti kalian," ucap Jingga sambil menghapus air matanya karena ia merasa tehaharu
"Itu sudah menjadi tugas kami, Bu," jawab Langit.
"Lang, masalah hutang untuk biaya operasi ibu itu bagaimana?" tanya Jingga.
Tubuh Langit tiba-tiba menegang saat mendengar pertanyaan ibunya, namun ia sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Ibu tenang saja, aku sudah mencicilnya setiap bulannya. Ibu jangan memikirkannya, ini sudah menjadi tanggung jawabku," lanjut Langit.
__ADS_1
Meski ia berbohong, namun ia melakukan semua ini demi kebaikan dan kesehatan ibunya.